Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Di gigit serangga



Setelah berendam Zea merasa tubuhnya sedikit lebih segar, rasa sakit di pangkal pahanya pun kian membaik. Meski sedikit tertatih Zea berhasil keluar kamar mandi dan berganti pakaian. Juga juga bisa turun ke dapur meski langkahnya sangat pendek.


"Apa aku sedang berkhayal?" gumam Zea saat dia melihat Sam sedang memasak di dapur. Zea terpaku di tempatnya sambil menggosok mata karena dia mengira jika dia sedang mengkhayal. Sangat mustahil seorang Samuel Haris Wijaya memasak untuknya dengan suka rela.


Sam menyadari kedatangan Zea, pria itu menoleh dan heram melihat istrinya melamun. "Cepat duduk, sarapannya sudah siap!"


"Eh," Zea bergeming sambil mengedipkan matanya dengan cepat.


"Zea, aku menyuruhmu duduk!"


"Eh, iya uncle."


Zea lalu duduk, dia semakin tercengang saat Sam menyiapkan sarapan tepat di depan matanya, pria itu bahkan menuangkan susu untuknya.


"Cepat makan, kita ke kampus bersama!"


Zea hanya mengangguk, rasanya seperti sedang bermimpi. Gadis itu sampai mencubit lengannya sendiri dan terasa sakit. Oh my god, jadi ini bukan mimpi. Zea bersorak dalam hati, namun dia tak ingin memperlihatkan rasa senangnya di depan Sam, dia harus bersikap biasa saja.


Mengajak tidur dan bercinta, membantu berjalan ke kamar mandi, menyiapkan sarapan dan berangkat ke kampus bersama, Zea masih tak percaya jika pria yang duduk di sebelahnya adalah Sam. Zea menoleh dan menatap Sam dengan seksama, dia khawatir jika sebenarnya yang duduk di sebelahnya adalah jelmaan ataupun sosok makhluk gaib yang merasuki Sam.


"Apa aku sangat tampan?" ucap Sam penuh percaya diri.


"Eh," Zea tak mengerti dengan maksud ucapan Sam.


"Sejak tadi kau tak berhenti menatapku Ze!" jelas Sam, pria itu melirik istrinya sekilas dan kembali fokus pada jalanan di depannya.


Zea menggatuk lehernya yang tidak gatal, dia salah tingkah karena tertangkap basah sedang menatap suaminya. "Zea hanya takut kalau uncle bukan uncle Sam," jawab Zea dengan jujur.


"Apa maksudmu kalau uncle bukan uncle Sam?"


"Sejak semalam uncle sangat baik, uncle tidak sedang kerasukan kan?


Sam terkekeh, tangan kirinya terulur dan mengusap kepala Zea dengan lembut. "Aku sudah berjanji akan memperlakukanmu dengan baik, aku sedang belajar, jadi aku harap kau mengerti jika aku belum bisa melakukannya dengan benar," ucap Sam penuh penegasan.


"Jangan terlalu di paksa uncle. Asal uncle tidak menemui wanita itu lagi, Zea akan baik-baik saja."


"Maksud Zea bertemu secara diam-diam..Zea bukan tipe pecemburu yang akan menggila hanya karena uncle berpapasan bu Feli di kampus. Ini kesempatan kedua dari Zea, jika uncle melanggarnya maka Zea akan benar-benar pergi!"


"Ya Ze, aku janji!"


.


.


Di kantin kampus, Zea sedang makan siang bersama Clara dan Dave. Seperti biasa, kedua mahasiswa asing itu jauh-jauh datang ke gedung kampus Zea hanya untuk makan siang. Ketiga sahabat itu menikmati makan siang mereka dengan hikmat.


Namun rupanya sejak tadi Clara memperhatikan Zea secara diam-diam, tanda merah keunguan di leher Zea membuat otak Clara berimajinasi. Apalagi saat Clara melihat cara Zea berjalan, gadis itu sungguh memiliki fantasi liar.


"Ze, lehermu kenapa?" tanya Clara yang sengaja memancing Zea, dia ingin tau apa jawaban sahabatnya itu.


Zea terlihat gugup, gadis itu meraih botol air mineral dan meminumnya, dia lalu mengusap lehernya yang memerah. "Ah ini, ada serangga di kamarku. Kemarin aku tersengat," jawab Zea penuh kebohongan. Semalam dia memang tersengat namun bukan serangga melainkan sengatan belut listrik milik suaminya, sengatan itu bahkan memiliki efek samping seperti jantung berdetak lebih cepat, nafas yang membutu, rasa sakit di bagian tubuh tertentu dan setelahnya rasa nikmat yang tiada tara. Ah Zea meremang saat mengingat semalam dia dan Sam melakukan penyatuan.


"Pasti serangganya sangat besar ya," ujar Clara dengan senyum penuh arti. Sementara itu Dave hanya bisa diam, sebagai lelaki normal dia tentu tau tanda merah di leher Zea. Pria itu semakin merasa jauh dari Zea, jika Zea dan Sam sudah melakukannya bukankah berarti Sam sudah mencintai Zea, dan artinya dia harus benar-benar melepaskan Zea.


Zea tak menjawab lagi, gadis itu memeriksa jam tangannya dan segera merapikan tasnya. "Lima menit lagi aku ada kelas, aku duluan ya!" Zea berlari meninggalkan kedua temannya, bukan karena buru-buru karena sebentar lagi kelasnya akan di mulai, Zea hanya merasa sangat malu karena Clara pasti tau serangga yang di maksud Zea.


Sementara itu Dave menatap tak rela kepergian Zea, pemuda itu mendesaah kesal, cinta sepihaknya benar-benar menyakitkan.


"Beri tau dia, lalu lupakan dia," ucap Clara tiba-tiba, Dave menoleh ke samping dimana Clara berada. "Zea sudah menikah Dave. Aku yakin kau tidak bodoh, kau pasti tau tanda merah di leher Zea. Jika kau masih keras kepala untuk mencintainya maka hanya kau yang akan tersakiti Dave!"


"Ra, aku sudah kenyang sebaiknya kita pergi!" Dave memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Dia memang bukan pria bodoh yang tidak tau sejauh apa hubungan Sam dan Zea, tapi Dave terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya lalu melupakan Zea.


Clara memilih untuk tidak membahasnya lagi, dia tau apa yang sedang Dave rasakan karena dia juga merasakanya, cinta sepihak selama bertahun-tahun lamanya.


BERSAMBUNG...


Hari ini aku kasih tiga bab,, besok jangan lupa vote ya, biar aku makin semangat nulisnya, hadiahnya juga jangan lupa..