
Sampai larut malam Sam belum juga bangun, namun menurut Ega, menantunya kini tengah tertidur sehingga semua orang bisa bernafas lega. Melihat Sam yang tertidur pulas layaknya bayi, mereka merasa bersalah karena selama ini pasti Sam menderita sendirian, kurang tidur dan terlalu banyak pikiran yang menekannya. Apalagi berita tentang beberapa restoran milik Sam tutup sudah sampai di telinga Indhi dan Ega, mereka semakin kasihan pada pria malang itu. Namun di balik itu semua, mereka yakin Sam memetik banyak pelajaran berharga, di mana dia harus menghargai sesuatu yang di milikinya dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak berguna.
Karena lelah, Zea pun menyusul suaminya tidur. Wanita hamil itu tidur menyamping seraya menatap wajah suaminya yang terlihat sangat damai. Zea tersenyum saat mendengar dengkuran halus dari mulut Sam. Dan entah sejak kapan Zea terlelap, keduanya mengarungi lautan mimpi bersama-sama.
Nyanyian burung bersahut-sahutan mengiringi sang surya keluar dari peraduannya. Sam yang telah belasan jam tertidur akhirnya membuka matanya perlahan. Dia menunduk saag merasakan sesutu yang hangat memeluk tubuhnya, pria itu tersenyum melihat tangan Zea melingkar di perutnya. Sam menoleh ke samping tempat Zea berada, pria itu tersenyum penuh syukur karena akhirnya dia bisa melihat wajah Zea lagi, dia sangat bahagia akan itu. Sam memiringkan tubuhnya sehingga dia lebih leluasa menatap wajah sang istri, wajah cantik itu terlihat sangat tenang, sudah lama sekali Sam tak melihat istrinya dari dekat.
Perlahan jemari tangan Sam mulai menyentuh mata Zea, turun ke hidung hingga berakhir di bibir sang istri. Rupanya pergerakan Sam membuat Zea terbangun, wanita hamil itu membuka matanya, dia tersipu malu saat kedua mata mereka saling beradu.
"Morning sayang," sapa Sam seraya mengecup pucuk kepala istrinya, hal itu benar-benar membuat Zea tersipu malu.
"Morning uncle," sahut Zea dengan wajah memerah.
"Aku tidak bermimpi kan?" tanya Sam, pria itu tak henti-hentinya menatap wajah sang istri.
Zea menggeleng pelan. "Ini nyata uncle," jawab Zea sambil tersenyum, gadia itu lalu menarik tangan Sam untuk menyentuh perutnya yang masih rata. Sam tersenyum, pria itu lalu bergeser turun agar wajahnya mensejajari perut istrinya. Sam mengecup perut Zea beberapa kali, rasanya dia masih tak percaya sebentar lagi dia akan menjadi orang tua.
"Hay sweet heart, maafkan dady yang baru bisa menemanimu dan momy. Dady janji akan selalu bersama kalian. Sehat-sehat di dalam perut momy, jangan buat momy kerepotan ya nak," ucapnya penuh kasih sanyang.
Zea begitu terharu, dia bahkan sampai menangis karena sangat bahagia. Sam kembali ke posisi awal, tangan nya dengan cepat menghapus air mata istrinya. "Jangan menangis lagi, aku tidak suka melihatnya," ujar Sam.
"Aku hanya terharu, aku sangat bahagia uncle," jawab Zea tersedu-sedu.
Sam menarik tubuh Zea ke dalam dekapannya, pria itu memeluk Zea penuh kasih sayang, Sam mengelus rambut Zea dengan lembut. "Mulai sekarang aku akan membahagiakan kalian," ucapnya terdengar sangat tulus.
Zea hanya diam, dia semakin mempererat pelukannya, segala kerinduan yang dia tahan selama beberapa bulan akhirnya tersalurkan. Rasanya enggan untuk melepaskan suaminya, dia ingin memeluk suaminya sepanjang hari.
"Sayang aku harus mandi, badanku lengket semua," ujar Sam seraya mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sebentar lagi, Zea masih kangen," tolak Zea dengan cepat.
"Nanti kita lanjut lagi, apa kau tidak mencium baru dari tubuhku?"
Zea melepas pelukannya, gadis itu lalu mengendus tubuh sang suami dan membuat Sam tertawa geli. "Bau nya enak, Zea suka," ucap Zea sambil tertawa.
Sam mencubit hidung Zea dengan gemas. "Hidungmu pasti bermasalah. Sejak kemarin aku belum mandi, pasti sangat bau. Aku mandi sebentar ya!"
Zea akhirnya mengizinkan suaminya untuk mandi, saat Sam ada di kamar mandi Zea menyiapkan baju Sam, untung saja ada beberapa baju Sam yang tertinggal di rumahnya. Zea duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu suaminya selesai mandi, tak berselang lama pintu kamar mandi terbuka. Sam keluar hanya dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya, sementara dadaa bidang nya dia biarkan terpampang membuat Zea enggan mengedipkan matanya.
Sam berjalan menghampiri Zea, pria itu tersenyum nakal saat Zea menatapnya sampai tidak berkedip. "Zeana, sejak kapan kau nakal begini," goda Sam sambil mencubit kedua pipi istrinya.
Zea tersipu malu, wajahnya tiba-tiba terasa panas padahal Sam tidak mencubit pipinya dengan keras. "Cepat pakai bajunya uncle," Zea menunjuk baju yang sudah dia siapkan. Sam meraih baju itu dan tanpa rasa malu berganti baju di hadapan istrinya.
Setelah berpakaian rapi, Sam duduk di samping Zea. "Nanti aku pulang sebentar ya, aku harus mengambil baju dan perlengkapan lainnya," ucap Sam.
"Tapi jangan terlalu lama uncle, Zea ingin menghabiskan waktu Zea bersama uncle seharian," pinta Zea dengan tatapan memohon.
Sam membelai wajah Zea dengan lembut. "Hem, hanya sebentar saja! Oh ya, kau tidak ingin mandi?"
Zea tersenyum lebar, sejak hamil dia memang sangat malas untuk mandi. "Zea malas, nanti sore saja mandinya!"
"Jorok," ucap Sam menggoda istrinya.
"Bukan Zea yang jorok tapi bayi kita. Sejak hamil Zea jadi malas mandi, nafsu makan Zea juga meningkat. Uncle tau tidak, berat badan Zea sudah naik lima kilo. Nanti kalau Zea gemuk bagaimana?"
"Kau malah terlihat semakin cantik sekarang. Tidak masalah kau mau gemuk atau kurus, aku tidak keberatan. Asal kau sehat dan bayi kita sehat, aku tidak peduli dengan bentuk badanmu. Aku mencintaimu apa adanya!"
Sam menangkup kedua wajah Zea dan menatapnya dengan lembut. "Mungkin ini sudah terlambat, tapi aku akan mengatakannya saat ini juga. Aku mencintaimu Zeana," ungkap Sam dengan tulus.
Zea kembali menitikan air matanya, setelah berjuang sekian lama akhirnya perjuangannya terbayar sudah. Cinta yang selama ini dia harapkan dari suaminya akhirnya tersampaikan. "Zea juga mencintai uncle, sangat cinta," jawab Zea dengan penuh haru, wanita hamil itu lalu memberanikan diri mencium bibir suaminya. Sam lalu membalas ciuman Zea dengan lembut, untuk beberapa saat mereka hanyut dalam ciuman yang syarat akan kerinduan.
Sam melepaskan tautan bibir mereka. Dia lalu meminta Zea menceritakan semua hal yang Zea lewati tanpa dirinya. Zea sangat bersemangat, dia mulai menceritakan kebiasaan barunya yaitu gemar makan dan malas mandi. Zea juga mengatakan jika dia tak mengalami morning sickness sama sekali, dia tak pernah mual apalagi muntah. Keluhan Zea hanya satu, dia selalu merasa lapar di setiap saat.
Sam tersenyum mendengarkan cerita Zea, rasanya sangat menyenangkan mendengar keluh kesah dari istrinya, Sam mendengarkan cerita Zea dengan seksama, sesekali dia tertawa saat Zea menceritakan hal-hal lucu lainnya.
Setelah puas bercerita, Zea mengajak Sam keluar kamar. Wanita hamil itu mengaku sudah kelaparan sejak tadi. Di ruang makan, Indhi dan Ega sudah menunggu mereka. Meski sedikit canggung namun Sam berusaha untuk terlihat tenang.
"Pagi ma, pagi yah," sapa Sam meski sedikit kikuk.
"Pagi Sam, bagaimana kondisimu?" jawab Ega ramah.
"Sudah lebih baik yah!"
"Duduk Sam, kita sarapan bersama," ajak Indhi dengan sedikit senyum di wajahnya.
"Terima kasih ma."
Sam dan Zea lalu duduk bersebelahan, Sam berinisiatif untuk mengambilkan Zea makanan.
"Kau mau yang mana?" tanya Sam dengan lembut.
"Ayam goreng dan sambal," sahut Zea dengan wajah berbinar.
Sam memindahkan ayam goreng ke piring Zea, namun tidak dengan sambal nya. "Masih pagi tidak boleh makan sambal, nanti perutmu sakit, lebih baik makan sayuran. Baik untukmu dan calon bayi kita," ujar Sam seraya menyendok sayur dan memenuhi piring Zea.
"Uncle menyebalkan, sama seperti ayah yang selalu melarang Zea makan sambal!" gerutu Zea.
"Karena aku dan ayah menyayangimu dan tidak ingin kau kenapa-napa. Kasian bayi kita kalau momy nya makan sambal."
Ega dan Indhi saling menatap, keduanya bersyukur melihat Sam yang sekarang sangat perhatian pada Zea. Mereka berharap sikap Sam tidak akan berubah, selamanya dia akan memperlakukan Zea dengan baik.
Di tengah sarapan mereka, Dave dan Clara datang membawa bubur ayam kesukaan Zea.
"Ze aku membawa bubur untukmu," ucap Dave penuh semangat, namun Dave tiba-tiba menghantikan langkahnya saat melihat Sam sedang menyuapi Zea. Dave mematung dengan perasaan tak karuan, dia kecewa melihat Zea dan Sam kembali bersama.
"Kenapa berhenti?"
Dave terkejut saat Clara menepuk pundaknya, dia bahkan sampai melelaskan plastik berisi bubur ayam.
"Yah, bubur ayam nya tumpah," ucap Clara seraya meraih kantong plastik yang berada di lantai.
Sam dan Zea menoleh saat mendengar suara Clara.
"Dave," pekik Zea saat melihat Dave yang tiba-tiba menangis.
BERSAMBUNG...
Partnya panjang ya guys, jangan lupa othornya di kasih sajen biar semangat.. Karena sekarang senin, jangan lupa vote yak...