Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Clara sangat girang



Clara sudah berada di kamarnya, gadis itu tak henti-hentinya tersenyum saat mengingat kejadian di dalam mobil. Gadis itu tidur terlentang, jari-jarinya mengusap bibirnya sendiri, dia kembali membayangkan saat Daniel menciumnya. Seketika wajah Clara merona, dia kegirangan sampai-sampai dia menghentakaan kedua kakinya ke atas kasur secara berhangantian.


"Sekarang kau milikku," Clara mengulangi ucapan Daniel yang membuatnya berdebar-debar, jika seperti ini terus maka tidak akan butuh waktu lama untuk bisa mencintai Daniel. "Aaaaaa, sepertinya aku mulai gila," gumam Clara pada dirinya sendiri.


Ting...


Clara meraih ponselnya karena mendapat pesan, dia menggigit kuku jarinya saat melihat nama Daniel tertera di layar ponselnya. Karena penasaran Clara segera membuka pesan dari Daniel.


'Nice dream sweety'


Blussshhh....


Clara melemparkan ponselnya, gadis itu lalu berguling-guling dibatas kasur. Oh ayolah, pesan Daniel begitu manis, Clara sampai tak bisa menahan dirinya sendiri.


"Tunggu, tunggu! Kenapa aku sangat senang? Apa aku sebenarnya menyukainya?" tanyan Clara pada dirinya sendiri. Gadis itu lalu mencari ponselnya untuk membalas pesan Daniel. Clara menggigit bibir bawahnya, dia bingung harus membalas apa.


'Selamat istirahat Daniel, terima kasih untuk hari ini'


Clara lalu mengirim pesan balasan pada Daniel, dan tak lama Daniel kembali membalas pesannya.


'Besok aku akan mengantarmu ke kampus!"


'Oke,' balas Clara singkat. Karena tak sabar menunggu hari esok, Clara memutuskan untuk tidur meski kini hatinya sedang berbunga-bunga.


Sementara di tempat lain, Dave sama sekali tak bisa konsentrasi untuk belajar. Pikirannya bercabang kemana-mana karena semenjak peluncuran menu baru di restoran Sam dia dan Clara belum pernah bertemu lagi, mereka juga putus kontak karena biasanya Clara yang selalu mengiriminya pesan setiap hari sekedar mengingatkannya untuk makan.


Karena tak bisa tidur, Dave memutuskan menghubungi Rama, siapa tau sahabatnya itu bisa memberikan solusi agar dia dan Clara bisa berteman lagi. Beberapa kali Dave menghubungi Rama namun tak ada jawaban, Dave lupa jika di Amerika sana pasti masih pagi karena Indonesia lebih cepat 12 jam dari Amerika.


Setelah panggilan ke lima akhirnya Rama mengangkat nya, pemuda itu terlihat sedang makan sesuatu. "Ada apa Dave, aku sedang sarapan. Aku harus kembali ke rumah sakit secepatnya," ucap Rama begitu panggilan vidio tersambung.


Dave menghela nafasnya kasar, dia melupakan fakta jika sahabatnya yang satu ini adalah si gila belajar. Hal inilah yang membuat mereka sangat berbeda, meski mereka seumuran dan sama-sama kuliah kedokteran, namun Rama jauh melampaui di depan Dave. Dave sendiri masih berstatus mahasiswa kedokteran semester lima, sementara Rama sedang menjalani pendidikan profesi atau yang sering di sebut co-***.


"Aku dan Clara bertengkar," adu Dave dengan wajah sedih.


"Mungkin lebih tepatnya kau telah menyakiti hati Clara Dav," sindir Rama yang sebelumnya sudah mendengar cerita dari saudari kembarnya.


"Aku tidak berniat melakukan itu Ram, aku hanya ingin Clara berhenti menyukai ku!" jawab Dave membela diri.


"Tapi tidak dengan mengatakannya secara langsung Ram. Bayangkan saja kau berada di posisi Clara, tiba-tiba Zea datang padamu dan menanyakan apakah kau menyukainya, lau Zea menyuruhmu melupakan perasaan yang kau miliki. Apa kau tidak akan sakit hati?"


Dave terdiam, kini dia paham mengapa Clara sangat marah padanya. Dia benar-benar bodoh karena tak memahami perasaan sahabatnya. "Aku salah Ram. Sekarang aku harus bagaimana?" Dave sangat menyesal, dia hanya ingin hubungannya kembali baik, dia tidak mau Clara terus membencinya.


"Beri Clara waktu untuk berpikir, setelah Clara mulai tenang kau bisa menemuinya dan meminta maaf! Aku harus segera ke rumah sakit!"


Rama langsung mengakhiri panggilannya padahal Dave masih ingin berkeluh kesah pada sahabatnya itu. Karena tak berkosentrasi belajar Dave memilih tidur lebih cepat, besok pagi dia ingin menemui Clara meski Rama menyarankan untuk tidak menemui Clara sementara waktu.


.


.


"Apa aku pakai dress ini saja? Eh, tapi kalau Daniel bawa motor bagaimana?" Clara terus mengoceh seorang diri, memilah baju yang menurutnya cocok untuknya. Hampir satu jam Clara memilih baju, dan akhirny di tetaplah Clara, si gadis tomboy yang lebih senang memakai celana jeas dan kaos kebesaran.


Setelah siap Clara lalu turun, dia melewati kedua orang tuanya yang sedang sarapan.


"Ra, sarapan dulu!" teriak Arum karena putrinya mengabaikannya begitu saja.


"Clara sarapan di luar mom," sahut Clara.


"Ada apa dengan anak itu, tumben sekali dia keramas pagi-pagi?" bahkan sang ibu pun merasa heran melihat Clara mencuci rambutnya dan lagi Clara berangkat kuliah lebih awal dari biasanya.


"Mungkin rambutnya sudah kotor mom," jawab Dion mencoba menghilangkan kecurigaan istrinya, semalam Dion tak sengaja melihat Clara di antar oleh Daniel, mereka terlihat semakin dekat, meski belum seratus persen yakin namun Dion merasa jika Clara berubah karena sedang menjalin hubungan dengan Daniel.


Di depan rumah, Clara tersenyum saat melihat Daniel sudah berada di depan rumahnya. Gadis itu merasa lega karena tak salah memilih baju, sesuai dugaannya, Daniel menjemputnya dengan motor sport.


"Sudah lama?" tanya Clara basa-basi, sebenarnya dia sangat gugup sekarang.


"Baru saja. Ayo naik, aku akan mengajakmu sarapan di tempat yang bagus!"


Setelah memakai helm, Clara segera naik ke atas motor Daniel dan tiba-tiba Daniel meraih kedua tangan Clara dan melingkarkannya di pinggang.


"Aku takut kau jatuh," ucap Daniel seraya tersenyum.


Clara hanya bergumam, meski gugup namun dia sangat msnyukainya, menaiki motor sambil memeluk pria yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya.


Sementara dari kejauhan, Dave menatap Clara dan Daniel dengan tatapan yang sukar di jelaskan. Pemuda itu terlihat marah, kesal dan tidak rela sahabatnya dekat pria yang baru beberapa bulan di kenal oleh Clara. Niat kedatangan Dave adalah untuk meminta maaf, namun dia malah melihat pemandangan yang tidak sedap di pandang mata.


Daniel dan Clara sudah berada di salah satu tempat sarapan hits yang memiliki banyak pelanggan. Daniel membawa Clara masuk ke tempat itu, dia lalu mengajak Clara naiik ke lantai atas dan tak ada satupun pelanggan di sana. Clara merasa heran kenapa di lantai atas kosong sementara di lantai bawah pengunjung berebut kursi kosong.


Tak lama setelah itu, seorang pelayan datang membawa dua mangkuk bubur ayam dan dua gelas air putih. Pelayan itu lalu meletakan dua mangkuk di atas meja. Clara begitu terkejut saat melihat mangkuk tersebut berisi bubur ayam, saat masuk tadi dia tak tau jika tempat yang mereka kunjungi adalah penjual bubur ayam.


"Kenapa wajahmu pucat?" tanya Daniel, dia khawatir karena sebelumnya Clara baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja Dan," jawab Clara bohong.


"Kau yakin?"


"Tentu saja!"


"Ya sudah, makan buburnya selagi hangat. Bubur di sini rasanya sangat enak!"


"Hem."


Dengan tangan bergetar Clara mulai menyendok bubur tersebut dan berusaha keras untuk memasukannya ke dalam mulut. Sekujur tubuh Clara di banjiri keringat basah. Dia tak sanggup lagi memegang sendok karena tubuhnya seolah kehilangan tenaga. Mata Clara mulai berkunang-kunang dan kepalanya terasa berat. Detik selanjutnya Clara terkulai lemas, untuk saja Daniel dengan sigap menangkap tubuh Clara sebelum gadis itu terjatuh ke lantai.


"Clara!!!


BERSAMBUNG..