
Sam mulai membuka matanya perlahan, pria itu merasa kepalanya sangat berat. Hal terakhir yang dia ingat adalah Zea mengetuk pintu mobilnya, setelah itu dia tak mengingat apa pun lagi. Sam melirik sekeliling, dia baru sadar jika kini berada di rumah sakit, namun satu hal yang membuatnya merasa lebih sakit adalah, tak ada seorang pun yang ada di sisinya.
Tak terasa air mata mulai menetes di sudut matanya, jika bisa memilih seharusnya dia tak perlu bangun lagi. Perasaan bersalah terasa mencekiknya, sakitnya di abaikan bagikan ribuan anak panah menembus jantungnya. Dia lelah, dia ingin menyerah. Mungkin saja pria badjingan sepertinya memang tak pantas untuk Zea.
Sam menghapus air matanya dengan kasar saat pintu ruangannya terbuka dan seseorang masuk lalu menghampirinya.
"Sudah sadar?" tanya seseorang, Sam menoleh dan tak menyangka jika orang itu adalah Ega.
"Hem. Terima kasih sudah membawa Sam ke rumah sakit yah," jawab Sam pelan.
"Istirahatlah. Dokter bilang kau kurang istirahat. Ayah harus pergi sekarang!" Ega menepuk pundak Sam, saat dia hendak keluar Sam menahannya.
"Aku akan melepaskan Zea seperti keinginan kalian. Aku akan mengurus perceraian setelah Zea melahirkan!"
Ega sungguh terkejut mendengar keputusan Sam, dia pikir Sam akan berjuang demi mendapatkan restu dari Indhi, namun rupanya pria itu akan menyerah begitu saja. Ega berbalik dan menatap wajah Sam yang terlihat pucat.
"Jadi kau akan menyerah begitu saja?" tanya Ega.
"Aku sadar diri, pria seperti ku tidak pantas untuk Zea!"
Ega tak menjawab lagi, pria tua itu memilih keluar dari ruangan tempat Sam di rawat. Jujur saja dia kecewa dengan keputusan Sam, namun bukankah hal itu yang mereka inginkan, Sam dan Zea berpisah. Seharusnya Ega merasa lega karena Sam akhirnya melepaskan Zea.
Ega kembali ke rumahnya dengan perasaan yang entah bagaimana harus di jelaskan. Setibanya di rumah, Zea dan Indhi sudah menunggunya dengan wajah menegang.
"Bagaimana kondisi uncle yah?" tanya Zea dengan raut khawatir.
"Dia hanya kelelahan," jawab Ega apa adanya.
"Bagaimana dia bisa kelelahan? Tapi uncle sudah sadar kan yah?" tanya Zea lagi, Ega menghampiri putrinya dan mengangguk.
"Dia sudah sadar."
"Syukurlah!"
Zea bisa bernafas lega, sejak Sam di bawa ke rumah sakit pikirannya sangat tidak tenang, dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Sam.
"Duduk Ze, ada yang mau ayah katakan!"
Zea duduk di samping ibunya, kedua wanita itu menatap Ega penuh tanya.
"Ada apa yah?" tanya Indhi penasaran, sejak masuk ke rumah wajah suaminya terlihat gusar membuatnya nerasa sedikit khawatir.
"Sam bilang dia akan menceraikan Zea setelah Zea melahirkan!"
Deg...
Zea meremas tangannya, kepalanya seolah di hantam sesuatu yang sangat besar, dia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Ce-cerai?" ulang Zea dengan bibir bergetar.
Indhi menatap putrinya, dia merasa bersalah saat melihat Zea menangis. Selama ini dia juga tau jika Zea sering menangis secara diam-diam. Indhi berpikir mungkinkah dia terlalu egois, namun dia hanya ingin melindungi putrinya.
Zea tak mengatakan apapun lagi, gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Setibanya di kamar, Zea menangis sejadi-jadinya. Melihat Sam bersama wanita lain memang menyakiti hatinya, namun fakta jika Sam akan menceraikannya seribu kali lebih meyakiti hatinya. Zea merasa begitu sesak, seolah dadanya terhimpit batu bersar, dia tak bisa bernafas, dia merasa kehilangan segalanya.
Seharian penuh Zea mengurung diri di dalam kamarnya, dia juga tidak berselera makan. Yang ada di pikirannya kini hanya kata perceraian.
"Aku harus mendengarnya secara langsung!" gumam Zea seraya menyeka air matanya, wanita hamil itu lalu keluar kamar dan pergi ke kamar orang tua nya, dia ingin minta izin keluar, dia harus mendengar kata cerai itu langsung dari mulut Sam.
"Ma, tolong izinkan Zea menemui uncle," ucap Zea dengan memohon.
"Apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau sudah dengar sendiri jika Sam akan menceraikanmu!" jawab Indhi tak suka.
"Zea ingin mendengarnya secara langsung ma!"
Ega melirik istrinya, pria itu lalu mengusap punggung sang istri dengan lembut. "Mah, biarkan anak-anak menyelesaikan masalah mereka sendiri. Lagi pula ayah yakin Sam sudah menyesali perbuatannya," ujar Ega membujuk istrinya.
"Tapi yah, mama tidak rela Zea di sakiti lagi!" tegas Indhi seraya menatap tajam suaminya.
"Ayah tau, ayah juga tidak ingin Zea tersakiti. Tapi apa mama tidak sadar, dengan cara memisahkan mereka, kita juga menyakiti Zea ma. Ingat perjuangan kita dulu, ingat bagaimana mama berusaha menerima dan mencintai ayah. Mama perlu ribuan hari untuk mencintai ayah, begitupun Sam. Beri dia satu kesempatan lagi. Kali ini benar-benar yang terakhir!"
Indhi menghambuskan nafas dengan kasar, jika Ega sudah mengulik masa lalu maka dia tak bisa berbuat apapun karena kisah mereka dulu hampir sama dengan kisah Sam dan Zea, mereka menikah tanpa dasar rasa cinta dan Indhi berjuang sangat keras agar bisa mencintai suaminya.
"Mama antar ke rumah sakit. Tapi ingat Ze, jika Sam bersikeras menceraikanmu maka kau harus berhenti memohon!"
"Iya mah!"
Zea tersenyum bahagia, wanita hamil itu kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke rumah sakit menemui suaminya. Selama perjalanan ke rumah sakit Zea tak henti-hentinya tersenyum, Indhi yang memperhatikan putrinya tentu saja merasa bersalah karena sebulan terakhir ini Zea sama sekali tak tersenyum.
Zea terpaksa duduk di kursi roda karena itu persyaratan dari mama nya, Indhi khawatir Zea kelelahan jika berjalan kaki. Keduanya menuju kemar rawat inap Sam, namun setibanya di sana mereka tak menemukan siapapun, tempat tidur rumah sakit pun kosong dan sudah di rapikan.
Indhi kembali mendorong kursi roda Zea keluar dari kamar tersebut, mereka menuju meja tempat perawat berjaga.
"Nyonya Indhi," sapa perawat dengan ramah, siapa yang tak mengenal Indhi di rumah sakit, kisah cintanya dengan sang suami dulu sangat terkenal di rumah sakit tersebut. Apalagi setelah mereka menikah, Ega mendapat posisi sebagai kepala rumah sakit sehingga makin banyak orang yang mengenalnya.
"Sus, pasien di kamar 302 pergi ke mana ya?" tanya Indhi.
"Tuan Samuel memaksa pulang nyonya, beliau bilang harus segera menemui istrinya!"
"Kapan dia pulang?" sahut Zea dengan wajah panik.
"Sekitar setengah jam yang lalu!"
"Mah ayo kita pulang. Uncle pasti mencari Zea ke rumah!"
Indhi mengangguk dan segera membawa Zea pulang ke rumah. Selama perjalanan mereka tak bisa tenang. Zea tak henti-hentinya berdoa agar segera bertemu dengan Sam, dia berharap Sam akan merubah peputusannya mengenai perceraian.
Setibanya di rumah, Zea nekat berlari setelah turun dari mobil. Namun saat tiba di rumah dia tak menemukam siapapun selain ayahnya.
"Ayah, dimana uncle?" tanya Zea dengan nafas memburu.
"Dia baru saja pergi Ze," jawab Ega dengan wajah bingung, dia belum mengerti situasi apa yang sedang terjadi mengapa mereka saling mencari satu sama lain. "Ayah bilang kau ke rumah sakit, mungkin dia kembali ke rumah sakit!"
"Ma ayo kita ke rumah sakit lagi!"
"Tidak Ze, mama takut kau kelelahan. Pikirkan bayimu. Kita tunggu saja di rumah, Sam pasti akan datang menemuimu!"
"Tapi ma."
"Tidak tapi-tapian Ze."
Zea menunduk lesu, dia lalu mengusap perutnya yang masih rata. "Semoga dady segera kembali ya nak!"
BERSAMBUNG...