Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Memohon



Sam berjalan dengan langkah terseak-seok, pria itu mabuk berat dan berjalan tanpa arah seraya merancau memanggil nama Zea. Segala penyesalan tak bisa membuatnya betemu Zea, seandainya dia menyadari perasaannya lebih cepat, seandainya dia tidak pernah menyia-nyiakan Zea, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.


Sam benar-benar pria yang sangat bodoh, padahal sejak awal dia yang menyanggupi permintaan terakhir mendiang momy nya untuk menikahi Zea, namun Sam berlagak seolah dia seorang korban, dia tak bisa menerima kehadiran Zea, memilih bersama wanita lain dan menyakiti hati Zea.


"Aku memang tidak berguna, lebih baik aku mati saja," teriak Sam dengan suara tak jelas, pria itu berjalan menuju jembatan penyeberangan. Dari atas ketinggian Sam menatap kendaraan yang berlalu lalang. Seketika akal sehatnya menghilang, Sam menaiki pagar pembatas dan berniat untuk lompat dari atas jembatan. Tak ada lagi gunanya dia hidup, kini dia telah kehilangan wanita yang sangat mencintainya. Lebih baik Sam mati dari pada harus menderita dan mati perlahan karena penyesalan.


Rama berlari sekuat tenaga, untung saja sebelum Sam melompat Rama lebih dulu menarik tubuh Sam sehingga pria itu terkapar di tengah jembatan penyeberangan.


"Kau gila, apa begini caramu menyelesaikan masalah? Dasar pria bodoh," maki Rama seraya mencengkeram kerah Sam, pemuda itu berada di atas tubuh Sam. "Sadarlah breengsekkk, bugg," Rama mendaratkan sebuah pukulan di wajah Sam, namun pria yang di pukul tak melawan sama sekali, Sam justru menangis tersedu-sedu.


"Pukul aku, pukul aku sampai aku mati," ucap Sam sambil terisak.


"Dasar bodoh," Rama melepaskan cengkeramannya, dia lalu membantu Sam berdiri dan membawanya ke apartemennya untuk sementara waktu.


Setibanya di apartemen, Sam masih terpengaruh oleh alkohol, Rama membaringkan tubuh Sam di sofa, pemuda itu lalu mengambil es batu untuk mengompres wajah Sam yang lebam karena pukulannya.


"Kalau kau sangat mencintai Zea kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal. Sekarang kau harus mengejar Zea seperti Zea mengejarmu dulu," ucap Rama seraya mengobati lebam di wajah Sam. Setelah itu Rama menutupi tubuh Sam dengan selimut dan membiarkan pria itu untuk beritirahat.


Silau matahari yang menembus celah-celas jendela apartemen membuat Sam tergangu, pria itu mulai membuka matanya dan merasakan kepalanya sangat berat. Sam lalu bangun dan duduk di sofa, pria itu mengamati sekeliling dan bingung di mana sekarang dia berada. Yang terakhir Sam ingat dia berada di bar dan mabuk, selanjutnya dia tak mengingat apapun lagi.


"Uncle sudah bangun?" tanya Rama dari arah belakang, Sam menoleh dan terkejut melihat keberadaan Rama.


"Aku di mana?" tanyanya dengan suara serak.


"Di apartemenku. Semalam uncle mabuk dan hampir terjatuh dari jembatan," jawab Rama apa adanya, pemuda itu lalu memberikan gelas berisi air jahe kepada Sam. "Minum air jahe ini agar mabukmu berkurang!"


Sam menerima gelas tersebut dan mulai meminumnya. Rasanya begitu hangat dan rasa mualnya mulai berkurang.


"Ram, aku mohon katakan dimana Zea berada Ram. Aku bisa gila jika kalian terus menyembunyikan Zea," ucap Sam yang kembali memohon pada Rama, dia sudah tidak tau harus mencari Zea kamana lagi.


Rama menghela nafas berat, pemuda itu lalu duduk di samping Sam. "Lebih baik uncle pulang dulu ke Indonesia, pikirkan dengan matang apakah uncle benar-benar ingin hisup bersama Zea atau semua perasaan yang uncle rasakan saat ini hanya sebatas rasa bersalah!"


"Tidak Ram, aku akan pulang bersama Zea. Aku tidak perlu berpikir lagi, aku sudah menyadari perasaanku Ram, aku mencintainya, aku benar-benar mencintainya Sam!" jawab Sam tanpa keraguan, kali dengan tegas dia mengatakan jika dia mencintai Zea tanpa keraguan sedikitpun. "Tolong beri tau aku dimana Zea berada Ram!"


Ram lagi-lagi menghembuskan nafasnya dengan kasar, bukan dia tak ingin melihat Zea bahagia bersama Sam, hanya saja Rama takut jika Sam akan melukai Zea lagi..Rama belum seratus persen percaya pada ucapan Sam.


"Beri Zea waktu uncle, dia masih trauma dan ketakutan. Dan lagi, mama sepertinya sangat marah kepada uncle."


Sam menunduk, semua yang di ucapkan Rama adalah benar..pasti tak mudah bagi Zea untuk mempercayainya lagi setelah kejadian beberapa hari yang lalu, bahkan mungkin kini Zea tak akan memaafkannya lagi.


Rama mengangguk pelan. "Katakan!"


"Apa bayi kami baik-baik saja?" tanya Sam dengan pelan.


"Hem, dia baik-baik saja!"


Sam menoleh dan menatap Rama. "Kau serius?"


"Ya uncle, bayi itu selamat, dia sangat hebat persis seperti Zea."


"Syukurlah," Sam merasa sedikit lega, setidaknya kabar bahagia itu sedikit mengurangi beban di hatinya, jika saja yang dia terima adalah kabar buruk, mungkin dia tidak akan pernah melanjutkan hidupnya. "Baiklah, aku akan pulang. Tolong jaga Zea untukku Ram!" Sam lalu meninggalkan apartemen Rama dan berencana pulang ke tanah air.


Keesokan harinya, di saat Rama berpikir jika Sam sudah kembali ke Indonesia, tiba-tiba saja Sam berubah pikiran. Dia urung ke bandara dan malah menunggu Rama di bawah apartemen milik Rama. Dan saat Rama keluar dari apartemennya, Sam segera mengikuti Rama, dengan begitu mungkin saja dia bisa menemukan Zea.


Sam mengikuti Rama sampai ke rumah sakit, untung saja petugas keamanan rumah sakit tidak mengenalinya sehinga Sam bisa masuk ke dalam rumah sakit dengan aman. Sam terus mengikuti Rama sampai pemuda itu masuk ke dalam salah satu kamar VIP, dan tak lama setelah itu Sam melihat Indhi dan Ega keluar dari kamar tersebut.


Sam tak ingin lari, Sam akan menghadapi kemarahan kedua mertuanya, pria itu menghadang Indhi dan Ega lalu berlutut di depan kedua mertuanya.


Indhi dan Ega terkejut melihat seseorang tiba-tiba berlutut di kaki mereka, namun mereka lebih terkejut saat mengetahui jika orang itu adalah Sam, menantu mereka.


"Mah, ayah, tolong izinkan Sam melihat Zea, Sam mohon!" ucap Sam seraya menunduk, dia tak sanggup menatap wajah kedua mertuanya.


"Ayo kita pergi yah," Indhi menarik tangan suaminya, dia masih sangat marah pada Sam, ingatannya masih sangat jelas saat Sam berpelukan dengan wanita lain, dan wanita itulah yang telah membuat putrinya terluka.


"Tolong mah, yang mama lihat waktu itu bukan kejadian yang sebenarnya, mama salah paham," Sama menahan kaki Indhi, dia akan memohon sampai Indhi memaafkannya.


"Dengar Sam, aku pernah memberi satu kali kesempatan untukmu, tapi tidak untuk kali ini. Aku tidak akan mengizinkanmu menemui Zea dan mengganggu hidupnya!"


"Sam mohon ma, tolong dengarkan penjelasan Sam sekali saja!"


Indhi tak menjawab, wanita paruh baya itu melepaskan tangan Sam di kakinya dan kembali menarik suaminya, awalnya mereka ingin pergi sarapan, namun Indhi takut Sam akan menerobos ke kamar Zea dan memutuskan untuk kembali ke kamar Zea.


"Ma, tolong izinkan Sam bertemu Zea!"


BERSAMBUNG...