Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Cemburu



Sepulang kuliah, Clara pergi ke kafe yang tak jauh dari kampus nya, sore ini hati dan pikirannya terasa lelah. Banyaknya tugas kuliah membuat kepalanya pening, sementara Dave membuat hatinya tak karuan.


Clara duduk termenung sambil menatap ke luar jendela, di luar sana hujan turun dengan derasnya padahal sebelumnya cuaca masih sangat terik. Akhir-akhir ini memang cuaca tak bisa tebak, persis dengan hati seseorang.


Di tempat yang sama, seorang pria memperhatikan Clara dari kejauhan, setelah beberapa saat pria itu memberanikan diri menghampiri Clara.


"Hay," sapa nya dengan ramah.


Clara menoleh, gadis itu menatap pria yang tiba-tiba duduk di hadapannya tanpa izin. "Ya, ada apa?" jawab Clara cuek.


Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikan nya kepada Clara. "Mau menangih yang ini," jawab pria itu sambil tersenyum.


Clara melirik kartu nama yang berada di atas meja, dia baru sadar jika pria itu adalah pengemudi sepeda motor yang dia tabrak beberapa hari yang lalu. "Kau," pekik Zea tertahan, gadis itu menatap wajah sang pria untuk memastikan apakah benar pria itu adalah orang yang dia tabrak.


"Ya, saya yang beberapa hari lalu anda tabrak!" ucap pria itu menghilangkan keraguan Clara.


"Berapa totalnya?" tanya Clara tanpa basa basi. Sebenarnya pria itu cukup menarik, namun dari gestur nya membuat Clara yakin jika pria itu seorang play boy.


"Lima juta rupiah!" jawab nya santai.


"What?" Clara sangat terkejut, bagi mahasiswi sepertinya uang lima juta rupiah adalah nominal yang sangat besar.


"Ini hanya untuk perbaikan motor saja, untuk pengobatan anda tidak perlu menggantinya!"


"Tapi lima juta itu banyak sekali, anda tidak sedang menipu saya kan?" Clara mulai curiga, jangan-jangan pria itu memang sengaja menabrakan motor untuk memeras uangnya.


"Kalau tidak percaya, anda bisa ikut ke bengkel sekarang. Motor saya masih di sana!"


Clara menggigit bibir bawahnya, dari mana dia mendapat uang sebanyak itu untuk ganti rugi. Dia tidak mungkin meminta pada orang tuanya karena pasti imbas nya dia akan di larang mengendarai mobil lagi.


"Apa saya boleh mencicilnya?" tanya Clara dengan pelan. "Saya belum bekerja, dan uang lima juta itu sangat banyak!"


Pria itu bersandar pada kursi dan kedua tangan nya terlipat di dada. "Apa jaminan nya anda tidak akan lari dari tanggung jawab?" tanya nya meragukan Clara.


"Bukannya anda sudah punya kartu nama saya, di sana sangat jelas ada nomor ponsel saya, anda bisa menghubungi saya jika saya belum membayar!"


"Bagaimana kalau anda mengganti nomor anda? Hmm, begini saja, anda masih kuliah kan?" Clara mengangguk, mengiyakan pertanyaan pria itu. "Saya minta KTP atau Kartu Mahasiswa anda, ya hitung-hitung sebagai jaminan!"


Clara membuang nafasnya kasar, gadis itu lalu membuka dompet dan mengambil KTP dan mengambil sepuluh lembar uang pecahan seratus ribu rupiah dan memberikannya kepada pria itu.


"Saya baru punya satu juta, sisa nya saya cicil selama empat bulan ke depan!"


"Saya terima ini, terima kasih!"


"Lalu kemana saya harus menghubungi anda jika saya mau membayar sisanya?"


Pria itu mengeluarkan kartu nama dan memberikannya pada Clara. "Saya Daniel, anda bisa menghubungi saya atau anda bisa mencari saya di tempat kursus saya!"


"Daniel."


.


.


Sudah hampir larut malam namun hujan juga belum reda, setelah istrinya tidur, Sam meraih laptop nya dan mengerjakan beberapa pekerjaan. Setelah pekerjaannya selasai, Sam kembali memeriksa daftar restorannya yang terancam tutup, sejauh ini sudah ada lima cabang yang tutup, jika begini terus besar kemungkinan restorannya akan gulung tikar.


Sam menghembuskan nafasnya perlahan, kenapa restorannya harus mengalami masa sulit di saat istrinya sedang hamil dan membutuhkan banyak biaya untuk persiapan persalinan kelak. Gaji nya dari menjadi dosen memang lumayan besar, namun dia ingin memberikan yang terbaik bagi Zea, dia ingin Zea hidup layak.


Zea terbangun dan menyadari suaminya belum tidur, wanita itu mengamati suaminya, beberapa hari ini Sam memang terlihat lelah, namun Zea belum berani bertanya.


"Uncle belum tidur?" tanya Zea dengan pelan.


Sam menutup laptopnya dan menaruh nya di atas meja, pria itu lalu berbaring sambil menatap istrinya. "Apa aku membangunkanmu?"


"Sudah malam, ayo tidur lagi!"


"Uncle," panggil Zea dengan lembut.


"Ya."


"Apa uncle sedang memiliki masalah? Beberapa hari ini Zea lihat uncle sering murung?" Zea memberanikan diri untuk bertanya, dia takut terjadi sesutu yang buruk pada suaminya.


"Aku hanya sedikit lelah sayang, akhir-akhir ini banyak pekerjaan di kampus," jawab Sam, dia terpaksa bohong karena tidak ingin membuat istrinya khawatir .


Zea menangkup wajah suaminya, gadis itu menatap sang suami dan menemukan kebohongan di mata suaminya. "Bohong!"


"Aku tidak bohong Ze," elak Sam.


"Kita sekarang sudah menikah, dan kejujuran adalah pondasi utama dalam membangun rumah tangga. Zea tidak suka kalau uncle menyimpan beban sendirian. Jadi tolong, jangan pernah sembunyikan sesuatu dari Zea!"


Ya, yang di katakan Zea adalah benar. Seharusnya Sam tidak menyembunyikan apapun dari istrinya, namun dia takut malah akan membebani Zea.


"Ya sudah kalau uncle tidak mau cerita. Zea tidak akan memaksa! Selamat malam uncle!" Zea berbalik, kini dia memunggungi suaminya, tiba-tiba dia kesal karena Sam tidak mau terbuka dengannya.


Sam kembali membuang nafas dengan berat, pria itu lalu memeluk istrinya dari belakang. "Ada masalah dengan restoran, sudah ada lima cabang yang tutup. Aku tidak bermaksud untuk tidak jujur, aku hanya tidak mau membebanimu sayang," aku Sam, dia lebih memilih berterus terang setelah mengingat janjinya dulu bahwa dia tidak akan pernah menyembunyikan apapun dari istrinya.


Zea menggigit bibir bawahnya, dia menyesal karena sudah berpikir yang tidak-tidak. Zea lalu kembali membalik tubuh nya sehingga kini mereka saling berhadapan. "Apa kendalanya?" tanya Zea, meski tak tau banyak tentang restoran namun dia berharap bisa membantu suaminya.


"Sekarang orang-orang lebih senang makanan dari luar negeri, anak muda zaman sekarang kurang berminat dengan makanan nusantara," jelas Sam, restoran yang di dirikan oleh kedua orang tua nya memang hanya menjual berbagai jenis makanan Indonesia, sementara kini gempuran makanan dari luar negeri lebih mendominasi.


"Hem begitu. Bagaimana kalau uncle sedikit merubah menunya? Kita ikuti apa yang sedang ramai di pasaran, namun jangan hilangnya icon restoran uncle, yaitu makanan nusantara!"


"Sepertinya ide bagus.Tapi aku tidak terlalau tau tentang masakan, sepertinya aku harus mencari ahli untuk di ajak bekerja sama!"


Zea berpikir sejenak, lalu terlintas sebuah nama di kepalanya. "Bagaimana dengan Chef Daniel?"


"No!" tolak Sam dengan cepat.


"Kenapa? Chef Daniel sangat terkenal, dia juga membantu temannya membuka restoran yang viral beberapa bulan lalu, restoran yang pelayanannya galak semua!"


"Pokoknya tidak!" Sam masih kukuh dengan keputusannya.


"Ya tapi apa alasannya?"


"Aku tidak suka melihat caranya menatapmu!"


"Uncle cemburu?" goda Zea seraya menahan senyumnya.


"Tidak?" elak Sam.


"Yakin? Kalau tidak cemburu kenapa tidak mau bekerja sama dengan Chef Daniel?"


"Ya ya, aku cemburu Zeana! Puas!"


Zea tertawa terbahak-bahak, sungguh menyenangkan mendengarnya langsung dari mulut Sam jika pria itu cemburu.


"Kenapa harus cemburu sedangkan uncle tau uncle lah pemilik nya!"


Sam tersipu malu, pria itu lalu mengecup bibir istrinya sekilas. "Kau paling pintar membuatku berdebar-debar! Akan aku pikirkan lagi tentang kerja sama itu.sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur."


"Hem, good night suamiku," ucap Zea, sebuah kecupan mendarat di bibir suaminya.


"Good night istriku sayang!"


BERSAMBUNG...