Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Perdebatan Dave dan Clara



Dave begitu khawatir saat mendengar Clara di rawat di rumah sakit, namun Dave tidak bisa langsung ke rumah sakit karena dia masih berada di kampus. Setelah pulang dari kampus Dave bergegas ke rumah sakit, namun sialnya ban mobilnya bocor sehingga dia harus mampir ke bengkel dulu.


Langit sudah gelap saat Dave tiba di rumah sakit, pemuda itu langsung bertanya pada resepsionis di mana kamar Clara berada. Sambil membawa buah-buahan dan seikat bunga Lily, Dave berjalan menuju kamar rawat inap Clara.


"Clara kau baik-baik saja kan, aku....


Salahkan Dave yang tidak mengetuk terlebih dahulu, begitu dia masuk dia di kejutkan dengan pemandangan yang tidak sedap di pandang mata, lagi-lagi, untuk yang kedua kalinya dia melihat Clara dan Daniel berciuman.


Daniel dan Clara segera melepaskan ciuman mereka, keduanya menoleh ke arah pintu dan melihat seseorang berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut.


"Dave," ucap Clara tertahan.


Dave terlihat sangat canggung namun karena sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan itu, Dave berusaha untuk bersikap biasa saja dan menghampiri Clara. Dave menaruh buah dan bunga Lily di atas nakas, dia melirik Daniel sekilas dan fokus pada Clara.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Dave, dari sorot matanya Clara bisa melihat jika pemuda itu mengkhawatirkannya. Namun bukan hal istimewa, mungkin karena mereka berteman sejak lama jadi pantas saja jika Dave mengkhawatirkan Clara.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Clara dengan senyum kikuk, dia masih belum bisa bersikap biasa saja pada Dave setelah kejadian malam itu. Malam dimana Dave menolaknya secara terang-terangan.


"Syukurlah! Oh ya dimana aunty dan uncle?" tanyaa Dave karena sejak tadi dia tak melihat orang lain.


"Mereka pulang karena ada pekerjaan mendesak!"


"Jadi kau hanya bersama dia?" Dave melirik Daniel dengan tatapan tak suka.


"Ya!" singkat Clara.


"Kau tak takut dia berbuat macam-macam? Aku dengar dia yang menyebabkan kau pingsan," sindir Dave.


"Berbuat macam-macam bagaimana?"


"Memanfaatkan keadaanmu yang sedang sakit dan menyentuhmu!" ujar Dave, lagi-lagi pemuda itu melirik Daniel tak suka.


"Apa maksudmu? Aku bukan pria seperti itu!" sahut Daniel tak terima.


"Buktinya aku melihatnya dengan mataku saat aku masuk, kau sedang menciumnya," Dave tak mau kalah, membuat ruangan itu terasa semakin menegang.


"Aku yang menciumnya Dave. Lagi pula apa salahnya, dia kekasihku. Entah aku akan menciumnya atau menidurinya itu sama sekali bukan urusanmu! Dan asal kau tau, Daniel lah yang sudah menjagaku!" ucapan Clara semakin membuat Dave kesal, dia merasa Clara semakin menjauhinya.


"Kekasih macam apa yang tidak tau tentang tentang trauma mu Ra!"


"Cukup Dave. Kalau kau datang hanya untuk membuat keributan, lebih baik kau pergi sekarang! Bicaramu tidak masuk akal!" Clara mengusir Dave sebelum pemuda itu bicara lebih jauh, Clara masih belum siap menceritakan trauma masa kecil nya kepada Daniel.


"Kau akan menyesalinya Ra!"


"Yang lebih aku sesalkan adalah menyukaimu selama bertahun-tahun. Langkahku sudah benar, melupakanmu dan membuka hati untuk Daniel, orang yang jelas-jelas mencintaiku!" tegas Clara dengan sorot penuh amarah, dia tak menyangka Dave yang selama ini dia kenal memiliki sisi picik yang dengan mudahnya menyalahkan orang lain.


Dave mengatupkan rahangnya, dia marah karena Clara lebih membela Daniel dari pada dirinya. Tanpa pamit Dave keluar dari kamar Clara dan menutup pintunya dengan keras.


Sementara itu Clara hanya bisa menangis, dia tak percaya hubungan persahabatannya dengan Dave akan berakhir seperti ini. Namun Daniel tidak akan membiarkan Clara bersedih, pria itu segera memeluk Clara untuk menenangkannya meski tanpa mengucapkan apapun.


Setelah tenang, Clara segera menghapus air matanya. Tak sepantasnya dia menangisi Dave di depan Daniel, dia tak ingin Daniel salah paham.


"Maafkan aku Daniel," ucap Clara dengan sesegukan.


"Kenapa kau harus minta maaf, kau tak salah apapun. Jadi tolong jangan menangis, aku tidak suka melihatnya,' jawab Daniel seraya menyeka sisa- sisa air mata di wajah Clara. "Sudah malam sebaiknya kau istirahat," Daniel membantu Clara berbaring, pria itu merapikan selimut Clara lalu duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur.


"Jangan khawatirkan aku, aku biaa tidur di sofa. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."


"Kenapa kau sangat baik padaku Dan?"


"Karena aku menyayangimu!" jawab Daniel tegas tanpa keraguam sedikitpun.


"Tapi kita baru kenal beberapa bulan saja!"


Daniel membelai wajah Clara dengan lembut. "Aku tidak ingin menyesal karena terlambat mengungkapkan perasanku. Lagi pula cinta bukan soal waktu Ra!"


Clara begitu terharu mendengar ucapan Daniel, di cintai dengan tulus adalah impiannya sejak lama. "Terima kasih Dan," ucap Clara dengan mata yang kembali basah.


"Hem, tidurlah. Aku tidak akan pergi!"


Clara menganguk dan mencoba memejamkan matanya. Namun dia tak bisa tidur, mungkin karena seharian ini dia sudah tidur. Clara kembali membuka matanya dan melihat Daniel masih setia menatapnya seperti tadi.


"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Daniel begitu Clara kembali membuka matanya.


Clara menggeleng dengan cepat. "Daniel!"


"Ya!"


"Apa kau tidak penasaran kenapa aku tiba-tiba pingsan?"


"Kata dokter kau kelelahan dan kurang tidur, kau juga sering melewatkan makan. Gula darah dan tekanan darahmu turun, itulah kenapa kau sampai pingsan," jawab Daniel sesuai dengan diagnosa dokter meski Daniel tidak mengatakan jika dokter memberi saran untuk membawa Clara menemui Psikiater.


"Sebenarnya aku," Clara ragu untuk melanjutkannya, dia takut Daniel akan menjauhinya dan menganggapnya orang aneh jika dia menceritakan kisah masa kecilnya.


"Jangan katakan apapun jika kau belum siap," potong Daniel dengan cepat.


"Kau sudah tau?" tanya Clara dengan kedua alis saling bertaut.


Daniel menggangguk pelan. "Maaf Ra!"


"Kau tidak takut padaku? Maksudku kau tak menganggap aku aneh?"


"Kenapa aku harus takut padamu? Semua orang memiliki luka masa lalu, dan tidak semua orang bisa melupakan luka itu. Mungkin aku hanyalah orang baru di dalam hidupmu, tapi aku berharap kau mulai belajar melupakan masa lalu yang menyakitkan itu Ra!"


"Kau tau, akupun memiliki penyesalan di masa lalu. Semenjak kedua orang tuaku berpisah, hidupku di penuhi kebencian dan tidak percaya akan cinta. Aku tinggal bersama nenek dan selalu mengabaikannya, selalu berontak dan menyalahkan nenek atas semua yang terjadi. Namun setelah nenek meninggal aku menyesal karena selalu mengacuhkan nenek dan tidak pernah mengatakan jika aku menyayangi nenekku. Namun semuanya sudah terjadi, yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah menerima keadaanmu, menerima masa laluku yang menyakitkaan. Dan setelah aku menerima semuanya, Tuhan mempertemukan kita dan kau membuat warna baru di dalam hidupku!"


Clara mengusap air mata Daniel yang entah sejak kapan menetes, gadis itu lalu bangun dan memeluk Daniel dengan erat. "Kau pasti sangat menderita," ucapnya sedih.


"Untuk itu aku ingin kau melepaskan semuanya Ra, lupakan luka itu dan berbahagialah!"


"Tapi aku tidak tau bagaimana caranya untuk lepas dari ketakutan itu Dan!"


Daniel melepaskan pelukan Clara dan menatap wajah gadis itu dengan sorot menenangkan. "Aku akan membantumu. Percaya padaku sweety!"


Clara mengangguk, entah mengapa dia begitu mempercayai Daniel. Sorot mata pria itu seolah menguatkannya. Clara akan berjuang melepaskan luka masa lalunya bersama Daniel.


BERSAMBUNG...