
"Sayang, jangan memancingku!"
Zea tersenyum, dia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Sam. "Kata dokter, kita sudah bisa melakukannya!" ucap Zea seraya mengerlingkan sebelah matanya.
"Really?" tanya Sam dengan wajah bersemu merah, oh ayolah setelah sekian lama menahan gejolak dalam tubuhnya akhirnya malam ini dia bisa menyalurkannya.
"Hem, asal uncle melakukannya dengan pelan," jawab Zea malu-malu.
Sam mengangguk dengan senyum mesyum, pria itu lalu mendekatkan wajahnya dan mulai mengecup bibir istrinya. Sam melakukannya dengan lembut namun menuntut, saat Zea mulai membalas ciumannya, tangan kekarnya mulai bergerilya menyusuri setiap inci tubuh istrinya yang kini mulai berisi.
Zea mulai mendesaaaah saat suaminya mulai memijat dadaa nya dengan lembut, apalagi kini Sam sedang memainkan ujung dadaaanya dengan lidah, sesekali pria itu menghisap nya bagaikan seorang bayi yang kehausan.
Zea membusungkan dadaanya agar mempermudah akses suaminya, sejak beberapa hari terakhir ini hormon kedewasaan Zea melonjak membuatnya tak bisa menahan erangan dan desahaaaan.
"Kau menikmatinya?" tanya Sam seraya menatap wajah sang istri yang kini bersemu merah membuatnya terlihat semakin cantik.
"Hem, lakukan lagi!"
Sam tersenyum senang, dia lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuh istrinya. Sam turun ke bawah lalu mencium perut Zea. "Hay sweet heart, dady akan menjengukmu sebentar lagi, baik-baik di dalam perut momy ya nak," bisiknya lalu kembali menciun perut istrinya.
Zea mengusap rambut suaminya, dia tak menyangka Sam memiliki sisi yang sangat lembut, bahkan sejak mereka kembali bersama, Sam sangat perhatian padanya dan selalu mengucapkan kata-kata manis.
Setelah meminta izin pada calon bayinya, Sam kembali mencium bibir Zea, namun wanita hamil itu mendorong tubuhnya dan menukar poisis mereka sehingga kini Zea duduk di atas tubuh sang suami.
Sam menggigit bibir bawahnya saat tubuh polos Zea terpampang jelas di depan matanya, rasanya dia ingin sekali menerkam istrinya, namun kali ini dia akan membiarkan Zea memimpin permainan panas mereka.
Zea mulai mencumbu suaminya, wanita hamil itu mulai lihai memancing gairah sang suami, dan entah sejak kapan Zea berhasil melucuti pakaian suaminya.
Dengan sangat hati-hati Zea menuntun Boy memasukinya, dalam satu percobaan saja Boy berhasil masuk ke dalam sarangnya. Zea mulai menggerakan pinggulnya dengan pelan, sesekali gerakannya memutar membuat Sam merasakan kenikmatan yang luar biasa.
"Sayang kau membuatku melayang," ucap Sam dengan suara serak, tatapan matanya di penuhi kabut gairah.
Malam semakin larut, namun sepasang suami istri itu masih bergumul dengan aktivitas panas mereka. Suara desaaaahan dan erangan memenuhi kamar, menjadikan saksi bahwa percintaan mereka membawa keduanya melayang ke nirwana.
Sam memeluk tubuh istrinya yang basah oleh keringat, sesekali pria itu mencium kening Zea dengan mesra.
"Sayang," panggil Sam seraya mengusap rambut istrinya.
"Hem," Zea hanya bergumam, suaranya seakan terkuras habis karena terlalu sering mendesaaaah.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Sam memastikan, dia tak ingin percintaan mereka membahayakan buah hati mereka.
"I'm fine, bayi kita juga baik-baik saja. Sepertinya dia juga ingin di tengok oleh dady nya," jawab Zea seraya mengangkat kepalanya sehingga dia bisa menatap wajah sang suami.
Di waktu yang bersamaan Sam menunduk sehingga netra mereka saling mengunci. "Malam ini kau sangat bergairah, aku menyukainya," ucap Sam tanpa mengalihkan tatapannya.
"Aku sudah menahannya sejak lama, aku sangat merindukan uncle"
"Aku juga sangat merindukanmu sayang. Terima kasih untuk malam ini," Sam mencium kening istrinya, dia lalu menarik selimut hingga menutupi leher sang istri, keduanya lalu terlelap dalam pelukan masing-masing.
Dua hari kemudian Sam mendapat kabar baik dari Daniel, pria itu setuju untuk berkolaborasi dengan restoran Sam dengan syarat Sam tidak boleh terlalu ikut campur soal menu, Sam hanya fokus pada pemasaran. Sam pun menyetujui persyaratan yang di berikan Daniel karena dirinya juga tak terlalu paham tentang menu makanan.
Sebagai awal kerja sama mereka, Sam mengundang Daniel untuk makan malam di rumah mertuanya, awalnya Daniel menolak namun karena Zea yang memaksanya akhirnya pria itu setuju untuk makan malam di rumah orang tua Zea.
Sam dan Ega sangat kompak, mereka sedang menyiapkan hidangan makan malam sementara para istri hanya menontonnya dari kejauhan karena memang mereka tidak bisa memasak.
"Ze, apa aunty Arum bisa datang?" tanya Indhi, sejak Daniel menyetujui untuk berkolaborasi dengan restoran milik Sam, pria itu menunjuk Arum sebagai tim legalitas untuk mencegah terjadinya sesuatu yang tidak di inginkan di masa depan.
"Oh, baguslah kalau begitu!"
Satu jam kemudian, berbagai hidangan sudah tersaji di atas meja makan. Sam, Zea dan kedua orang tuanya juga sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Daniel. Tak lama kemudian, Daniel datang dan mereka menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang di rumah kami Chef Daniel," sambut Sam seraya mengulurkan tangan ke arah Daniel.
"Panggil Daniel saja agar kita lebih akrab," jawab Daniel, pria itu lalu menjabat tangan Sam.
"Kalau begitu panggil aku Sam," ujar Sam dan Daniel mengangguk setuju.
"Apa kabar Ze?" tanya Daniel sambil menatap Zea yang berdiri di sebelah Sam.
"Aku baik, bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik!
"Syukurlah. Oh ya kenalkan, ini kedua orang tuaku," ucap Zea memperkenalkan kedua orang tuanya.
Daniel menyalami kedua orang tua Zea, mereka menyambut Daniel dengan ramah dan mengajak pria itu ke ruang makan.
"Maaf ya nak Daniel, hanya makanan sederhana," ucap Indhi saat mereka sudah berada di ruang makan.
"Ini lebih dari cukup tante," jawab Daniel.
"Ya sudah ayo kita mulai makan," ajak Ega dan di angguki oleh semua orang. Di saat mereka sedang sibuk mengisi piring masing-masing, dari luar terdengar pintu terbuka dan seseorang berjalan ke meja makan.
"Maaf semuanya, aku tidak terlambat kan," ucap Clara, malam ini dia datang mewakili ibu nya yang berhalangan datang ke acara makan malam.
Semua orang menoleh, Daniel terkejut melihat Clara berada di rumah Zea, begitupun sebaliknya, Clara nampak heran mengapa ada Daniel di rumah sahabatnya.
"Belum, sini duduk di sebelah tamu kita," Indhi berdiri dan menarik tangan Clara yang malah mematung di tempat. Indhi lalu menyuruh Clara duduk di sebelah Daniel.
"Maaf uncle Sam, momy tidak bisa datang karena ada pekerjaan yang belum selesai," ujar Clara seraya menatap Sam.
"It's okay Ra, kau bisa mewakilinya! Oh ya Ra, perkenalkan, dia chef yang akan berkolaborasi dengan restoran uncle."
Daniel dan Clara saling melirik, keduanya lalu tersenyum.
"Kami sudah saling kenal!" jawaban Clara sontak membuat semua orang tak percaya.
"Serius Ra?" tanya Zea tak percaya.
"Ya Ze, kami memang saling kenal," sahut Daniel membenarkan.
"Oh syukurlah," cetus Indhi.
"Apanya yang sukurlah aunty?" Clara bertanya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Siapa tau kalian berjodoh!"
"Aunty!!!!"
BERSAMBUNG...