Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Sisi lain Clara



Selesai makan malam, Daniel dan Sam membahas beberapa hal mengenai kerja sama mereka, Clara pun bergabung dengan kedua pria itu karena dia mewakili momy nya sebagai tim legalitas di restoran Sam. Setelah selesai membahas pekerjaan, Daniel dan Clara pamit pulang karena sudah malam.


"Mobil mu mana Ra?" tanya Zea saat tak melihat mobil sahabatnya terparkir di halaman rumah.


"Mobilku ada di bengkel. Aku sudah pesan taxi online kok," jawab Clara sambil menunjukan ponselnya.


"Udah malam biasanya susah cari taxi online Ra," ucap Zea khawatir.


"Bagaimana kalau pulang bersama Daniel saja," ujar Sam dengan senyum penuh makna, tentu saja dia ingin menjodohkan Daniel dan Clara agar Daniel tak menyukai istrinya lagi.


"Rumah kita tidak searah uncle," kilah Clara, sebenarnya dia tidak ingin merepotkan Daniel lagi karena sudah beberapa kali dia merepotkan pria itu.


"Rumah kita searah kok," celetuk Daniel dengan santai.


Clara nyengir bagai kuda, bisa-bisa nya pria itu jujur sekali. "Apa tidak merepotkan?" tanya Clara ragu-ragu.


"Tidak!"


Zea tersenyum sambil menyikut lengan suaminya, sepasang suami istri itu saling menatap dan melempar senyum.


"Titip Clara ya Dan," ucap Zea.


"Oke Ze, kita pamit ya!"


Clara meraih helm yang Daniel berikan, gadis itu lalu naik ke atas motor sport Daniel dan melambaikan tangan ke Zea sebelum Daniel melajukan motornya. Selama perjalanan, keduanya saling diam. Lagi pula jika berbincang di atas motor juga percuma saja, karena suara mereka hilang di telan kebisingan dari knalpot motor Daniel.


"Dan, kau bisa menurunkanku di taman depan sana," ucap Clara seraya menepuk pundak Daniel.


"Kenapa tidak di rumah sekalian? Ini sudah malam, bahaya anak gadis di luar sendirian," jawab Daniel, bukan dia tak mau menurunkan Clara di taman itu, hanya saja dia tidak mau di salahkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Clara, apalagi tadi Zea sudah menitipkan gadis itu kepadanya.


"Di sana banyak orang kok, aku juga ada janji di sana!"


Daniel akhirnya menurut, mungkin saja Clara ada janji dengan pacarnya. Daniel lalu menurunkan Clara tepat di taman yang gadis itu minta. Clara lalu turuj dari motor Daniel dan menyerahkan helmnya, kali ini gadis itu tak kesulitan lagi melepaskan helm.


"Terima kasih Daniel, lagi-lagi aku merepotkanmu," ucap Clara tak enak hati.


"It's okay, lagi pula kita searah!" jawab Daniel santai.


Tak lama setelah itu, dari kejauhan terdengar suara anak-anak memanggil nama Clara, keduanya pun menoleh, Clara tersenyum lebar sehingga menunjukan deretan gigi putihnya, sementara Daniel cukup terkejut melihat anak-anak jalanan tersebut berlari menghampiri Clara.


Clara membungkukan tubuhnya mensejajari anak-anak tersebut. "Maaf ya kakak ada acara tadi, makanya kakak baru bisa datang," ucap nya seraya mengusap kepala mereka satu persatu.


"Tidak papa kak, kita juga baru kumpul kok," jawab salah satu dari mereka.


"Kalian belum makan malam kan? Sesuai janji kakak, malam ini kakak akan membelikan kalian makanan enak, kalian mau?"


"Mau," jawab mereka serentak, Clara kembali tersenyum melihat antusias anak-anak jalanan itu.


"Ekhem, siapa mereka Ra," sela Daniel di tengah keriuhan anak-anak jalanan itu.


"Mereka teman-teman aku Dan," jawab Clara dengan sorot mata yang begitu tulus. "Oh ya, kita mau pergi, kau boleh pulang Dan, sekali lagi terima kasih tumpangannya ya!"


Daniel hanya mengangguk, dia menatap Clara yang pergi bersama anak-anak jalanan itu. Entah apa yang Daniel pikirlan, terbesit di benaknya untuk mengikuti kemana perginya Clara dan anak-anak jalanan yang di sebutnya sebagai teman.


Dari kejauhan, Daniel melihat Clara membawa anak-anak itu ke salah satu restoran cepat saji yang berada tak jauh dari taman. Tanpa Daniel sadari, pria itu tersenyum melihat interaksi Clara bersama anak-anak itu, gadis itu sama sekali tak merasa risih, dia membaur dengan sangat baik.


Hampir satu jam Daniel mengamati Clara dan anak-anak jalanan itu, setelah makan malam Clara mengajak anak-anak ke taman dan mengajarinya cara membaca dan menulis. Daniel melirik jam tangannya, sudah hampir jam sebelas malam namum Clara masih telaten mengajari anak-anak itu.


"Oke adik-adik, kita lanjut besok lagi ya. Sekarang sudah malam, kalian harus istirahat," ucap Clara seraya membenahi buku-buku yang pelajaran dan memasukannya ke dalam tas.


"Baik kak, selamat malam kak Clara, terima kasih untuk malam ini," jawab anak-anak itu serentak membuat Clara kembali tersenyum. Begitupun dengan Daniel yang lagi-lagi tanpa sadar ikut tersenyum melihat kegemberaan anak-anak itu.


Dari kejauhan, Daniel melihat seorang pria mabuk yang berjalan ke arah Clara. Daniel panik dan tanpa pikir panjang dia berteriak memanggil nama Clara.


"Claraaa!"


Clara menoleh, dia penasaran siapa yang memanggilnya sambil berteriak. Clara memicingkan matanya saat di melihat seorang pria berlari ke arahnya, pria yang tidak asing lagi untuknya.


Clara lalu berdiri saat Daniel sudah ada di depannya dengan nafas memburu. "Daniel, ada apa?" tanya Clara penasaran, seingat Clara beberap jam yang lalu Daniel sudah pulang, kenapa tiba-tiba dia ada di taman.


"Eh, itu, aku," Daniel tiba-tiba gugup, dia bahkan tak menemukan alasan yang pas kenapa dia ada di taman ini.


"Ada apa Dan?" tanya Clara lagi.


"Aku hanya penasaran dengan anak-anak yang kau temui tadi, apa mereka sudah pergi?" ya, itu dia. Akhirnya Daniel menemukan alasan tanpa harus ketahuan jika sejak tadi dia mengikuti Clara.


"Oh, mereka sudah pulang," jawab Clara, gadis itu lalu kembali duduk dan di susul dengan Daniel yang duduk di sebelahnya.


"Hem, sejak kapan kau berteman dengan mereka?" Daniel memberanikan diri untuk bertanya karena dia memang penasaran, bagaimana bisa gadis seperti Clara berteman dengan anak-anak yang hidup di jalanan.


"Hmm, entah, mungkin sejak aku masih SMA. Orang tuaku sangat sibuk, dulu saat kesepian aku selalu bermain ke taman ini dan tidak sengaja bertemu mereka. Dulu hanya tiga anak saja, dan sekarang semakin banyak yang berteman denganku," jawab Clara dengan tatapan lurus ke depan, seolah-olah dia tengah bernostalgia ke masa lalu.


"Oh begitu. Kau tidak merasa risih berteman dengan mereka?" entah apa yang ingin Daniel ketahui, dia kembali bertanya sambil menatap wajah Clara yang terlihat begitu manis.


"Tentu saja tidak, aku justru sangat kasian pada mereka. Mereka masih sangat kecil dan harus hidup di jalanan! Untuk itu, kadang-kadang aku mengajak mereka makan dan mengajari mereka cara membaca dan menulis," jawab Clara.


"Kau baik sekali," puji Daniel dengan tulus, Clara lalu menoleh ke samping sehingga netra mereka saling mengunci untuk beberapa saat.


Tatapan Daniel begitu dalam membuat Clara salah tingkah, gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya.


"Apa setiap hari kau menemui mereka?"


"Tidak Dan, tugas kampusku sangat banyak. Jadi sekarang aku hanya bisa bertemu mereka tiga kali dalam satu minggu, itupun kalau aku tidak punya acara keluarga! Sepertinya kau sangat tertarik dengan mereka Dan?" kini giliran Clara yang bertanya, dia heran mengapa Daniel terkesan sangat penasaran dengan anak-anak jalanan itu.


"Apa aku boleh ikut saat kau bertemu dengan mereka. Aku bisa memasakan mereka makanan yang enak dan sehat?"


Deg...


Clara tercenung untuk beberapa saat, namun kemudian gadis itu mengangguk mengiyakan permintaan Daniel.


"Aku akan menghubungimu jika aku akan bertemu mereka!"


Daniel tersenyum membuat Clara terpesona dengan pria itu, sebelumnya Clara mengira Daniel adalah tipe manusia cuek dan tidak bisa tersenyum. Tapi lihatlah, malam ini senyum Daniel terlihat sangat hangat.


"Sudah malam Ra, aku akan mengantarmu pulang!"


"Rumahku sudah dekat Dan, aku bisa jalan kaki," tolak Clara secara halus.


"Zea akan memakiku jika dia tau kau pulang sendirian," kilah Daniel memberi alasan.


"Aku tidak akan mengadu pada Zea, kau tenang saja!"


"Ini perintah Ra, jangan tolak niat baikku!"


"Iya oke, aku akan pulang bersamamu. Terima kasih sebelumnya!"


"Hari ini berapa kali kau mengucapkan terima kasih padaku?"


"Haha, entahlah!"


BERSAMBUNG...