
Hari ini Rama kembali ke Amerika, Zea dan kedua orang tuanya mengantarkan Rama ke bandara. Dan seperti biasa, Sam tidak ikut serta dengan alasan sibuk. Namun Zea mencoba memaklumi dan memberikan alasan kepada orang tuanya jika Sam memang sedang sibuk. Sepulang dari bandara, Zea dan kedua orang tuanya berpisah karena mereka membawa mobil masing-masing. Karena tidak tau mau melakukan apa, Zea memilih pergi ke supermarket untuk membeli beberapa barang keperluannya.
Zea tampak sibuk memilih keperluannya, hingga tak sengaja ekor matanya menangkap sosok yang tak asing baginya. Zea menaruh lagi barang yang ada di tangannya, gadis itu mengintip di antara rak penyimpanan dan dari sana dia melihat dengan jelas bahwa suaminya sedang belanja bersama Felisya.
Zea mencoba mengabaikannya, namun rasa sakit yang begitu dalam seolah memberinya keberanian, gadis itu mendekati kedua manusia yang sedang asik memilih sayur dan buah-buahan sambil tertawa bersama-sama.
"Uncle," panggil Zea, suaranya bergerat hingga terdengar sangat pelan.
Sam dan Felisya menoleh bersamaan, Sam begitu terkejut mendapati Zea berada di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sam dengan wajah panik.
"Hye Zea, kamu belanja juga ya?" kini Felisya yang bertanya kepada Zea.
"Hem," Zea hanya berguman sambil menganggukan kepala, namun rupanya hatinya tak begitu kuat, gadis itu menitikan air matanya di hadapan Sam dan Felisya.
"Kenapa kamu menangis?"
Zea menyeka air matanya dengan kasar. "Ah, saya hanya sedih bu, kembaran saya kembali ke Amerika," Zea memberi alasan yang menurutnya paling masuk akal.
"Ah, begitu," Felisya menepuk bahu Zea dengan pelan.
"Kalau begitu saya permisi bu, maaf mengganggu kalian," Zea mendorong trolinya dengan cepat, namun gadis itu tak membawanya ke kasir, dia meninggalkan belanjaannya begitu saja dan meninggalkan supermarket tersebut dengan perasaan yang hancur. Meski dia tau Sam tak mencintainya, namun tetap saja tindakan Sam sudah sangat menyakiti perasaannya.
Sementara Sam hanya bisa menatap kepergian Zea dengan rasa bersalah, namun dia juga tidak bisa membohongi hatinya jika dia bahagia bisa menghabiskan waktu bersama wanita yang dia cintai.
"Sam, ayo kita pulang," ajak Felisya setelah mereka selesai berbelanja.
"Kau tidak ingin makan dulu?" tanya Sam yang terlihat begitu perhatian.
"Kita makan di rumah saja, aku akan memasak untuk kita," jawabnya sambil tersenyum.
"Wah, aku tidak sabar mencicipi masakanmu," Sam tersenyum begitu lebar, keduanya lalu pulang ke apartemen Felisya.
"Masuk Sam, maaf berantakan," Sam mengekor di belakang Felisya dan masuk ke dalam apartemen tersebut. "Tunggu di sini, aku ambilkan minum," Felisya masuk ke dapur, tak lama berselang wanita itu kembali keluar membawa segelas orange jus.
"Di minum dulu Sam, aku ke dapur lagi ya. Aku akan masak untuk makan siang."
Sam hanya mengangguk, pria itu menunggu di ruang tamu, namun karena merasa bosan, Sam menyusul Felisya ke dapur. Sam menatap punggung Felisya yang sedang memasak, sebuah senyuman terbit di bibir tebalnya, entah mengapa dia begitu menyukai wanita yang kini sedang membelakanginya.
"Apa yang kau masak Fel?" tanya Sam setelah dia berdiri di samping Felisya.
"Aku masuk sup ayam Sam," sahut Felisya, wanita itu tengah sibuk memasukan semua bahan masakan ke dalam panci.
"Tentu, karena aku memasaknya dengan cinta."
Deg...
Cinta?
Sam menelan ludahnya dengan bersusah payah, mungkinkah Felisya juga mempunyai perasaan yang sama kepadanya. Jika begitu, apa yang harus Sam lakukan, sementara kini dia sudah menikah dengan Zea.
"Aku tunggu di depan ya, panggil aku kalau sudah matang," Sam memilih menghindar dan tak melanjutkan percakapan mereka. Bukan karena dia tak ingin, namun dia masih bingung harus berbuat apa, sementara kini dia terjebak bersama Zea.
Tak lama kemudian, Felisya memanggil Sam karena makan siang sudah siap. Dengan telaten Felisya melayani Sam, mengambilkan nasi serta lauk layaknya sepasang suami istri yang bahagia. Keduanya lalu menikmati makan siang mereka dengan di selingi canda dan tawa.
Berbeda hal dengan Zea, gadis itu tengah menangis pilu di dalam kamarnya. Dadanya terasa begitu sesak sehingga dia memukulnya berkali-kali. Dia tau bahwa keputusannya menikahi Sam akan membuatnya sakit hati, namun dengan bodohnya dia tetap bertahan dan setia mencintai Sam meski pria itu selalu mengabaikannya.
Fajar menyingsing, di sambut langit gelap di sertai rintik hujan yang tak terlalu besar. Zea meringkuk di lantai dengan badan mengigil, setelah setengah hari menangis, rupanya gadis itu terlelap di atas lantai yang dingin.
Zea ingin bangun saat dia mendengar ketukan pintu berkali-kali, namun tubuhnya terasa berat, dia tak bisa bergerak sampai akhirnya pintu terbuka.
"Zea," ucap Sam saat melihat tubuh istrinya meringkuk di bawah tempat tidur. Sam berjalan menghampiri Zea, pria itu bersimpuh dan mencoba membangunkan istrinya. Saat Sam mengguncang tubuh Zea, dia baru menyadari jika istrinya demam. "Zea bangun!" Sam mengangkat tubuh Zea dan membaringkannya di atas tempat tidur, dia kembali mengguncang tubuh Zea untuk membangunkannya.
"Ze, bangun Ze," Sama mulai panik, pria itu berlari turun ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres Zea.
Satu jam, dua jam, tiga jam...
Sudah hampir empat jam Sam menggompres kening Zea, demamnya mulai turun tapi gadis itu belum juga membuka matanya. Melihat mata Zea bengkak membuat Sam merasa bersalah, gadis itu pasti baru saja menangis karenanya.
Larut malam akhirnya Zea sadar, saat membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah Sam yang tertidur di atas kursi yang berada di sebelah tepat tidurnya.
"Uncle," panggil Zea dengan suara serak. "Uncle," ulangnya lagi karena Sam belum juga bangun. Zea lalu memberanikan diri menyentuh tangan Sam, dan hal itu berhasil membuat Sam terbangun, pria itu segera menepis tangan Zea.
"Kau sudah bangun? Kau itu ceroboh atau bodoh. Kenapa tidur di lantai,?"
"Maaf," hanya kata itu yang bisa Zea ucapkan. "Sudah malam, lebih baik uncle tidur," Zea mengusir Sam secara halus, dia hanya tidak ingin Sam melihat kondisinya yang menyedihkan.
"Hem, kau juga istirahat lagi. Minum obat nya," Sam menunjuk obat yang berada di atas meja, pria itu lalu keluar dari kamar Zea dan kembali ke kamarnya.
"Setidaknya kau masih peduli padaku Sam!"
BERSAMBUNG...