
"Daniel," ucap Zea dengan sedikit terkejut, dia tak menyangka akan bertemu Daniel di tempat seperti ini. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Zea kemudian.
"Aku sedang antri nasi pecel. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?"
"Sama aku juga sedang antri."
Daniel dan Zea lalu kembali ke barisan masing-masing. Gadis itu lalu mulai sibuk memesan bersama supir dan pengawalnya saat sudah gilirannya. Daniel mengamati interaksi Zea dan ketiga pegawainya, tak terlihat kesenjangan di antara mereka. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan kini Zea sedang mencuri lauk yang di ambil oleh supirnya. Benar-benar gadis yang baik hati.
Zea dan ketiga pegawainya duduk melingkar dan menikmati sarapan mereka. Tak lama Daniel datang menghampiri mereka.
"Boleh aku gabung?" tanya Daniel.
"Tentu saja," Zea menggeser duduknya memberi ruang untuk Daniel duduk, kini mereka duduk bersebelahan di kursi panjang.
Saat sedang makan,.pak supir melihat Zea sangat menikmati peyek kacang, gadis itu tak henti-hentinya mengunyah, saat peyek kacangnya habis, Zea terlihat murung.
Pak supir menyadari hal tersebut, dia lalu berdiri dan mengambil peyek yang di sukai oleh majikannya. Setelah beberapa saat mengantri, pria paruh baya itu kembali ke meja mereka membawa dua plastik peyek untuk Zea.
"Wah, terima kasih pak, bapak tau aja Zea doyan," ucap Zea sambil tersenyum senang.
"Sama-sama non."
Mereka lalu kembali menikmati sarapan, tak ada percakapan hingga mereka menghabiskan sarapannya. Setelah menyelesaikan sarapannya, Zea mengambil dompet lalu beranjak dari tempat duduknya. "Kalian tunggu di sini, biar Zea bayar dulu!"
"Biar aku yang traktir Ze," Daniel ikut berdiri.
"Aku yang traktir pagi ini. Dan aku tidak suka penolakan," tolak Zea.
"Oke. Aku akan mentraktirmu lain kali!"
Zea meninggalkan ke empat pria itu. Dan hal tersebut tak ingin Daniel sia-siakan. Dia ingin mengenal Zea lebih jauh lagi. Dan langkah pertama adalah harus akrab dengan ketiga pria yang selalu bersama Zea.
"Kalian pasti sudah lama bekerja dengan Zea?" tanya Daniel membuka percakapan.
"Kami mulai bekerja saat non Zea berusia delapan tahun, jadi sudah 12 tahun kami menjaga non Zea," jawab pak supir. Di antara ketiga pria itu pak supirlah yang terlihat lebih tua.
"Wah, sudah lama ya. Pantas saja kalian sangat dekat"
"Non Zea tidak pernah memperlakukan kami layaknya seorang pegawai. Kata non Zea kami adalah keluarganya. Dulu sebelum non Zea pindah, kami bahkan selalu sarapan bersama tuan dan nyonya. Keluarga non Zea sangat baik dan dermawan. Tidak membeda-bedakan kasta. Makanya kami betah kerja bersama non Zea," jelas salah satu pengawal Zea.
Setelah membayar, Zea menghampiri ke empat pria itu. Dia harus segera ke kampus karena ada mata kuliah pagi.
"Daniel, aku pergi dulu ya. Aku harus ke kampus sekarang," pamit Zea.
"Hem. Hati-hati di jalan Ze!"
"Ya, kau juga. Aku tunggu traktiranmu ya!"
.
.
Hari ini Sam berangkat ke kampus sendirian. Rasanya ada sesuatu yang hilang saat Zea tak berada di mobilnya. Biasanya gadis itu sangat cerewet saat mereka berangkat ke kampus. Namun pagi ini saja Sam tidak melihat bayangan istrinya. Hanya sebuah pesan yang Zea tinggalkan. Katanya dia ada urusan di luar.
Sam memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Felisya. Keduanya lalu turun bersama-sama dan saling menghampiri. Felisya tersenyum dengan begitu anggun, dia berharap Sam akan mengajaknya makan siang karena sudah beberapa hari terakhir mereka tidak pernah makan siang bersama lagi.
"Haii Sam," sapanya dengan lembut.
"Hai," Sam terlihat canggung. Berhadapan dengan Felisya membuatnya gugup.
"Sudan lama kita tidak ngobrol. Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?"
"Maaf Fel aku tidak bisa," tolak Sam secara langsung.
"Why? Apa aku punya salah? Kenapa kau terus menghindariku akhir-akhir ini Sam?" cecar Felisya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Kau tidak salah Fel. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak membawamu dalam hubungan rumitku bersama Zea. Kau boleh menganggapku badjingan Fel, aku minta maa, aku tidak bisa menemuimu lagi. Mari akhiri kerumitan ini," ucap Sam, setelah semalaman merenung pria itu memutuskan untuk benar-benar belajar menerima Zea. Dan hal pertama yang harus dia lakukan adalah menjauh dari Feliysa.
"Apa maksudmu Sam. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Felisya dengan wajah memerah, antara marah dan kesal bercampur menjadi satu.
"Aku sudah berjanji akan belajar menerima Zea. Mungkin dia memang yang Tuhan takdirkan untukku. Maafin aku Fel, sekali lagi aku minta maaf," Sam lalu meninggalkan Felisya. Wanita itu menatap nanar kepergian Sam, kedua tangannya terkepal dan sorot matanya penuh kebencian.
"Kita lihat saja Sam. Kau akan mengemis cinta di kakiku!"
BERSAMBUNG...