
Kini Zea tengah melewati hari-harinya dengan bahagia karena selama sebulan terakhir Sam benar-benar memperlakukannya dengan baik dan perhatian. Beberapa kali Sam juga membelikan hadian untuk Zea meski gadis itu tak memintanya, dan yang sangat membuat Zea bahagia adalah Sam benar-benar menepati janjinya, pria itu tidak pernah menemui Feli di luar tanpa sepengetahuan Zea, bahkan Sam selalu mengacuhkan panggilan dan pesan dari Felisya.
Seperti malam ini, keduanya berada di ruang keluarga dan sedang menonton televisi, tiba-tiba Sam merebahkan kepalanya di pangkuan Zea dan membuat gadis itu terkejut sekaligus bersorak bahagia.
"Ze," panggil Sam seraya menatap Zea dari bawah, gadis itu lalu menunduk sehingga mata mereka saling bertemu.
"Ya," sahut Zea dengan gugup.
"Besok sepertinya aku pulang telat karena ada rapat akademik dengan Rektor baru, beliau juga mengajak untuk makan malam bersama," ucap Sam, meski terkesan hanya memberi tahu istrinya namun sebenarnya dia sedang meminta izin dari Zea.
Zea memberanikan diri untuk menyentuh wajah suaminya, gadis itu lalu mengangguk dan tersenyum dengan sangat manis. "Hem, aku akan menunggu uncle di rumah."
Sam turut tersenyum, pria itu lalu meraih tangan Zea dan mengecupnya. "Terima kasih Ze," ucapnya tulus..
.
Sepulang dari kampus, Zea pergi ke sebuah kafe untuk menemui Daniel karena sebelumnya mereka sudah membuat janji. Zea tersenyum saat Daniel melambaikan tangannya seat melihat Zea masuk ke dalam kafe tersebut. Zea lalu menghampiri Daniel dan duduk di hadapannya.
"Maaf ya aku telat," ucap Zea seraya meletakan tas di kursi lain yang ada di sebelahnya.
"It's okay aku juga baru datang kok," sahut Daniel. "Oh ya, kenapa kamu ingin bertemu di luar, besok kan kita ada kelas?" tanya Daniel kemudian.
"Begini Daniel, seeprtinya aku harus berhenti dari kelas memasak. Uncle Sam melarangnya, dia juga mengadu kepada orang tuaku. Kau tau sendiri kan kondisiku, mereka takut aku terluka selagi belajar memasak," jelas Zea dengan perasaan tidak enak karena tiba-tiba mengakhiri kelas memasak bersama Daniel secara sepihak.
Daniel mengangguk dengan wajah kecewa, meski sebelumnya dia lebih kecewa saat mengetahui Zea telah menikah, namun setidaknya dia bisa melihat Zea dari dekat saat mereka belajar memasak.
"Ya, aku tau kekhawatiran mereka. Tapi Ze, bisakah kita tetap berteman?"
Zea tersenyum ke arah Daniel, dia merasa lega karena Daniel menerima keputusannya untuk berhenti dari kelas memasaknya. "Tentu saja Daniel, itupun kalau kau tidak keberatan berteman dengan gadis lemah sepertiku."
"Jadi kita tetap berteman ya!"
Zea mengangguk, keduanya lalu kembali berbicang dan menikmati kopi serta soft cake yang sudah Daniel pesan sebelum Zea datang. Setengah jam kemudian Zea pamit untuk pulang, mau tidak mau Daniel harus membiarkan gadis itu pergi, meski sangat rasanya sangat berat. Setelah hari ini, sudah dapat di pastikan Daniel akan kesulitan menemui Zea, dia tak lagi memiliki alasan khusus untuk bertemu gadis yang telah berhasil mencuri hatinya.
Langit mulai petang, setelah rapat selesai, para dosen dan rektor kampus pergi ke restoran untuk makan malam bersama. Mereka pergi ke restoran milik Sam karena Sam memang di kenal sebagai dosen dan juga pengusaha yang memiliki banyak restoran di berbagai kota besar.
Sam sengaja mengosongkan restorannya untuk acara makan malam tersebut, dia ingin memberikan pelayanan terbaik untuk rekan-rekannya. Apalagi saat ini ada orang penting yang turut datang yaitu rektor kampus yang baru.
Acara makan malam tersebut berlangsung meriah, semua orang menyukai menu masakan yang ada di restoran milik Sam. Setelah selesai makan mereka melanjutkannya dengan mencicipi berbagai hidangan penutup.
"Benar, mana makanannya enak-enak lagi pak Sam. Lain kali saya mau ke sini lagi mengajak anak dan istri saya," sahut rekan yang lainnya.
"Terima kasih pujiannya pak. Silahkan datang lagi, saya akan memberikan diskon khusus untuk rekan-rekan semuanya," balas Sam dengan senyuman ramah.
Sementara di sisi lain restoran, Felisya tak henti-hentinya menatap Sam hingga menarik perhatian dosen yang lain.
"Udah bu Feli, ikhlasin aja. Mungkin kalian memang tidak jodoh. Bu Feli kan cantik pasti dapat pria yang lebih baik dan lebih tampan dari pak Sam," ucap seorang dosen wanita yang duduk di sebelah Felisya.
Felisya tersenyum getir. "Iya bu, kami memang tidak berjodoh," jawab Felisya dengan kalem meski hatinya terus berteriak dan memaki Zea karena gara-gara gadis itu dia tidak bisa memiliki Sam dan semua kekayaan Sam.
Malam semakin larut, satu persatu dosen mulai pulang dan menyisakan seorang Felisya. Wanita itu berkalan menghampiri Sam yang sedang membantu karyawannya membereskan meja.
"Sam, kita perlu bicara," ucap Felisya dengan tatapan memohon.
"Ya, bicaralah!" Sam tak memperhatikan Felisya sama sekali karena dia tau jika dia menatap Felisya maka dia tidak akan bisa menolak keinginan wanita itu. Dia harus tetap memegang janjinya, apalagi Zea sudah menyerahkan diri sepenuhnya. Mereka telah menyatu dan besar kemungkinan akan hadir seorang bayi di antara mereka karena Sam tidak pernah menggunakan pengaman saat mereka melakukannya.
"Banyak orang di sini Sam, aku ingin bicara empat mata denganmu," Felisya tak menyerah, dia harus kembali merebut perhatian Sam. Selama sebulan ini Sam selalu menghindarinya dan semakin dekat dengan Zea.
Sam membuang nafas dengan kasar, pria itu lalu menghentikan pekerjaannya dan menatap Felisya. "Maaf Fel, sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Hubungan kita sudah selesai, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Zea. Aku mohon mengertilah!" ucap Sam penuh penegasan.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi Sam?" tanya Felisya dengan mata berkaca-kaca, dia sangat tau jika Sam selalu luluh saat melihatnya menangis.
Sekuat tenaga Sam menahan tangannya untuk tidak menghapus air mata Felisya. Dia harus menjaga perasaan Zea, dia harus bisa menahan diri untuk tidak terlibat lagi dengan Felisya.
"Maaf Fel," hanya kalimat singkat itu yang keluar dari mulut Sam, pria itu meraih tas dan jasnya dan segera kelur dari restoran sebelum pertahanannya runtuh.
Namun bagi Felisya kalimat itu sama artinya dengan Sam sudah tidak mencintainya lagi dan Sam mulai membuka hati untuk Zea. Felisya mentap kepergian Sam dengan nanar, sungguh dia tidak rela sumber uangnya pergi meninggalkannya. "Apa kau sudah menyentuhnya?"
Deg...
Sam menghentikan langkah kakinya sejenak, pria itu berdiam diri beberapa detik lalu kembali berjalan tanpa memberikan jawaban apapun. Felisya menggeram kesal dengan kedua tangan terkepal, dia tidak akan melepaskan Sam semudah itu.
"Kita lihat saja Sam, kau akan kembali padaku. Dan Zea, aku akan menyingkirkan gadis sialan itu dari sisimu!"
BERSAMBUNG...