
"Kau ingin jawabannya sekarang?" tanya Clara dan Daniel mengangguk dengan semangat.
"Aku..."
Daniel menatap Clara dengan serius, dia sangat penasaran dengan jawaban yang akan Clara berikan.
"Hujan," teriak anak-anak dan satu persatu dari mereka berlarian mencari tempat berteduh.
Daniel segera menarik tangan Clara, keduanya lalu berlari mencari tempat terdekat, karena tak menemukan apapun Daniel membawa Clara ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil Clara terlihat kedinginan karena mereka sempat terkena air hujan. Daniel lalu meraih sesuatu dari kursi belakang, rupanya pria itu mengambil jas yang selalu dia bawa di mobilnya. Daniel lalu menyelimuti tubuh Clara dengan jas tersebut.
"Masih dingin?" tanya Daniel yang terlihat sangat mengkhawatirkan Clara.
"Sedikit. Kau tidak kedinginan? Bajumu basah Dan," jawab Clara seraya menatap hodie yang Daniel kenakan.
"Dingin si, tapi is's okay. Aku masih bisa menahannya."
Di luar hujan semakin lebat, kedua nya pun hanya diam dan menatap ke luar jendela.
"Mau aku antar pulang sekarang?" tanya Daniel setelah sekian lama mereka hanya diam.
"Tapi sepedaku," jawab Clara, sebenarnya sepeda hanya alasan saja karena dia masih ingin bersama Daniel.
"Kau tunggu di sini sebentar, aku akan mengambilnya," Daniel hendak keluar dari mobil namun Clara segera menahan tangannya, di luar hujan sangat besar bagaimana mungkin Clara membiarkan Daniel kehujanan.
"Tidak usah," cegah Clara dengan cepat. Daniel mengurungkan niatnya, pria itu lalu menatap tangan Clara yang masih menahan tangannya. "Aku akan mengambilnya besok," imbuh Clara seraya melepaskan tangannya, namun secepat kilat Daniel menahan tangan Clara dan menggenggamnya dengan erat. Daniel bisa merasakan tangan Clara yang begitu dingin. Daniel duduk sedikit miring, dia lalu meraih satu tangan Clara lagi sehingga kedua tangan Clara berada di genggamannya. Daniel lalu meniup tangan Clara yang kedinginan, sesekali Daniel menggosok tangannya dan menempelkannya di tangan Clara agar terasa sedikit hangat
Clara menatap Daniel yang masih sibuk meniup tangannya, dia tak percaya akan menemukan pria yang sangat perhatian kepadanya. Tiba-tiba terlintas pikiran aneh, Clara tidak mau kehilangan Daniel. Meski dia belum sepenuhnya melupakan Dave, namun dia juga tidak mau melaskan Daniel. Bersama Daniel, Clara merasa begitu di cintai dan di hargai.
"Daniel," panggil Clara dengan lembut.
"Ya," Daniel menyahutnya singkat.
"Daniel," ulang Clara karena Daniel masih sibuk memberi kehangatan untuknya.
Daniel lalu menghentikan aktivitasnya dan menatap Clara. "Ada apa?"
"Apa kau benar-benar menyukaiku?" tanya Clara seraya menatap Daniel sehingga netra mereka saling beradu.
"Kenapa kau bertanya seperti tiu?"
"Aku hanya penasaran. Apa yang kau sukai dari gadis seperti ku."
"Tidak ada alasan khusus kenapa aku menyukaimu. Aku hanya senang setiap bersamamu, aku sedih melihatmu menangis dan aku bahagia saat kau tertawa. Bagiku menyukai mu tak perlu alasan apa pun," jawab Daniel dengan lembut namun penuh penekanan.
Clara tak bisa berkata-kata lagi, dia sangat terharu mendengar jawaban Daniel. Selama bertahun-tahun dia mencintai Dave dan hanya luka yang dia dapatkan. Clara tidak menyangka Tuhan mengirimkan Daniel untuk membantunya sembuh dari luka.
"Lalu kenapa kau tidak menyukaiku?"
Deg...
Bagaimana Clara harus menjawab pertanyaan Daniel. Seandainya Daniel datang lebih dulu dari Dave, mungkin Clara akan mencintai Daniel karena pria itu begitu baik dan perhatian. Meski di beberapa momen jantung Clara berdebar karena Daniel, namun dia belum yakin jika dia menyukai Daniel. Satu hal yang pasti, Clara merasa nyaman dan aman saat bersama Daniel.
Sementara itu Clara masih menatap tangannya dengan perasaan tak rela. Dia merasa sedih saat tiba-tiba Daniel melepaskan tangannya, dia tidak rela.
"Daniel," panggil Clara dengan pelan.
"Ya," Daniel menoleh, di saat yang bersamaan Clara segera menecup bibir Daniel dan membuat pria itu sangat terkejut, sakit terkejutnya Daniel bahkan tidak bernafas untuk beberapa detik.
"Ayo kita pulang," ucap Clara dengan santai, setelah apa yang dia lakukan pada Daniel.
"Apa maksud nya Ra?" Daniel bertanya dengan tatapan penuh harap.
Clara hanya mengangkat keduanya bahunya dan tersenyum samar.
"Ra, apa artinya kau menerimaku? Jawab Ra!" Daniel menjadi tidak sabaran, dia sangat ingin mendengar kata 'Ya' terucap dari bibir Clara.
"Hem," gumam Clara dengan kepala menunduk.
"Hem? Apa artinya itu, ya atau tidak?
"Jawab Ra!" tuntut Daniel karena Clara hanya diam dan menunduk.
"Clara!!"
"Kenapa kau hanya diam saja!"
"Kau cerewet sekali Daniel," Clara berujar sambil menatap wajah Daniel.
"Aku hanya ingin tau kenapa kau menciumku lagi," ucap Daniel sedikit menurunkan nada bicaranya.
"Aku masih belum sepenuhnya melupakan Dave, apa kau tidak keberatan?"
Dave menggeleng pelan. "Tidak. Aku akan membuatmu melupakan dia secepatnya!"
Daniel menatap Clara dengan lembut, perlahan pria itu mulai mendekatkan wajahnya ke depan wajah Clara, jarak semakin terkikis sehingga Daniel bisa merasakan nafas hangat Clara yang menyapu wajahnya. Tangan Daniel lalu membelai pipi Clara.
"Aku menyukaimu Ra," ucapnya pelan namun memabukan.Daniel tersenyum samar, detik berikutnya Daniel menempelkan bibirnya di bibi Clara yang terasa kenyal dan dingin. Karena tak mendaparkan pelolakan dari gadis itu Daniel semakin memperdalam ciumannya, dia menghisaap bibi Clara dengan lembut memancing Clara untuk segera membalas ciumannya.
"Dan," pekik Clara seraya mendorong tubuh Daniel, pria itu lalu melepas ciumannya karena Clara terus mendorong tubuhnya.
"Maaf Ra, aku lancang," ucapnya penuh sesal. "Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan, aku hanya tidak bisa menahannya, maaf Ra. Aku..."
"Aku kehabisan nafas," potong Clara sebelum Daniel menyelesaikan kalimatnya.
Daniel tersenyum melihat wajah Clara yang sedang tersipu malu. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan.
"Boleh aku melakukannya lagi?" tanya Daniel dan Clara hanya mengangguk. Clara tidak munafik, dia menikmati sapuan bibi Daniel yang begitu lembut.
Daniel kembali mendekatkan wajahnya, tak ingin menyiakan kesempatan dia segera melumaaat bibir Clara yang begitu manis dan menggoda. Daniel cukup terkejut saat Clara tiba-tiba membalas ciumannya, keduanya lalu saling bertaut, bertukar saliva di tengah guyuran hujan yang sangat lebar di luar sana.
Daniel melepaskan ciumannya, dia menempelkan keningnya di kening Clara. "Aku akan menganggap ini sebagai jawabanmu Ra. Setelah ini kau tidak boleh berubah pikiran. Kau tidak bisa melarikan diri lagi. kau milikku sekarang!"
BERSAMBUNG...