
Seminggu telah berlalu, kembali pada kesepakatan awal, Sam tetap menemani Zea sarapan pagi dan membiarkan Zea berangkat ke kampus bersamanya. Meski hatinya sakit karena Sam semakin acuh padanya, namun Zea tetap melayani Sam dengan baik. Setiap pagi dia akan memesan makanan untuk sarapan, Zea juga mulai belajar mencuci piring meski harus berakhir lusinan piring menjadi korban karena pecah.
Seperti pagi ini, Zea menunggu Sam di meja makan karena pria itu tak kunjung turun. Saat Sam turun, Zea mencoba tersenyum semanis mungkin, menutupi lara hatinya yang mendalam karena pria yang selalu mengacuhkannya. Sam duduk tanpa suara, pria itu cuek saat Zea menyiapkan sarapan untuknya.
"Hari ini hanya ada sandwich uncle," ucap Zea meski lagi-lagi tak mendapatkan respon dari suaminya.
Zea tersenyum getir, gadis itu lalu duduk dan memakan sandwich nya meski tak berselera. Zea harus tetap makan, mengisi tenaga agar dia sanggup melewati hari-harinya yang berat karena harus bergelut dengan hati dan pikirannya. Setiap saat otaknya menyuruh berhenti dan pergi, namun lagi-lagi hatinya menolak perintah sang otak dan dengan bodohnya tetap bertahan, berharap suatu saat datang keajaiban.
Selesai sarapan keduanya bersiap pergi ke kampus. Seperti biasa Sam hanya diam, sesekali dia melirik ponselnya dan membalas pesan dari orang yang Zea yakini adalah Felisya. Zea berpura-pura tak menyadari hal tersebut, namun gadia itu sedikit terusik saat Sam membawanya ke tempat asing yang belum pernah dia datangi.
"Uncle, ini dimana?" tanya Zea seraya menatap rumah dua lantai di hadapannya.
"Rumah Felisya," jawab Sam santai seolah dia sengaja ingin menyakiti hati istrinya.
"Kenapa kita kemari?" Zea bertanya dengan bibir bergetar.
"Mobil Feli rusak dan dia memintaku menjemputnya!"
"Apa bu Feli tidak bisa memesan taxi?"
Pertanyaan Zea tak terjawab karena wanita yang menjadi rivalnya keluar dari rumah dan menghampiri mobil dengan senyum yang begitu cerah. Sam lalu keluat dari mobil begitupun Zea. Ekspresi wajah Felisya mendadak berubah, senyumnya hilang saat melihat Zea.
"Zea," ucapnya terkejut.
"Sam, kenapa kau tidak bilang kalau kau bersama Zea. Aku kan bisa naik taxi. Sam kau membuatku merasa bersalah," ujar Felisya seraya menatap Sam.
"Zea, aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk...
"Tidak masalah bu, lagi pula kita satu arah," potong Zea dengan cepat. "Ayo kita berangkat!" Zea lalu masuk ke dalam mobil, dia kembali duduk di kursinya. Dia tak akan membiarkan Felisya merebut kursinya. Zea akan mempertahankan haknya dalam sepuluh bulan ke depan, sisanya biar Tuhan yang menentukan. Apakah Sam akan memilihnya atau akan tetap bersama Felisya. Yang terpenting Zea sudah berusaha agar dia tidak menyesal di kemudian hari.
"Sam, seharusnya aku naik taxi saja," ucap Felisya dengan wajah bersalah.
"Tidak papa. Aku ingin Zea tau kalau selamanya hatiku hanya milikmu."
"Tapi sikapmu keterlaluan Sam. Aku bersedia menunggu bukan berarti aku harus menyakiti Zea apalagi menjadi pihak ke tiga."
"Sudahlah, jangan bahas itu. Aku kita berangkat."
Sam dan Felisya lalu menyusul Zea masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan ketiganya hanya diam. Seperti biasa, Zea akan meminta Sam menghentikan mobilnya di tepi jalan yang jauh dari kampus.
"Selamat menikmati waktu berdua," sindir Zea sebelum gadis itu turun. Sam tak menjawab, seperti biasa dia hanya akan memperhatikan Zea dari dalam mobil.
"Sam, apa Zea akan baik-baik saja?" tanya Felisya begitu dia duduk di sebelah Sam.
"Hem. Lagi pula dia sudah tau mengenai kita," jawab Sam dengan wajah datar.
"Kenapa aku merasa Zea menaruh perasaan padamu Sam?"
"Tidak Fel, itu hanya perasaanmu saja. Dia memang manja padaku karena selama ini aku selalu memperlakukannya dengan baik seperti keponakan kandungku."
"Oh begitu," jawab Felisya ragu.
Sam mengetahui keraguan Felisya, pria itu meraih tangan Felisya dan menggenggamnya dengan tangan kiri. "Percayalah padaku, pernikahan ini tidak di dasari cinta sama sekali. Tunggu aku dan bersabarlah," ucap Sam menenangkan wanita pujaannya.
"Aku akan mempercayaimu Sam. Tapi jangan pernah kau hancurkan kepercayaan ini."
"Pasti."
.
.
"Apa?" pekik Clara dan Dave bersamaan. Kedua orang itu terkejut sekaligus geram mendengar cerita Zea tantang Sam yang menjemput Felisya pagi tadi.
"Aku tidak percaya uncle Sam berbuat setega itu," ucap Clara seraya menggelengkan kepalanya.
"Mungkin karena uncle Sam sangat mencintai bu Felisya," sahut Zea dengan senyum getir di wajahnya.
"Tetap saja, apa yang uncle Sam lakukan sudah sangat keterlaluan," Dave menimpali dengan rahang mengeras.
"Ibu Felisya juga kenapa setuju di jemput oleh uncle. Memangnya dia tidak bisa memesan taxi online apa?" Clara benar-benar jengkel, jika dia ada di posisi Zea mungkin dia sudah menggila. "Dan lagi kenapa wanita secantik dan sesukses bu Felisya mau menunggu suami orang," lanjut Clara, sebelumnya Zea sudah menceritakan kejadian di luar restoran saat tak sengaja Zea mendengar percakapan Sam dan Felisya.
"Ze, sepertinya kau harus waspada kepada bu Feli. Aku sedikit curiga kepada wanita itu. Benar apa kata Clara, dia terlalu cantik dan sukses untuk menunggu pria yang sudah menikah!" pesan Dave mengingatkan sang sahabat.
Zea hanya diam, memikirkan ucapan kedua sahabatnya. Jika di pikir-pikir lagi ucapan kedua temannya ada benarnya. Lebih baik Zea lebih waspada, sepertinya Zea harus menyelidiki alasan mengapa Felisya mau menunggu Sam.
BERSAMBUNG..
Enaknya Sam di apain nih?