
Seperti yang Zea harapkan, pagi ini Sam menemaninya sarapan dan untuk pertama kalinya setelah menikah mereka berada di meja makan yang sama. Hal tersebut tentu saja membuat Zea sangat bahagia, dia begitu bersemangat dan berniat untuk melayani suaminya, namun saat Zea akan mengambilkan nasi ke piring Sam, pria itu menolaknya.
"Aku bisa sendiri," ucap Sam begitu dingin.
Zea mencoba untuk tersenyum, gadis itu kembali duduk dan menyiapkan makanannya sendiri. "Maaf uncle, karena Zea tidak bisa masak jadi Zea hanya memesan sarapan dari luar," kata Zea sambil menatap wajah datar suaminya. Sungguh perbedaan yang sangat ketara, saat bersama Felisya, pria itu mengizinkan Felisya untuk menyiapkan makanannya, Sam juga tersenyum begitu lebar, namun saat bersama Zea, hanya wajah masam yang Sam tampilkan.
"Hem," Sam hanya bergumam, dia lalu fokus pada sarapannya. Tidak ada kata-kata yang terucap di ruang makan, keduanya bak orang asing yang kebetulan makan di meja yang sama.
Zea menyelesaikan sarapannya lebih dulu, meninggalkan piring kotor dan kembali ke kamarnya. Sam menghela nafas berat, seusai sarapannya habis, Sam mencuci piring kotor miliknya dan juga milik sang istri.
Sam bersiap pergi ke kampus, pria itu masuk ke dalam mobilnya dan di buat terkejut karena Zea sudah berada di dalamnya, duduk dengan santai dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sam dengan alis bertaut.
"Mulai hari ini aku akan berangkat ke kampus bersama uncle," jawab Zea dengan santai, gadis itu bahkan tersenyum, meski tak ada yang tau apa arti dari senyumannya.
"Bukannya kau punya supir sendiri?"
"Ah, aku menyuruh mereka istirahat di rumah mama," lagi-lagi Zea menjawabnya dengan santai. "Uncle keberatan? Atau uncle malu?"
Sam tidak menjawab, pria itu lalu memasang sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya. Perjalanan ke kampus terasa begitu lama, sepasang suami istri itu hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sam sedang berpikir bagaimana caranya dia mengatakan kepada Felisya tentang pernikahannya bersama Zea, sementara Zea, gadis itu sedang berusaha menguatkan hati agar tak terlihat lemah dan mudah di tindas.
"Uncle berhenti," ujar Zea dan Sam segera menepikan mobilnya.
"Kenapa?" Sam menoleh dan bertanya.
"Zea turun di sini saja, uncle pasti khawatir bu Felisya melihat kita kan," Zea melepaskan sabuk pengamannya. "Terima kasih tumpangannya uncle," ucapnya lalu turun dari mobil, gadis itu lalu berjalan di trotoar karena jarak kampus masih cukup jauh.
Sam menatap punggung Zea yang semakin jauh, lalu dia kembali melajukan mobilnya. Hari ini Zea berhasil membuatnya semakin merasa bersalah.
.
Saat jam makan siang, Dave dan Clara menghampiri Zea karena mereka akan makan siang di luar. ketiga anak muda itu berada di salah satu restoran cepat saji yang tak jauh dari kampus mereka. Begitu masuk ke dalam restoran, tak sengaja Zea melihat Sam dan Felisya yang tengah menunggu makan siang mereka. Hatinya sakit, perasaannya terluka, tapi Zea tak boleh menunjukannya. Dengan sedikit keberanian yang dia miliki, Zea menghampiri Sam dan Felisya.
"Ze kau mau kemana?" tanya Clara saat tiba-tiba Zea berjalan menghampiri dua orang yang berasa di sudut restoran.
"Bukannya itu uncle Sam dan bu Felisya," Dave menunjuk dua manusia yang tengah tertawa bersama.
"Astaga, gawat!" Clara lalu berlari menyusul Zea, dia khawatir Zea akan melakukan sesuatu yang tak terduga. Mengingat saat Zea menyiram pelayan restoran yang sedang viral, Clara takut Zea akan melakukannya kelada Felisya.
"Uncle," panggil Zea dengan lembut, Sam dan Felisya menoleh secara bersamaan, wajah Sam terlihat menegang sementara Felisya tersenyum ramah.
"Hai Zea," sapa Felisya.
"Kalian makan siang di sini juga. Boleh Zea gabung?" tanya Zea seraya menatap tajam suaminya.
'Tentu," jawab Feliysa setuju.
"Ze, mejanya terlalu kecil. Lebih baik kita cari meja yang lain," sela Clara yang sudah berdiri di samping Zea.
"Mereka kayanya pacaran deh," celetuk Dave.
"Kalau mereka pacaran, kamu bisa melaporkan mereka Ze, mereka bisa terkena pasal 284 KUHP tentang tindakan zina," Clara berujar, sebagai mahasiawi yang mengambil jurusan hukum, Clara tentu paham mengenai hukum orang yang melakukan perselingkuhan.
"Kenapa Zea harus melaporkan mereka?" tanya Dave dengan wajah bingung.
"Dave belum tau Ze?" Clara menatap Zea dan gadis itu hanya menggeleng.
"Hal apa yang belum aku tau?" Dave menimpali.
"Maaf Dave, sebenarnya aku dan uncle Sam sudah menikah beberapa bulan yang lalu!" jujur Zea pada akhirnya.
"Apa?" Dave begitu terkejut, pemuda itu bahkan terlonjak dari duduknya, kakinya tak sengaja membentur meja hingga minuman yang ada di atas meja tumpah.
Sam dan Felisya menoleh saat mereka mendengar kegaduhan, di saat yang bersamaan Dave juga menoleh ke arah Sam sehingga netra kedua pria itu beradu.
"Anak itu kenapa? kenapa dia menatapmu seperti itu Sam?" ujar Felisya yang merinding melihat tatapan skeptis dari Dave.
"Entah."
Dave masih menatap tajam ke arah Sam, entah apa yang di pikirkan oleh pemuda itu, tiba-tiba saja dia menghampiri Sam dengan kilat amarah di wajahnya.
Zea dan Clara yang panik mengekori Dave dari belakang.
"Sam," panggil Dave tanpa embel-embel uncle di belakangnya, pemuda itu sangat marah. Namun entah apa yang membuatnya marah, karena Zea dan Sam sudah menikah atau karna Sam bersama wanita lain meski Sam sudah menikah.
"Ada apa Dave?" tanya Sam bingung, kenapa tiba-tiba Dave memanggil namanya.
"Apa pantas seorang pria yang sudah menikah selalu menghambiskan waktu makan siangnya dengan wanita lain?"
"Dave cukup!"
BERSAMBUNG....
Zea..
Sam..
Felisya