
Zea bangun dengan wajah yang berseri-seri, gadis itu begitu bersemangat di pagi ini. Dia bangun lebih awal dan membeli sarapan untuk suaminya. Pagi ini akan menjadi awal bagi mereka, semoga saja Sam akan segera mencintainya.
Pagi ini Zea sengaja bersolek, gadis itu ingin menarik perhatian Sam agar pria itu tidak memikirkan Felisya lagi. Zea sudah menunggu Sam di meja makan, tak lama kemudian pria itu turun dan menghampiri Zea.
"Pagi uncle," sapa Zea dengan ramah.
Sam duduk di kursinya, pria itu melirik istrinya sesaat. "Pagi Ze," balasnya menyapa.
Bukannya senang, Zea justru menangis karena Sam membalas sapaannya.
"Kenapa? Apa kau sakit?" tanya Sam panik.
"Tidak uncle, Zea hanya terlalu bahagia karena uncle mau menyapa Zea," jawab Zea seraya menghampus air matanya.
"Hanya karena itu?" tanya Sam dengan kening mengkerut.
"Simple memang tapi sangat berarti untuk Zea."
"Aku akan menyapamu setiap pagi," ujar Sam dan sontak membuat Zea terperangah.
"Uncle serius?"
"Ya. Cepat makan sarapanmu. Kita bisa terlambat."
"Hem," Zea mengangguk patuh, dia menghabiskan sarapannya dengan hati berbunga-bunga.
Setelah sarapan, Sam membereskan meja makan dan membawa piring kotor ke wastafel.
"Biar Zea yang mencucinya uncle!" ucap Zea menawarkan diri.
"Tidak Ze, kita sudah telat," larang Sam dengan cepat, dia masih ingat saat Zea memecahkan hampir selusin piringnya. "Ayo kita berangkat!"
"Hem," Zea beranjak dari kursinya, gadis itu meraih tasnya dan berjalan melewati Sam. Saat itu Sam baru menyadari jika Zea terlihat berbeda, gadis itu memakai dress selutut tanpa lengan sehingga memamerkan kulit putihnya.
"Ze, kau yakin akan memakai baju itu?" ucap Sam sebelum keduanya masuk ke dalam mobil.
"Hem. Apa tidak cocok untukku?" tanya Zea seraya mengamati penampilannya sendiri.
"Sepertinya terlalu terbuka," ujar Sam, entah mengapa dia tidak suka saat Zea terlihat begitu cantik.
"Di kampus banyak yang lebih terbuka dari ini uncle."
"Tapi tidak cocok untukmu. Kau lebih cocok memakai celana panjang dan hoodie kebesaran seperti biasanya!"
"Begitu ya. Besok Zea tidak akan memakai dress lagi."
"Gadis pintar. Ayo cepat masuk!"
Zea lalu masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan mereka hanya diam. Seperti biasanya mereka masih terlihat canggung.
"Stop uncle. Zea turun di sini saja," ucap Zea begitu mereka sampai di tempat biasa Zea turun. "Uncle, kenapa tidak berhenti?" Zea menoleh dan menatap Sam penuh tanya.
"Kita akan ke kampus bersama!"
Zea menggigit bibir bawahnya, rasanya dia seperti sedang bermimpi. Dia sangat bahagia dengan perlakuan Sam. Setidaknya pria itu sedang berusaha menerima kehadirannya.
Di parkiran kampus, Sam dan Zea bertemu dengan Felisya. Wanita itu menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan tak suka.
"Kalian berangkat bersama?" tanyanya dengan menahan kesal.
"Ya," jawab Sam singkat. "Ze, cepat ke kelasmu!" ucap Sam memerintah.
"Oke uncle," Zea patuh, gadis kecil itu sengaja ingin membuat Felisya marah, sebelum pergi Zea maraih tangan Sam dan mencium punggung tangannya. Sungguh pemandangan romantis yang membuat Felisya menggeram di dalam hati.
"Wah, hubungan kalian pasti membaik ya, kalian sangat romantis!" tutur Felisya dengan tatapan nyalang.
"Maaf Fel, sepertinya aku harus mengingkari janjiku. Mertuaku sudah tau tentang kita, untuk itu aku ingin menjaga jarak darimu. Sekali lagi aku minta maaf Fel," jelas Sam, sangat berat mengatakan hal tersebut kepada Felisya, namun demi menjaga nama baik wanita yang dia cintai Sam memilih untuk melepaskan Felisya secara perlahan.
"Tapi bagaimana dengan waktu 10 bulan yang kau janjikan Sam?"
"Maaf Fel, aku tidak bisa menjanjikannya lagi. Percayalah, jika kita berjodoh kita akan kembali bersama."
"Kau jahat Sam," pekik Felisya dengan mata berkaca-kaca,wanita itu lalu berlari meninggalkan Sam yang masih terpaku di tempatnya.
"Maafin aku Fell."
.
.
Zea sudah berada di rumahnya, untung saja asisten rumah tangga nya sudah memebersihkan dapur jadi dia akan belajar memasak dengan tenang. Tak lama kemudian Zea mendengar suara mobil, dia langsung keluar dan benar saja Daniel baru saja tiba di rumahnya.
Zea menyambut Daniel dengan senyum ramah membuat pria itu sedikit berdebar saat melihat senyum di wajah Zea.
"Kau tinggal di sini?" tanya Daniel penasaran, pasalnya saat mengantar tas dia berada di rumah yang berbeda.
"Ah iya. Biar lebih dekat dengan kampus," jawab Zea, dia sengaja tak mengatakan sebenarnya karena baginya Daniel hanya orang luar yang tak perlu tau privasinya.
"Oh. Ayo kita mulai. Aku hanya punya waktu dua jam hari ini," ujar Daniel seraya memeriksa jam tangannya.
"Oke, ayo masuk!"
Daniel mengekor di belakang Zea, keduanya sudah berada di dapur. Zea mengeluarkan sayur dan daging yang sudah di belinya kemarin.
"Kita belajar hal dasar dulu. Kemarin kau belum lulus mengupas bawang-bawangan," ucap Daniel.
"Terus ini sayurnya bagaimana?"
"Nanti aku yang memasaknya!"
"Wah, suatu kehormatan Chef."
Daniel terkekeh, dia lalu mencontohkan bagaimana caranya mengupas bawang yang benar. Zea mengikutinya dengan seksama, namun baru saja memotong pangkal bawang merah, gadis itu sudah menangis.
"Aku tidak kuat, pedih sekali mataku," rengek Zea, dia melemparkan pisau dan bawangnya lalu mencuci muka dan lupa mencuci tangan lebih dulu.
"Aaaa, mataku semakin pedih!"
"Ck, tentu saja, kau lupa mencuci tangan tadi. Mana tanganmu," Daniel meraih tangan Zea dan mencucinya dengan sabun karena mata gadis itu terus terpejam.
"Ah, aku memang tidak bakat di dapur," keluh Zea saat matanya tak pedih lagi.
"Jangan manja. Kau pasti bisa. Ayo cepat potong lagi bawangnya!"
"Tapi aku tidak bisa Chef, lihat potonganku sangat jelek!"
"Aku akan menuntunmu," Daniel lalu berdiri di belakang tubuh Zea, pria itu memegang tangan kanan Zea dan mengarahkan Zea untuk memotong bawang merahnya. Namun bukannya fokus, Zea justru salah tingkah karena jarak mereka sangat dekat.
"Fokus Zea, potong bawangnya!" tegas Daniel.
"I-iya," Zea tergagap, namun selanjutnya dia berusaha fokus. Setelah di rasa Zea bisa menyesuaikan gerakan memorong bawang, Daniel segera melepas tangan Zea dan menggeser tubuhnya. Tak bisa di pungkiri jika juga merasa gugup berada di dekat Zea.
"Aku bisa, aku bila memotongnya," Zea sangat bersemangat saat dia berhasil mengiris bawang merah.
"Good job. Sekarang kita coba yang lain."
Dengan telaten Daniel mengajari Zea hal-hal paling dasar sebelum mengajarinya memasak. Setelah hampir dua jam, Daniel akhirnya membiarkan Zea untuk beristirahat.
"Duduklah, aku akan memasak untukmu."
"Terima kasih banyak Daniel!"
Zea mengamati Daniel dengan seksama, pria itu terlihat sangat sexiii saat bergumul dengan wajah dan perlengkapan dapur lainnya. Jika saja Zea bertemu Daniel lebih dulu, dia pasti akan tertarik dengan pria itu.
"Sudah siap," Daniel menyajikan cah kangkung dan sapi lada hitam di meja makan.
"Wah sepertinya sangat enak. Ayo kita makan bersama chef," ajak Zea.
"Maaf Zea, aku harus pergi. Lain kali kita makan bersama ya!"
"Hm. Baiklah. Hati-hati di jalan chef."
"Hem," Daniel lalu keluar dan meninggalkan rumah Zea, saat mobilnya keluar dari pekarangan rumah Zea saat itu juga Sam pulang dan melihat mobil Daniel meninggalkan rumah mereka.
Sam segera turun dan masuk ke dalam rumah. Pria itu mencari keberadaan istrinya dan menemukan Zea di dapur.
"Uncle sudah pulang?" tanya Zea sedikit terkejut karena tak biasanya Sam pulang lebih awal.
"Siapa pria yang datang ke rumah?" tanya Sam dengan tatapan tak suka.
"Daniel!" jawab Zea apa adanya.
"Daniel? Apa dia kekasihmu?"
BERSAMBUNG...