Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Perdebatan



Sam sama sekali tidak bisa tidur, meski matanya terpejam namun pikirannya melanglang buana memikirkan kisah cintanya yang rumit. Di saat wanita yang dia cintai juga mencintainya, dia harus berada di posisi sulit karena terjebak pernikahan bersama gadis kecil yang lebih pantas menjadi keponakannya.


Sam kembali membuka matanya, pria itu memeriksa ponsel dan tak mendapati balasan pesan dari Felisya. Sam memutuskan mengirim pesan lagi, dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada wanita yang dia cintai.


'*Fel, kau tidur?'


"Kenapa tidak membalas pesanku? Apa kau marah?'


"Fel, aku khawatir. Tolong jawab pesanku*!"


Karena tak kunjung di balas, Sam memutuskan untuk menghubungi Felisya karena dia benar-benar cemas. Tak biasanya Felisya mengabaikan pesan darinya. Sam semakin panik saat Felisya tak menjawab panggilannya, pria itu bangun dan berlari menuju kamar mandi. Sementara itu, Zea mengamati gerak-gerik suaminya dari balik selimut.


Tak berselang lama, Sam keluar dari kamar mandi dengan setelan rapinya. Pria itu berjalan sangat pelan, dia berniat pergi diam-diam. Zea yang menyadari suaminya hendak pergi segera menyalakan lampu tidurnya.


"Uncle mau pergi kemana?" Zea bertanya meski dia sudah tau jawabannya. Zea menyibak selimutnya dengan kasar, gadis itu turun dari ranjang dan menghampiri suaminya yang berada di depan pintu. "Sudah malam, uncle mau kemana?" ulang Zea karena Sam tak menjawab pertanyaannya. Pria itu gugup seperti maling yang tetangkap basah sedang mencuri.


"Aku ingin keluar sebentar," jawab Sam penuh kebohongan.


"Uncle ingin menemui bu Feli ya?" tebak Zea dan Sam mengangguk.


"Dia tak membalas pesanku, aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya," jelas Sam yang semakin melukai hati Zea, ucapan Sam bagai ribuan anak panah yang menghujam jantung Zea. Sakit dan mungkin bisa mematikan.


"Oh," jawab Zea singkat.


"Aku boleh pergi kan Ze?"


"Tentu saja boleh uncle," Zea tersenyum begitu manis.


"Terima kasih Ze. Secepatnya aku akan pulang!"


"Tidak pulang juga tidak masalah!"


"Apa maksudmu Ze?" Sam urung membuka pintu dan kembali menatap istrinya.


"Maksudku, aku melepaskanmu Samuel. Pergilah dan jangan pernah kembali!" ucap Zea penuh penegasan.


"Ze, kau serius?" bukan senang mainnya saat Sam mendengar ucapan Zea, itu artinya dia bisa bersama Felisya tanpa ada halangan.


"Ya. Besok aku akan menyuruh pengacaraku mengurus perceraikan kita. Tapi sebelumnya, aku harus ke kantor polisi dan melaporkan perbuatan zina yang kau dan bu Feli lakukan. Dengan bukti yang aku miliki sepertinya sudah cukup untuk memenjarakan kalian. Bagaimana kalau aku menyebar vidio itu di kampus. Oh waow, aku sudah tidak sabar untuk bercerai!" ucap Zea seraya tersenyum lebar, tak mengapa Sam menganggapnya jahat asal dia bisa menahan Sam malam ini.


"Zea kau sangat keterlaluan!" geram Sam dengan rahang mengeras. Impiannya untuk hidup bahagia bersama wanita yang dia cintai sirna sudah. Tersisa kebencian yang mendalam pada gadis manis yang berada di hadapannya.


"Aku keterlaluan? Lalu yang uncle lakukan apa namanya? Uncle membawa masuk wanita lain ke rumah kita meski uncle sadar bahwa uncle memiliki istri. Uncel terang-terangan memeluk wanita lain dan menyuruhnya menunggu," Zea berteriak mengeluarkan rasa sesak di dadanya. "Pria brengsek seperti uncle tidak berhak mengataiku keterlaluan. Aku hanya sedang mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku!"


"Aku bukan milikmu, camkan itu!" Sam tak ingin kalah, pria itu membentak Zea dengan tatapan nanar.


Sementara itu Sam hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar, dia merasa frustrasi dengan perubahan yang Zea tunjukan. Mau tidak mau Sam harus tinggal di kamar Zea dan melupakan niatnya untuk menemui Felisya. Semua itu tentu saja Sam lakukan demi Felisya, demi menjaga nama baik wanita terkasihnya.


.


.


.


Berbeda dengan Sam yang mencemaskan Felisya. Wanita itu justru sedang asik bergoyang di tengah lantai dansa, mengikuti irama musik yang memekakkan telinga. Felisya tampil begitu sexiii, dia memakai gaun malam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Setelah lelah bergoyang, Felisya menghampiri seorang pria yang sejak tadi menunggunya di table bar. Felisya menenggak segelas minuman beralkohol yang di berikan oleh pria itu.


"Sudah puas goyang?" tanya sang pria.


"Sudah. Dan aku ingin bergoyang di tempat lain," jawabnya dengan senyuman nakal.


"Sabar honey. Masih terlalu awal untuk bercinta," sahut pria itu.


"Oh ayolah Victor, aku sangat menginginkannya," rengek Felisya.


"Tenang honey. Aku hanya ingin tau tentang rencanamu!"


Felisya memutar bola matanya, wanita itu mendadak kesal saat mengingat Sam membatalkan janjinya. Seharusnya malam ini dia menghabiskan malam bersama Sam.


"Ini semua gara-gara gadis itu. Aku tidak tau kalau Sam sudah menikah!"


"Menikah?" ulang pria bernama Victor.


"Ya, dan Sam menyuruhku menunggu sepuluh bulan lagi."


"Apa salahnya menunggu Fel?"


"Aku takut Sam mencintai gadis itu dan rencanaku akan gagal!"


"Tenanglah honey, Sam sangat mencintaimu. Rencana kita akan berhasil. Tenanglah. Lebih baik malam ini kita bersenang-senang!"


Victor membawa Felisya ke sebuah ruangan VVIP, keduanya masuk ke dalam ruangan khusus yang memang di siapkan oleh bar untuk melepaskan hasrat tamu-tamunya.


Setibanya di dalam ruangan, Felisya mendorong tubuh Victor sehingga pria itu terlentang di atas tempat tidur. Felisya lalu melucuti gaun malamnya dan membiarkan tubuhnya terekspose. Felisya lalu duduk di atas tubuh Victor dan membuka satu per satu kancing kemeja pria itu.


"Puaskan aku malam ini!"


BERSAMBUNG...