Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Penyesalan Sam



Sam memulai pencariannya, di awali dengan rumah sakit tempat Rama magang karena Sam yakin jika Zea di rawat di sana. Setelah memarkirkan mobilnya, Sam bergegas ke bagian informasi untuk bertanya.


"Excuse me, di kamar mana pasien atas nama Zeana di rawat?" tanya Sam pada staff rumah sakit.


"Tunggu sebentar," jawab staff perempuan itu dengan ramah. "Mohon maaf, tidak ada pasien atas nama Zeana yang di rawat di rumah sakit kami," imbuhnya setelah beberapa saat memeriksanya di komputer.


"Tolong periksa lagi. Zeana Talia Irvantara, asal Indonesia!" pinta Sam penuh harap.


Lalu staff itu kembali memeriksanya namun dia kembali menggeleng. "Maaf tuan, tidak ada pasien dari Indonesia di rumah sakit kami!"


"Tolong periksa sekali lagi, saya yakin Zeana di rawat di sini!" Sam masih bersikeras, dia sangat yakin Zea berada di rumah sakit ini.


"Maaf tuan, saya sudah memeriksanya dan tidak ada pasien yang anda cari!"


"Saya sakit istri saya di rawat di sini, tolong periksa lagi atau saya akan memeriksanya sendiri!"


Karena Sam yang mulai tak terkendali, staff rumah sakit terpaksa memanggil petugas keamanan dan menyerat Sam keluat dari rumah sakit. Sam tak terima dan terus memberontak pria itu mengacam akan mencari Zea di setiap ruangan yang ada di rumah sakit. Dari kejauhan Rama hanya bisa mengamati, dia memang sengaja mengikuti Sam saat pria itu meninggalkan apartemennya.


"Anggap saja ini hukuman untukmu uncle," batin Rama seraya menatap Sam dari kejauhan, pemuda itu lalu masuk ke dalam rumah sakit setelah Sam pergi.


Sam masih belum menyerah, dia kembali mencari Zea di beberapa rumah sakit terdekat. Namun hingga larut malam dia tak menemukan apapun, dia tak menemukan Zea di mana-mana.


Sam memutuskan kembali ke hotel tempatnya menginap, besok dia berencana mencari Zea di tempat lain. Sam duduk di tepi tempat tidur, pria itu menatap hasil USG yang tak sengaja dia temukan di dalam lemari istrinya. Buliran bening menetes tanpa seizinnya, hatinya sangat sakit karena tak bisa menemukan Zea dan bayi mereka.


"Aku memang bukan suami dan ayah yang baik, tapi aku harap kalian baik-baik saja. Aku akan mencari kalian meksi sampai ke ujung dunia!"


Sementara itu, kondisi Zea mulai membaik setelah mendapatkan donor darah, Zea mulai siuman setelah beberapa jam kehilangan kesadarannya. Zea membuka matanya perlahan, hal terkahir yang dia ingat adalah saat Felisya menarik tangannya dengan keras lalu mendorongnya hingga jatuh.


"Bayiku," ucap Zea dengan pelan, perlahan tangannya mulai meraba perutnya. Indhi menyadari pergerakan dari putrinya, wanita itu segera menghampiri Zea di ranjangnya.


Zea mengedipkan matanya sebagai jawaban jika dia sudah sadar. "Bayiku?" tanyanya, suaranya terdengar sangat pelan seolah dia tak memiliki kekuatan.


"Dia baik-baik saja Ze, dia sangat kuat sama sepertimu," jawab Indhi seraya tersenyum. Padahal sebelumnya Zea mengalami pendarahan, untung saja dokter berhasil menyelamatkan bayi dalam kandungan Zea, namun karena kondisinya masih sangat lemah, dokter menyarankan Zea bed rest total selama beberapa bulan ke depan.


"Dimana ayah dan uncle?" tanya Zea setelah menyadari kedua pria yang dia sayangi tidak ada di kamar perawatannya.


"Ayah sedang keluar mencari makan. Sam masih di Indonesia, dia sedang mengurus beberapa berkas di kantor polisi," Indhi terpaksa berbohong pada Zea, dia sungguh tidak ingin Sam menemui putrinya lagi, anggap saja dia wanita yang jahat karena memisahkan sepasang suami istri, namun Indhi seorang ibu yang tidak rela putrinya di sakiti oleh siapapun. Apalagi kejadian kemarin malam membuat Indhi benar-benar trauma, dia takut Felisya akan kembali menyakiti putrinya jika Zea masih bertahan bersama Sam.


"Indonesia?" ulang Zea penuh tanya, dia belum sadar jika kini berada di luar negeri.


"Kita di Amerika, Rama berhasil menemukan pendonor untukmu nak. Sudahlah, Zea jangan banyak bicara dulu, Zea harus banyak istirahat agar cepat pulih!"


Zea mengangguk pelan, gadis itu kembali menutup matanya, dan seketika bayangan Sam memenuhi fikirannya. Zea merindukan Sam, dia membutuhkan pria itu di sampingnya.


.


.


Dua hari sudah Sam mengelilingi rumah sakit dan klinik yang berada di sekitar hotelnya, namun dia belum juga menemukan jejak Zea, dia merasa frustrasi dan hampir menyerah. Penyesalannya memenuhi dada, membuatnya kesulitan bernafas, dia hampir mati karena tak bisa memaafkan kesalahannya pada Zea.


Sam memutuskan pergi ke bar, mungkin dengan alkohol dia bisa mengistirahatkan pikirannya sejenak. Dia berpikir mungkil alkohol bisa membantunya mengurangi sedikit penderitaannya.


Entah sudah gelas ke berapa, Sam mulai kehilangan kesadarannya, pria itu mulai mabuk dan merancau tak jelas. Rama yang juga diam-diam mengikuti Sam hanya bisa menghela nafasnya. Dia tidak tega melihat Sam begitu menderita, namun dia juga ingin melihat seberapa besar perjuangan Sam memperjuangkan cinta Zea..


BERSAMBUNG...