Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Racun



Beberapa jam kemudian hasil tes laboratorium telah keluar dan menunjukan adanya senyawa racun di dalam tubuh karyawan yang menyantap katering bok dari restoran Sam. Jadi dapat di simpulkan jika makanan tersebut memang sengaja di sabotase seseorang untuk menjatuhkan restoran Sam. Setelah hasil laboratorium keluar, Arum mengajak Sam dan Daniel ke kantor polisi untuk membuat laporan, mereka juga memanggil supir yang mengantar katering bok ke perusahaan tempat Victor bekerja.


Menurut pengakuan supir yang mengantar makanan, dia dan salah satu temannya mengantarkan katering bok seperti biasanya, hanya saja orang yang menerima katering bok berbeda, namun karena orang itu menunjukan ID Card perusahaan jadi supir itu tidak merasa curiga sama sekali.


Setelah menerima laporan dari Sam, pihak berwajib segera mengusut kasus tersebut, mereka juga akan memeriksa pemilik perusahaan dan beberapa karyawan sebagai saksi.


Karena sudah malam, Sam memutuskan pulang ke rumah, hari ini dia sangat lelah, apalagi hampir semua clientnya membatalkan kerja sama mereka, entah berapa banyak kerugian yang Sam alami, pria itu.hanya berharap masalah ini cepat terselesaikan dan orang yang berniat jahat padanya segera di tangkap.


Setibanya di rumah, istri dan kedua mertuanya sudah menunggu dengan wajah cemas. Sam segera memeluk Zea karena seharian ini dia seperti kehilangan energi. Zea mengusap punggung suaminya dengan lembut, wanita hamil itu sangat mencemaskan suaminya.


"Semuanya akan baik-baik saja," ucap Zea dengan lembut. Sam lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang istri.


"Maaf membuatmu khawatir sayang," ujar Sam dengan wajah sendunya.


Zea menggeleng pelan. "Labih baik uncle mandi dan istirahat, Zea akan membawa makan malam ke kamar!"


"Aku makan bersama kalian saja. Aku mandi sebentar!"


"Hem!"


Sam lalu ke kamar, sementara itu Zea dan kedua orang tuanya menunggu di meja makan. Mereka tidak berani bertanya lebih jauh sebelum Sam menceritakan semuanya.


"Sam tidak akan di hukum kan yah?" tanya Indhi pada suaminya.


"Tidak, dia tidak bersalah. Sudah jelas ada yang menjebaknya, orang itu pasti menambahkan racun saat makanan sudah keluar dari restoran. Fakta bahwa Zea, Sam dan Daniel baik-baik saja meski mereka menyantap makanan yang sama bisa kita jadikan bukti dan dua hasil laboratorium bisa menambah bukti kuat bahwa makanan dari restoran Sam tidak berbahaya," jelas Ega secara gamblang.


"Siapa yang tega melakukan itu semua?" gumam Indhi, dia tak percaya ada orang sejahat itu, demi menjatuhkan usaha orang lain nekat memcelakai banyak orang.


"Kita tunggu saja polisi menangkapnya mah!" sahut Zea dengan tenang meski sebenarnua dia mencurigai seseorang, namun dia tidak boleh gegabah dan menuduh orang tanpa bukti.


Semua diam saat Sam menyusul mereka ke meja makan,.pria itu duduk di samping istrinya dan seperti biasa Zea akan melayaninya sepenuh hati.


"Makan yang banyak sayang," ucap Zea sambil tersenyum.


Sam menoleh dan tersenyum, dia sangat menyukai saat Zea memanggilnya sayang. "Terima kasih Ze," jawab Sam seraya mengusap kepala istrinya.


"Ze mama rasa kau memang seharusnya kau berhenti memanggil suamimu dengan sebutan uncle," cetus Indhi.


"Ayah juga setuju," sahut Ega.


"Aku juga setuju," Sam tak mau kalah, sejak mereka bersama Sam memang berharap Zea akan berhenti memanggilnya uncle.


"Zea sudah terbiasa mah, yah. Susah!" elak Zea, sebenarnya dia hanya merasa malu karena belum terbiasa memanggil Sam dengan sebutan lain.


"Tadi saja bisa," goda Indhi sambil tersenyum.


"Tadi itu latihan!"


"Ck, dasar kau ini!"


Setelah makan malam, Sam dan Zea kembali ke kamar mereka. Sam duduk di sofa sambil memeriksa jadwal mengajarnya besok. Zea lalu menyusul suaminya duduk dan mengamati suaminya yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Apa aku sangat tampan, kau sampai tak berkedip saat menatapku?" tanya Sam tanpa mengalihkan pandangannya, namun dari ekor matanya dia dapat melihat dengan jelas Zea sedang menatapnya.


"Sepertinya kalau uncle brewokan akan terlihat lebih tampan dan lebih hot, auranya seperti sugar dady!"


Sam menutup laptopnya lalu menoleh dan menatap sang istri. "Nanti kalau aki terlihat tua bagaimana?"


"Hem, uncle kan memang sudah tua," ledek Zea dengan nakalnya.


"Ck, tua-tua begini juga kau tergila-gila padaku kan?"


"Hem, iya juga si," Zea terkekeh lalu bergelanyut manja di lengan suaminya.


"Ze," panggil Sam dengan suara parau.


"Ya!"


"Bagaimana kalau restoran sampai tutup?" tanya Sam tiba-tiba. Zea menajuhkan kepalanya dan menatap suaminya dengan tatapan serius.


"Maka aku akan membantu uncle untuk memulainya dari nol!"


Zea meraih tangan Sam dan menggenggamnya. "Percaya padaku, semua akan baik-baik saja! Aku yakin uncle tidak bersalah dan nama baik restoran akan kembali pulih! Jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak, lebih baik uncle istirahat sekarang!"


"Aku hanya takut sayang. Bagaimana kalau sampai restoran tutup, bagaimana aku mendapat penghasilan lebih untuk membahagiakanmu!"


"Sayang," panggil Zea dengan lembut. "Bahagia bukan soal materi saja, lagi pula gajimu menjadi dosen lebih dari cukup untuk kebutuhan kita!"


"Sebentar lagi bayi kita lahir, aku takut tidak bisa mencukupi kalian!"


"Percayalah rezeki sudah di atur oleh Tuhan. Jangan bicara lagi, kita harus istirahat. Besok aku akan menemanimu ke kantor polisi!"


"Hem," Sam mengangguk patuh, keduanya lalu pindah ke tempat tidur untuk istirahat. Sam memeluk perut buncit istrinya, dia tak menyangka Zea akan sedewasa itu, dia bersyukur karena Tuhan mengirimkan orang yang tepat untuknya, orang yang bersedia menerima kekurangannya dan menemaninya saat terpuruk.


Sementara di tempat lain, Daniel pulang ke rumahnya dengan wajah lesu. Sebagai seorang chef kasus yang menimpa restoran Sam tentu saja memberi pukulan hebat untuknya, dia merasa gagal meski dia tau jika semua itu sudah di rencanakan oleh orang jahat.


Lelah Daniel seakan hilang saat melihat Clara menunggu di depan rumahnya dengan senyum yang begitu indah, Daniel mendekat dan Clara langsung memeluknya, rupanya gadis itu sudah tau apa yang terjadi hari ini.


Daniel membalas pelukan Clara, rasanya energinya kembali terisi, dia senang karena Clara menemuinya terlebih dulu.


"Kenapa malam sekali pulangnya, aku sudah lapar?" rengek Clara dengan suara manja.


Daniel melepas pelukannya. "Kau belum makan?" Clara menggeleng dengan cepat. "Tunggu sebentar, aku akan memesan makanan untukmu!"


"Tidak usah, aku sudah beli mie instan!" cegah Clara seraya menunjuk kantung plastik yang tergeletak di lantai.


"No, itu tidah sehat sweety!" tolak Daniel dengan cepat.


"Sekali saja, hemm. Ya, bolehkan?" pinta Clara dengan gerakan manja, Daniel tidak mampu menolak pesona Clara, pria itu akhirnya mengangguk.


"Ayo masuk!"


Daniel membawa Clara masuk ke dalam rumahnya dan ini pertama kali Clara benar-benar masuk karena biasanya mereka hanya akan mengobrol di teras rumah.


"Kau bisa memasaknya?" tanya Daniel begitu mereka berada di dapur.


"Tentu saja. Kau mandi saja, aku akan membuat mie yang enak untukku!"


Daniel mencubit pipi Clara dengan gemas. "Aku akan mempercayakan makan malam padamu!'


"Siap!"


Daniel lalu pergi ke kamarnya sementara Clara mulai mencari peralatan memasak. Clara menghela nafasnya dengan kasar saat tak menemukan panci untuk berebus air, dan saat dia berhasil menemukannya dia kembali menghembuskan nafasnya dengan berat karena panci itu berada di dalam lemari kabinet yang tingginya tak terjangkau oleh tubuh mungilnya.


"Bagaimana ini? Apa harus naik kursi?" Clara berucap seorang diri. Namun dia berusaha jinjit setinggi mungkin untuk meraih panci tersebut, dan tiba-tiba saja Clara merasakan tubuhnya melayang sehingga dia bisa meraih panci itu. Perlahan kaki Clara mulai menginjak lantai lagi, gadis itu lalu berbalik dan menunduk malu saat menyadari jika Daniel yang baru saja mengangkatnya. Apalagi kini jarak mereka sangat dekat karena tangan Daniel masih melingkar di pinggangnya. Jantung Clara berdebar tak karuan saat mencium aroma tubuh Daniel yang begitu maskulin


"Sudah aku duga, kau pasti akan kesulitan mengambilnya," ucap Daniel sambil menunduk, namun dia tak bisa melihat wajah Clara karena gadis itu juga menunduk.


"Lemari kabinetmu terlalu tinggi!" ujar Clara membuat alasan.


"Kau yang teralalu mungil Ra," jawab Daniel berniat menggoda Clara.


"Aku tidak mungil, lemarimu saja yang ketinggian Dan," Clara kesal karena Daniel menyebutnya mungil, gadis itu reflek mengangkat kepalanya dan menatap Daniel.


"Kau lucu sekali, lelahku hilang setelah melihatmu. Terima kasih sudah datang sweety," dan tanpa Clara duga, tiba-tiba Daniel mencium bibirnya dengan lembut. Clara tak diam saja, gadis itu lalu mengalungkan tangannya di leher Daniel dan membalas ciuman pria itu. Entah apa yang mereka dua rasakan, ciuman yang awalnya lembut kini semakin menuntut, Daniel hampir saja tak bisa menahan dirinya, tangannya hampir saja bergerak liar menggerayangi tubuh Clara seadainya saja dia tidak ingat jika Clara adalah wanita yang harus dia jaga.


Daniel secepat mungkin mengembalikan akal sehatnya, pria itu segera melepaskan ciuamannya sebelum hal-hal yang tak mereka inginkan terjadi.


"I'm so sorry sweet heart, aku , aku," ucap Daniel penuh sesal.


"It's okay. Kita sudah sama-sama dewasa Daniel," Clara berusaha tenang meski jantungnya hampir melompat keluar, dia tak bisa menyalahkan Daniel karena dia juga menikmati ciuman itu.


"Aku mandi dulu, hati-hati memasaknya!" Daniel tiba-tiba gugup dan segera melarikan diri ke kamarnya.


Clara hanya terkekeh melihat Daniel gugup, dia pikir pria seperti Daniel tidak pernah merasa gugup.


"Dia sangat imut!"


BERSAMBUNG...