Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Berita suka atau duka?



Seperti pagi sebelumnya, Sam dan Zea berangkat ke kampus bersama setelah sarapan di rumah. Sepanjang perjalanan Zea terus meneguk ludahnya sendiri saat membayangkan bakso yang di racik dengan saus, sambal kecap serta sedikit cuka, rasanya pasti sangat segar.


"Uncle, aku ingin makan bakso," ucap Zea dengan liur yang hampir menetes.


"Ini masih pagi Ze, mana ada yang jualan bakso pagi-pagi begini," jawab Sam apa adanya.


Zea mencebikan bibirnya, rasanya dia ingin menangis karena ingin makan bakso, namun di mana dia bisa menemukan penjual bakso saat masih pagi. Terpaksa Zea akan menahannya sampai siang, dia akan makan bakso saat jam makan siang nantinya.


Sam memarkirkan mobilnya, pria itu mengamati wajah Zea yang terlihat sedih. "Kenapa wajahmu sedih sekali?" tanyanya seraya mengusap rambut Zea.


"Ingin bakso," sahut Zea masih dengan bibir mencebik.


Sam terkekeh, melihat bibir Zea membuat Sam merasa gemas dan ingin menggigitnya. "Nanti siang kan bisa beli di kantin Ze, lagi pula apa kau belum kenyang, tadi pagi kau makan dua piring nasi goreng lo?"


"Masih lapar uncle, sepertinya Zea mau datang bulan karena kelaparan terus!"


"Hmm. Ya sudah ayo kita turun!"


Sam dan Zea turun dari mobil, mereka sudah tak menyembunyikan hubungan mereka lagi, Sam dan Zea tak memperdulikan lagi tentang omongan orang lain, toh semua orang sudah tau jika mereka menikah. Tapi sejak kabar pernikahan mereka tersebar, Zea memilih berhenti dari mata kuliah Sam karena takut mereka berpikir Sam tidak profesional.


Zea tak bisa fokus, dia sangat ingin makan bakso saat ini juga padahal kelasnya belum berakhir. Setelah kelasnya berakhir, Zea berlari ke kantin dan memesan bakso, bukan hanya satu mangkuk, Zea memesan tiga mangkuk bakso


Zea menatap mangkuk berisi bakso dengan mata berbinar, dengan semangat Zea meracik bakso tersebut dan mencicipinya.


"Ah, seperti yang aku inginkan," ujar Zea dengan air liur yang hampir menetes. Gadis itu lalu mulai menikmati baksonya.


Kebetulan Sam juga pergi ke kantin untuk membeli makan siang, tak sengaja dia melihat Zea yang sedang asik duduk sendiri dengan tiga mangkuk baksonya. Sam menghampiri Zea dan menatap Zea dengan mata menyipit.


"Ze, kau memakan semuanya?" tanya Sam seraya menunjuk ketiga mangkuk yang kini kosong.


Zea hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Kau tidak kekenyangan?'tanya Sam lagi, kini dengan wajah khawatir.


"Tidak. Aku sangat puas," ujar Zea seraya mengusap perutnya yang penuh.


Sam hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Zea yang sangat rakus akhir-akhir ini, kemarin malam bahkan Zea makan dua bungkus mie instan dengan dua telur ayam, dan hari ini Zea menghabiskan tiga mangkuk bakso.


Sementara di sisi lain kantin, Dave dan Clara berdiri sambil menatap Zea dan Sam yang sedang berbicang. Setelah Sam pergi barulan Dave dan Clara menghampiri Zea.


"Kau makan dengan siapa?" tanya Clara seraya melirik mangkuk kosong yang berada di atas meja.


"Sendiri," jawab Zea jujur karena memang sejak tadi dia makan sendiri.


Kening Clara dan Dave mengekerut, keduanya menoleh dan saling menatap tak percaya. Lalu Clara kembali menatap sahabatnya dengan ekpresi aneh. "Kau memakannya sendiri? Tiga mangkuk bakso?" tanya Clara lagi dan Zea hanya mengangguk.


"Og my God, perutmu tidak sakit?" Clara mulai khawatir karena tak biasanya melihat Zea rakus seperti itu.


Beberapa hari kemudian, Zea merasa aneh dengan tubuhnya sendiri karena akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. Setelah pulang dari kampus Zea pergi ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter kandungan karena kemarin dia sempat menstruasi tapi sangat sedikit, Zea khawatir terjadi sesuatu di perutnya.


Kini Zea sudah berada di ruangan dokter, gadis itu menjelaksan keluhannya, mulai dari sering kembung, nafsu makan meningkat serta menstruasi yang hanya sedikit.


"Apa anda sudah menikah?" tanya Dokter Spesialis Kandungan yang memeriksa Zea.


"Sudah dok," jawab Zea jujur.


Dokter wanita itu mengangguk pelan seraya tersenyum. "Silahkan berbaring di tempat tidur, semoga saja sesuai dugaan saya," ucapnya penuh tanda tanya.


Namun Zea hanya menurut, dia lalu berbaring di atas ranjang dan dokter mulai memeriksanya. Dia sangat khawatir, dia takut sesuatu yang buruk terjadi kepadanya. Memiliki golongan darah langka sudah sangat membuatnya kesulitan, jangan sampai dia memiliki penyakit kronis lainnya.


"Benar dugaan saya, anda sedang hamil!"


Deg...


Zea mengedipkan matanya berkali-kali. Hamil? Dia tidak salah dengar kan? Dokter mengatakan jika dia sedang hamil?


"Ha- Hamil?" ulang Zea dengan bibir bergetar, bahkan kini sekujur tubuhnya ikut gemeratan.


"Ya. Kapan terakhir anda menstruasi?" tanya dokter lagi.


Zea mencoba mengingat kapan dia menstruasi. Setelah beberapa lama akhirnya Zea ingat kapan terakhir datang bulan. Dia baru selesai datang bulan dua hari sebelum dia melakukan hubungan suami istri dengan Sam, artinya sekitar dua bulan yang lalu.


Zea lalu memberi tahu dokter dan dokter itu kembali memberikan ucapan selamat.


"Sekali lagi selamat, usia kandungan anda masuk minggu ke tujuh. Karena anda sedang hamil muda jadi anda harus lebih berhati-hati. Saya akan meresepkan vitamin, tolong di habiskan ya!"


Zea mengangguk seperti orang linglung, dia masih tak percaya jika dia sedang hamil karena dia tak menunjukan tanda-tanda seperti orang hamil muda pada umumnya. Dia tidak merasa lemas ataupun muntah-muntah di pagi hari.


Di dalam mobil, Zea menatap foto USG calon bayinya dengan senyum bahagia. Dia tak menyangka Tuhan akan secepat itu mempercayainya untuk menjadi orang tua. Zea sudah tidak sabar untuk memberi tahu Sam tentang kehamilannya. Sam pasti akan sangat senang mendengarnya.


Zea mengusap perutnya yang masih rata. "Haii little baby, baik-baik di sana. Bantu momy agar bisa melahirkanmu ke dunia tanpa harus mengeluarkan banyak darah ya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Pak supir yang mendengar ucapan Zea ikut menangis, antara bahagia dan juga takut. Dia amat senang mendengar nona mudanya hamil, namun dia juga takut mengingat nona mudanya memiliki kondisi khusus.


"Pak jangan beri tau mama dan ayah dulu ya. Zea yang akan memberi tahu mereka," pinta Zea karena pak supir sudah mengetahui tentang kehamilannya


"Baik non, bapak akan merahasiakannya..sekali lagi selamat ya non Zea, semoga non Zea dan jabang bayi selamat sampai melahirkan," ucap pak supir di selingi doa yang tulus.


"Terima kasih doanya pak"


BERSAMBUNG...