
Clara sudah di pindahkan di ruang rawat inap di temani Daneil dan juga Zea karena kedua orang tua Clara tak kunjung datang ke rumah sakit. Daniel memeriksa jam di tangannya, sudah lebih dari tiga jam dan Clara belum juga sadar. Daniel melirik Zea sekilas, dia tak tega melihat Zea yang nampak kelelahan. Daniel lalu menghampiri Zea dan duduk di sampingnya.
"Ze, lebih baik kau pulang dan istirahat. Aku akan menjaga Clara di sini," ucap Daniel.
"Tidak Dan, aku akan menunggu sampai Clara bangun," tolak Zea dengan cepat, dia tidak ingin meninggalkan sahabatnya, dia ingin memeluk Clara begitu gadis itu siuman.
"Baiklah kalau kau memaksa!"
Daniel kembali duduk di sebelah hospital bed Clara, pria itu lalu meraih tangan Clara dan menggenggamnya dengan erat, Daniel juga mengecup punggung tangan Clara dan berharap gadis itu segera bangun.
"Cepat bangun sweety, jangan membuatku takut," bisik Daniel seraya mencium kening Clara, pria itu dengan sabar menunggu kekasihnya membuka mata.
Empat puluh menit kemudian, jemari Clara mulai bergerak, Daniel yang merasakan pergerakan itu menatap jari-jari Clara dan menunggu apakah akan ada pergerakan lagi. Daniel sangat senang saat jari tangan Clara mulai bergerak, dan tak lama setelah itu Clara mulai membuka matanya.
"Kau sudah bangun Ra?' ucap Daniel penuh kelegaan, pria itu membelai wajah Clara dengan lembut dan senyum yang mengembang sempurna.
Clara tersenyum simpul karena orang yang pertama kali dia lihat adalah Daniel, apalagi Clara bisa melihat dengan jelas kekhawatiran di mata Daniel. "Maaf," ucapnya dengan suara parau.
"No, kau tidak salah. Kata dokter kau kelelahan. seharusnya aku tidak mengajakmu naik motor, maafkan aku Ra," Daniel terpaksa berbohong karena Zea menyuruhnya untuk pura-pura tidak tau tentang truama yang di alami Clara.
Clara menggeleng dengan pelan. "Bukan salahmu Dan, jangan menyalahkan diri sendiri, okey!"
"Hem. Jangan banyak bicara dulu kau harus banyak istirahat. Lihatlah, Zea juga tidur di sofa karena sejak tadi menunggumu bangun," Daniel menunjuk Zea yang terlelap di atas sofa, ibu hamil itu sepertinya kelelahan.
"Kenapa kau tidak menyuruhnya pulang Dan?"
"Sudah, tapi dia bersikeras untuk tinggal di sini. Katanya dia sangat khawatir!"
"Dasar gadis itu," Clara tersenyum penuh syukur karena meski kedua orangg tua nya jarang memperhatikannya dia memiliki Zea yang selalu ada untuknya.
Clara menatap Daniel yang sejak tadi tak melepaskan tangannya sedetikpun, gadis itu juga beruntung karena memiliki Daniel sekarang. "Bagaimana pekerjaanmu Dan?" tiba-tiba Clara teringat tentang pekerjaan Daniel, gara-gara dia pingsan Daniel sampai tidak bisa bekerja.
"Jangan khawatirkan itu Ra, aku sudah mengurusnya. Dan untuk kuliahmu, aku sudah mengirim surat keterangan sakit ke kampusmu!"
Clara tak menyangka Daniel sangat perhatian padanya, bahkan pria itu sampai teringat hal-hal kecil seperti mengirim surat keterangan sakit ke kampus. "Terima kasih banyak Dan, aku beruntung memilikimu!"
"Jangan katakan apapun lagi, aku ingin kau cepat sembuh!" Daniel merapikan selimut Clara, pria itu lalu mengecup kening Clara dengan lembut. Clara memejamkan matanya meresapi kecupan Daniel yang membuat hatinya merasa tenang.
Daniel segera menarik wajahnya saat dia mendengar suara pintu terbuka. Dia lalu berdiri saat melihat kedatangan kedua orang tua Clara.
"Bagaimana kondisimu Ra?" tanya Arum dengan panik.
"I'm fine mom," jawab Clara sambil tersenyum meski Daniel dapat melihat dengan jelas jika Clara melakukannya dengan terpaksa.
"Maafkan momy dan dady yang baru bisa datang, dady ada di luar kota dan momy sedang sidang!" sahut Dion mencoba menjelaskan situasi mereka sehingga tidak bisa menemui Clara dengan cepat.
"It's okay dad, ada Daniel dan Zea yang menjagaku!"
"Zea, dimana dia?" Arum menoleh ke kiri dan ke kanan karena tidak melihat keberadan Zea.
"Itu," Clara menunjuk sofa, Arum dan Dion menoleh dan keduanya terkekeh melihat Zea terlelap di atas sofa. Wanita hamil itu terlihat sangat nyenyak sampai-sampai tidak tau kalau Clara sudah bangun.
Dion lalu beralih pada pria yang berdiri di samping tempat tidur putrinya, pria yang pernah di lihatnya di televisi dan saat acara makan malam di restoran Sam. "Nak Daniel terima kasih banyak sudah membantu Clara," ucap Dion dengan tulus, meski dia belum mengenal Daniel namun dia yakin jika Daniel pria yang baik, buktinya pria itu telah menjaga Clara sampai mereka datang.
"Sama-sama om, saya juga ikut bersalah karena mengajak Clara naik motor padahal dia sedang tidak enak badan. Tolong maafkan kelalaian saya om, tante," Daniel menundukan kepalanya sebagai bentuk rasa sesalnya karena tidak bisa menjaga Clara dengan baik.
"Tidak nak, jangan salahkan dirimu, kami justru sangat berterima kasih karena kau mau menjaga Clara dan menemaninya sampai kami datang," sahut Arum.
Daniel hanya mengangguk, dia lalu menatap Clara. "Aku akan pergi keluar sebentar, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Daniel dengan sangat lembut.
"Tentu saja tidak? Kau ingin makan sesuatu?"
"Aku ingin strawberry Korean!
Daniel mengusap kepala Clara sambil mengangguk. "As your wish sweety, tunggu sebentar ya!"
Daniel lalu keluar dari kamar VIP itu, dia akan ke supermarket untuk membeli beberpaa barang yang mungkin di butuhkan selama Clara di rawat, dia juga akan mencari strawberry Korea sesuai keinginan Clara.
Setelah Daniel pergi, Arum segera duduk di samping tempat tidur putrinya, wanita paruh baya itu menatap putrinya dengan rasa bersalah. "Maafkan momy sayang, momy sangat sibuk dan jarang memperhatikanmu," ucap Arum penuh sesal.
"Tidak papa mom, aku tau momy sibuk," Clara mencoba bersikap dewasa karena dia tau orang tuanya bekerja siang dan malam juga demi dirinya, demi masa depan Clara.
"Bagaimana kau bisa pingsan?" tanya Arum penasaran, karena Daniel hanya memberi tahunjika Clara tiba-tiba pingsan.
"Kata dokter aku hanya kelelahan," Clara terpaksa berbohong, dia tidak mau orang tuanya kembali merasa bersalah jika dia membahas tentang trauma masa lalunya.
Di tengah perbincangan mereka, Zea terbangun karena mendengar suara Arum, wanita hamil itu lalu menghampiri Clara setelah tau sahabatnya sudah sadar dan segera memeluk sahabatnya dengan erat. "Hiks, kau membuatku takut setengah mati," ucap Zea penuh syukur karena Clara sudah sadar.
"Ck, sepertinya kau tidak khawatir, kau saja bisa tidur nyenyak di sofa," jawab Clara mencoba menggoda sahabatnya.
Zea melepaskan pelukannya, dia lalu menatap Clara dan tersenyum seperti orang bodoh. "Hehehe, maaf. Aku ngantuk sekali," jawab Zea sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau baik-baik saja kan?" sambung Zea.
"Hem, aku baik-baik saja!"
"Ah syukurlah!"
Zea lalu menoleh dan tersenyum kepada orang tua Clara. "Kapan aunty dan uncle sampai?"
"Sekitar setengah jam yang lalu Ze," jawab Arum seraya mengusap perut Zea yang sudah membuncit.
"Oh begitu!"
"Sudah siang Ze, sebaiknya kau pulang. Aunty tidak mau kau kelelahan!"
"Tapi Zea masih mau di sini aunty!"
"Sayang, kau bisa datang lagi nanti. Sekarang pulang dulu dan istirahat di rumah ya!"
Zea akhirnya menurut karena Arum terus memaksanya. "Aku pulang dulu!" pamitnya dengan bibir mencebik.
"Hati-hati Ze!"
"Hem!"
Zea lalu keluar dari ruangan Clara, dia berjalan dengan di iringi kedua pengawalnya. Saat tiba di lobby rumah sakit Zea tak sengaja menabrak seseorang karena dia berjalan sambil mengirim pesan pada suaminya.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja," ucap Zea sambil menundukan kepalanya.
"Tidak masalah, saya juga kurang berhati-hati," jawab seorang pria yang di tabraknya.
Zea mengangkat kepalanya untuk mengucapkan terima kasih, namun dia justru membisu saat menyadari siapa sosok pria yang di tabraknya.
"Tuan Victor."
"Nyonya Zea."
BERSAMBUNG...