
"Apa pantas seorang pria yang sudah menikah selalu menghambiskan waktu makan siangnya dengan wanita lain?" ucap Dave dengan bola mata memerah.
"Menikah? Siapa yang kau maksud anak muda?" tanya Felisya tak mengerti.
Dave menoleh ke arah Felisya. "Dia," tegas Dave seraya menunjuk wajah Sam.
"Dave cukup!" Zea menarik tangan Dave yang berada tepat di depan wajah Sam.
"Maksudmu Sam sudah menikah? Benarkah begitu Sam?" kini Felisya menatap Sam menuntut sebuah jawaban.
Sam tak menjawab, pria itu hanya bisa diam dengan kepala tertunduk layaknya maling kecil yang tertangkap saat sedang mencuri.
"Jawab Sam," tekan Felisya.
"Cukup Dave, ayo kita pergi dari sini," Zea menarik tangan Dave, namun pemuda itu bersikeras untuk tidak pergi.
"Kau ini naif atau bodoh Ze, suamimu bersama wanita lain dan kau mengajakku pergi. Apa kau tidak merasa sakit hati?"
"Hentikan Dave aku mohon, ayo pergi dari sini!" semua keberanian yang Zea miliki seakan sirna, entah mengapa dia tidak berani menghadapi Sam dan Felisya.
"Tunggu sebentar. Jadi maksudmu Sam menikah dengan Zea. Bukannya mereka uncle dan keponakan?" Felisya menatap Dave dan Sam secara bergantian, jujur saja situasi ini membuatnya kebingungan.
"Haha, keponakan? Zea dan Sam hanya dua orang asing yang kebetulan bertemu dan berhubungan baik," jawab Dave dengan lantang.
"Benarkah itu Sam?"
Sam mengepalkan tangannya dengan erat, dia lalu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Felisya yang nampak begitu kecewa. "Maaf Fell."
"Tega sekali kau membohongiku Sam," Felisya beranjak dari duduknya, wanita itu lalu berlari keluar dari restoran.
Sam lalu berdiri dan berniat mengejar Felisya, namun sebelum itu Sam berdiri sambil menatap tajam Dave. "Kita bicarakan ini di rumah Zea," katanya untuk Zea namun tatapannya masih tertuju pada Dave.
Setelah mengatakan itu, Sam berlari mengejar Felisya. Untung saja wanita itu belum berlari terlalu jauh sehingga Sam bisa mengejarnya. Sam mencekal pergelangan tangan Felisya agar wanita itu tidak pergi.
"Lepaskan aku Sam," teriak Felisya sambil berusaha melepas cekalan Sam.
"Dengar penjelasanku dulu Fel," pinta Sam.
"Penjelasan apa lagi, jelas-jelas kau membutku terlihat buruk!"
"Dengarkan aku Felli," teriak Sam dan akhirnya Felisya pun terdiam.
"Maaf karena aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Aku memang menikahinya tapi aku tidak mencintainya Fell..Aku menikahinya karena terpaksa, momy memintaku menikah sebelum beliau pergi. Aku tidak bisa berbuat apapun selain mengikuti keinginan terakhir momy!"jelas Sam panjang lebar.
"Tetap saja kau sudah menikah Sam," Felisya terguguz wanita itu menangis di hadapan Sam.
"Ka-kau mencintaiku?" tanya Felisya dan Sam mengangguk yakin.
"Tapi kau sudah menjadi milik Zea, aku tidak ingin menjadi perebut suami orang Sam."
"Fel, kau mencintaiku kan?" tanya Sam dan Felisya segera mengangguk. "Kalau begitu, maukan kau menungguku?"
"Apa maksudmu Sam?"
"Zea sudah tau tentang kita, dia ingin bercerai tapi takut kedua orang tuanya kecewa jika kami bercerai sekarang. Jadi kami memutuskan untuk bercerai setelah merayakan ulang tahun pernikahan yang pertama. Kau bersedia menunggu?" Sam meraih kedua tangan Felisya dan menggenggamnya dengan erat.
"Apa kau yakin tidak akan mencintainya?"
Sam menggeleng dengan cepat. "Tidak akan, kau satu-satunya cinta yang aku miliki!"
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu Sam."
"Terima kasih Fel," Sam lalu memeluk tubuh Felisya dengan erat, sementara itu Felisya tersenyum samar tanpa ada yang mengetahuinya.
Di dalam restoran, Zea menatap marah kepada Dave. Zea tidak menyangka Dave akan bertindak seperti itu. "Puas Dave, kau puas sekarang?"Zea bertanya dengan mata memerah, setelah ini dapat Zea pastikan Sam akan semakin membencinya.
"Maaf Ze, aku hanya terlalu marah. Aku kesal karena Sam menyakitimu!" jawab Dave apa adanya. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat wanita yang dia cintai di sakiti oleh pria lain.
"Aku kecewa denganmu Dave!" setelah mengatakan itu, Zea keluat dari restoran dan meninggalkan kedua sahabatnya. Tanpa sengaja Zea melihat Sam tengah membujuk Felisya dan diam-diam menguping pembicaraan mereka.
Hati wanita mana yang tak patah saat mendengar suaminya mengatakan cinta kepada wanita lain? Namun sayangnya Zea tak bisa berbuat apapun selain menahannya. Dia memang terkesan bodoh, namun begitulah cinta, selalu bertindak di luar bayas rasional manusi.
.
.
Pukul tujuh malam, Sam menemui Zea di kamarnya. Pria itu sedikit terkejut melihat penampilan Zea yang menurutnya lebih terbuka. Gadis itu memakai kaos polos kebesaran serta celana super pendek yang memamerkan pahanya yang mulus.
"Ada apa?" tanyanya cuek.
"Apa yang kau katakan kepada Dave?"
"Aku hanya bilang kalau kita sudah menikah. Sepertinya Dave marah karena kau bersama wanita lain," ujar Zea penuh sindiran.
"Kau," Sam kembali terkejut saat Zea memanggilnya dengan sebuatan kau alih-alin uncle.
"Bersabarlah, sepuluh bulan lagi pernikahan palsu ini akan berakhir!!!
BERSAMBUNG...