
Clara kini berada di gedung yang di jadikan Daniel sebagai tempat les memasaknya. Clara sedikit kebingungan saat Daniel mengajaknya ke tempat itu, dia tidak tau alasan pasti mengapa Daniel membawanya ke sana.
"Duduk Ra, aku akan membuatkan cemilan malam untukmu," ucap Daniel seraya menunjuk kursi yang berada di sudut ruangan, sementara pria itu membuka kulkas penyimpanan dan mengeluarkan beberapa bahan masakan dari kulkas.
"Kau serius mau masak untukku?" tanya Clara tak percaya.
"Ya. Biasanya orang yang habis menangis akan merasa lapar!"
Clara terkekeh, namun yang di katakan Daniel memang benar karena dia mulai merasa lapar lagi. Clara memeriksa jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, biasanya dia tidak pernah makan setelah lewat pukul tujuh, tapi karena Daniel berusaha untuk menghiburnya maka dia akan memakannya nanti.
Karena penasaran, Clara menghampiri Daniel yang sedang sibuk mengolah bahan. Clara berdiri di sebelahnya sambil mengamati apa yang sedang Daniel buat.
"Apa yang kau masak?" tanya Clara.
"Taco," jawab Daniel singkat.
"Taco?" ulang Clara penuh tanda tanya.
"Makanan khas Meksiko, aku memakai kulit totlila dan mengisinya dengan salad sayur ,daging asap dan telur goreng," jelas Daniel secara terperinci.
"Sepertinya enak!"
"Pasti," jawab Daniel penuh percaya diri. "Tunggu sepuluh menit lagi!"
Clara mengangguk namun gadis itu sama sekali tak beranjak, dia tetap fokus mengamati Daniel yang sedang memasak. Clara mengedipkan mata berkali-kali saat Daniel menggulung kemeja putihnya hingga siku sehingga otot-otot tangan nya terlihat begitu jelas, sangat maco, begitulah yang ada di dalam kepala Clara.
"Selesai," setelah sepuluh menit menunggu akhirnya yang di tunggu-tunggu sudah jadi, Clara menelan ludahnya saat mencium aroma smoky dari daging asap yang menjadi isi Taco tersebut.
"Ayo makan Ra!" Daniel menyiapkan dua piring berisi Taco di atas meja kitchen table, dia lalu menarik dua kursi untuk mereka duduk.
Setelah duduk Clara tidak langsung menyantap makanannya, dia malah mengeluarkan ponsel dan mengabadikan masakan pertama yang Daniel buat untuknya. "Kau tidak marah kan kalau aku mengunggahya di akun media sosialku?" tanya Clara seraya meminta izin.
"Tentu saja. Taco ini akan menjadi salah satu menu di restoran Sam, kau bisa membantu mempromosikannya!"
"Oke. Aku sudah tak sabar ingin mencicipinya," Clara lalu meraih makanannya dan mulai mencicipinya. Begitu masuk ke dalam mulut, hal pertama yang Clara rasakan adalah crunchy dari salad sayur yang di padu padankan dengan aroma smoky daging panggang dan saus yang terasa asam manis membuat rasa makanan itu sulit di lupakan.
"Bagaimana Ra?" tanya Daniel seraya menatap wajah Clara, mengamati setiap ekspresi wajah Clara.
Clara tak berkata-kata, dia hanya meggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan, gadis itu juga mengacungkan jari jempolnya kepada Daniel sebagai jawaban jika makanan tersebut sangatlah enak.
"Kau menyukainya?" tanya Daniel lagi dan Clara hanya mengangguk karena mulutnya sibuk mengunyah.
Daniel tersenyum puas, dia begitu senang melihat Clara yang terlihat begitu menikmati masakan yang dia buat. Daniel maraih tisu dan membersihkan sudut bibir Clara yang terkena noda saus. "Kau ini umur berapa, kenapa makan masih berantakan," ujar Daniel.
Clara berhenti mengunyah, wajah Daniel sangat dekat dengan wajahnya membuat gadis itu gugup. Namun jujur saja perlakuan Daniel sangat manis padanya, jangan sampai Clara baper.
"Thanks," hanya kata itu yang mampu Clara ucapkan saking gugupnya.
"Ayo habiskan makananmu setelah itu aku akan mengantarmu pulang!"
"Oke!"
Keduanya lalu menikmati kudapan malam mereka sambil berbincang beberapa hal mengenai keseharian mereka.
"Kalau boleh tau berapa umurmu sekarang Dan? Dari cerita mu sepertinya pengalaman hidupmu cukup banyak?"
"Hemm, sepertinya tahun ini aku genap 28 tahun," jawab Daniel. "Aku sudah cukup tua kan," imbuhnya dengan niat bercanda.
"Tua si belum, lebih ke dewasa mungkin. Haruskah aku memanggilmu uncle Daniel?" goda Clara sambil menahan tawanya.
"Ck, apa aku setua itu?" ujar Daniel seraya meraba wajahnya.
"Maybe yes, maybe no!"
"Ck, kau ini. Sudah malam, aku akan mengangarmu pulang!" Clara mengangguk, dia lalu membereskan bekas piring kotor dan mencucinya meski Daniel sudah melarangnya.
Setelah beres, kedua nya keluar dari ruangan itu. Hawa dingin seketika menusuk kulit Clara, gadis itu mengusap lengannya karena merasa kedinginan. Daniel yang menyadari hal itu segera melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya di punggung Clara, gadis itu menoleh dan menatapnya penuh tanya, mengapa Daniel begitu baik padanya.
"Pakai ini, jangan sampai kau sakit karena masuk angin!"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku masih memakai Jas kan," Daniel menunjuk jas yang dia kenakan.
"Dan," panggil Clara pelan.
"Kenapa?"
"Jangan terlalu baik padaku!" ucap Clara seraya menatap Daniel.
"Aku takut aku akan melewati batasanku!" Clara mengungkapkan ketakutannya, bukan tidak mungkin gadis itu akan jantuh cinta pada Daniel jika pria itu selalu memperlakukannya dengan sangat manis.
"Lalu?"
"Kau tidak takut jika aku salah paham dengan semua perhatianmu?"
Daniel menghela nafas panjang. "Kau pikir aku memperlakukan semua gadis sepertimu!" jawabnya penuh tanda tanya, tanpa mengatakan apapun lagi Daniel segera menaiki motornya. Sementara Clara masih berusaha mencerna maksud perkataan Daniel.
"Cepat naik!" teriak Daniel membuyarkan lamuyan Clara, gadis itu lalu berlari menghampiri Daniel dan naik ke atas motor.
"Pegangan," ucap Daniel memerintah, Clara sedikit ragu untuk berpegangan namun Daniel justru menarik tangan Clara dan melingkarkannya di perut.
Perjalanan pulang terasa begitu lama, Clara begitu gugup karena tak ada jarak di antara mereka, bahkan saat Daniel tiba-tiba menarik rem, tubuh Clara akan membentur punggung Daniel dan Clara merasa kurang nyaman.
Setengah jam kemudian mereka sampai di depan rumah orang tua Clara, keduanya sedikit terkejut melihat Dave berada di depan rumah Clara. Clara turun dari motor dan menghampiri Dave tanpa melepas helmnya. Daniel terpaksa mengikuti Clara untuk mengambil helmnya, namun dia malah mendapat tatapan tak bersahabat dari Dave.
"Ada apa Dave? Kenapa malam-malam begini kerumahku?" tanya Clara penasaran karena tak biasanya Dave bertamu ke rumahnya saat malam.
"Kau dari mana saja?" bukannya menjawab, Dave justru bertanya balik pada Clara dan melirik Daniel dengan tatapan tak suka.
"Jalan-jalan," jawab Clara apa adanya. "Ada apa kau kemari malam-malam begini?" tanya Clara lagi karena Dave belum menjawabnya.
"Aku ingin bicara padamu!" ucap Dave.
"Katakan!"
"Empat mata!" tegas Dave.
"Maaf Ra helmnya," ucap Daniel setelah mendapat pengusiran secara tak langsung dari Dave.
"Oh iya aku lupa. Maaf Dan," Clara lalu melepaskan helmnya dan memberikannya kepada Daniel, namun saat pria itu akan pergi Clara justru menahan tangannya. Membuat gadis itu mendapat tatapan dari kedua pria yang berdiri disisi kanan dan kirinya.
"Aku mau bicara empat mata Ra, kenapa kau malah menahan pria asing itu!" protes Dave tak suka.
"Ra, aku harus pergi," Daniel berbisik di dekat telinga Clara.
"Cepat katakan apa maumu Dave!" Clara tak mengindahkan ucapan Daniel, dia juga sama sekali tak melelaskan tangan Daniel. Entah mengapa Clara memiliki firasat buruk dengan kehadiran Dave di rumahnya.
Dave meraup wajahnya dengan kasar, namun di mencoba untuk mengabaikan keberadaan Daniel. "Soal ucapanku di restoran uncle Sam, aku harap kau tidak tersinggung. Aku tidak sengaja mendengar percakapan momy dengan auty Arum, mereka bilang kau menyukaiku, apa benar begitu Ra?"
Clara tersenyum hambar, benar saja Dave datang hanya ingin mengoloknya. Bisa-bisanya dia menanyakan hal itu terhadap Clara, dia benar-benar pria yang sangat tidak pengertian.
"Kenapa? Kau keberatan?" tanya Clara dengan wajah memerah menahan amarah, rasa malu dan kekecewaan yang dalam kepada Dave.
"Aku hanya ingin kau mengakhirinya Ra!" ucap Dave tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kau tidak perlu khawatir Dave, aku memang sudah melupakanmu. Sudah sejak lama Dave. Aku harap kau tidak pernah membahasnya lagi karena sekarang aku sudah memiliki kekasih!" tegas Clara, sekuat tenaga gadis itu menahan air matanya. Dia terpaksa berbohong demi menyelamatkan harga dirinya. Dia sangat malu saat Dave terang-terangan menolaknya.
"Kekasih? Siapa?" Dave cukup terkejut dengan pengakuan Clara.
"Daniel," jawab Clara asal karena saat ini hanya nama Daniel yang ada di ingatannya.
"What? Kau pikir aku percaya Ra?"
"Kau perlu bukti?" tantang Clara. tanpa menunggu jawaban dari Dave, tiba-tiba Clara berbalik dan menatap Daniel dengan tatapan memohon.
"Maaf Dan," bisik Clara, gadis itu lalu berjinjit dan mencium bibir Daniel tanpa persetujuan pemiliknya.
Daniel membolakan matanya, pria itu kembali terkejut setelah sebelumnya Clara menyebutnya sebagai kekasih dan kini gadis itu malah menciumnya.
Dave mencoba mengalihkan pandangannya, pemuda itu memilih pergi karena tidak suka melihat pemandangan kurang senonoh itu.
Clara melepaskan bibirnya saat Dave sudah pergi. Gadis itu lalu menunduk menahan malu.
"Maaf Daniel, tolong maafkan kelancanganku!" ucap Clara dengan air mata berlinang.
Daniel mengusap pundak Clara dengan lembut. "It's okay, aku mengerti. Kau bisa memanfaatkan ku kapan pun kau mau!"
"Haaa?
BERSAMBUNG...
Hay guys, hari ini aku up 3 eps karena besok aku nggak bisa up.. Besok jangan nyariin aku ya karena aku ada acara di luar kota..
See u all...
❤️❤️❤️