
Sudah sebulan sejak Clara keluar dari rumah sakit dan dia setuju untuk bertemu Psikiater atas bujukan Daniel tentunya. Selama sebulan itu juga Clara dan Dave belum pernah bertemu lagi, meski kadang secara tak sengaja berpapasan, namun mereka seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Pertengkaran Clara dan Dave tentu saja membuat kedua orang tua mereka sedih, namun mereka tak ingin ikut campur karena mereka yakin anak-anak mereka sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalah mereka.
Kandungan Zea kini memasuki bulan ke enam, dan pagi ini Sam menemani istrinya untuk melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit milik keluarga Zea. Mereka sudah berada di ruangan dokter dan Zea sudah berbaring di atas tempat tidur karena dokter akan melakukan USG.
"Apa ada keluhan nona Zea?" tanya dokter dengan ramah.
"Tidak dok, hanya saja nafsu makan saya semakin bertambah dan perut saya rasanya besar sekali," jawab Zea.
"Itu sangat wajar bagi ibu hamil, apa lagi nona Zea hamil bayi kembar. Kebanyakan ibu hamil kembar memerlukan ekstra kalori lebih banyak daripada kehamilan biasa, hal itulah yang mendorong nafsu makan semakin bertambah," jelas dokter.
"Tapi apa tidak bahaya untuk Zea dan bayi kami dok?' sahut Sam yang sejak tadi hanya diam dan menyimak.
"Selama nona Zea makan makanan yang sehat dan bergizi maka tidak akan ada masalah. Lihat, bayi kalian mulai aktiv bergerak, berat bayi juga normal. Semuanya normal," dokter menunjuk layar monitor dimana terlihat jelas gambar kedua bayi yang sedang bergerak.
"Lucunya. Apa jenis kelaminnya terlihat dok?"
"Sebentar kita lihat dulu, dede bayinya malu-malu. Mereka sepertinya ingin membuat kejutan untuk momy dan dady mereka," dokter sedang berusaha melihat jenis kelamin bayi-bayi Zea karena sejak USG di usia kehailan empat bulan mereka belum bisa memastikan apa jenis kelamin bayi kembar itu. "Selamat nona Zea, yang satu laki-laki, tapi yang satu masih malu-malu," ucap dotker dengan senyum.
"Laki-laki? Benarkah? Uncle, bayi kita laki-laki!"
"Iya sayang, apapun jenis kelaminnya asalkan mereka sehat sudah cukup untukku!"
"Aku sangat bahagia!"
"Aku juga sayang!
Setelah menemui dokter, Sam mengajak Zea ke restoran mereka karena kebetulan hari ini dia tidak mengajar di kampus. Kedatangan mereka di sambut Daniel yang kebetulan juga berada di restoran untuk mengawasi chef yang sedang menyiapkan katering makan siang. Semenjak kerja sama dengan Daniel, restoran Sam berkembang sangat pesat, mereka bahkan melayani beberapa katering untuk beberapa perusahaan besar sehingga mereka juga mempekerjakan lebih banyak orang.
"Kalian sengaja datang?" tanya Daniel yang terlihat semakin akrab dengan suami istri itu.
"Hem, bagaimana pengiriman hari ini?" sahut Sam.
"Mereka sedang packing, sepuluh menit lagi akan melakukan pengiriman!"
"Baguslah. Oh ya, tempatnya tidak kurang kan?" semenjak katering mereka ramai, Sam menyewa tempat yang di khususkan untuk menyiapkan katering bok dan jaraknya pun tidak jauh dari restoran.
"Aku rasa cukup, tapi sepertinya kita butuh dua atau tiga orang lagi untuk membantu packing!"
"Aku akan membuat iklan lowongan pekerjaan!"
"Oke!"
"Dan, aku lapar tolong berikan aku makanan yang enak," sela Zea yang mulai bosan mendengar pembicaraan kedua pria itu.
"Apa yang kau mau ibu hamil?"
"Hm, sepertinya hari ini aku ingin makan nasi bok seperti karyawan kantor!"
"Ada-ada saja kau ini. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya karena kebetulan katering untuk perusahaan Victor belum di kirim!" meski sudah menyewa tempat, namun Sam memilih menyiapkan katering untuk perusahaan Victor di restoran karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak.
"Oke!"
Tak lama kemudian Daniel membawa tiga bok makan siang untuk mereka bertiga karena kebetulan hampir memasuki jam makan siang. Zea sangat bersemangat dan segera menyantap makanannya. Entah mengapa makanan yang di kemas di dalam bok seperti ini terasa lebih nikmat dari makanan biasanya.
Setelah makan siang, Sam dan Zea pulang ke rumah. Zea langsung tidur begitu mereka sampai, sementara Sam memilih menemani istrinya sambil mengerjakan beberapa tugas dari kampus.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Sam memutuskan menyusul istrinya tidur. Namun baru saja dia merebahkan tubuhnya, ponselnya berdering dan terpaksa Sam menunda tidurnya.
"Ada apa Daniel?" tanya Sam begitu panggilan terhubung.
"Kita ada masalah!" jawab Daniel dengan suara panik.
"Karyawan di perusahaan Victor keracunan! Mereka ada di rumah sakit sekarang!"
"What? Berapa banyak yang keracunan?"
"Semuanya, dan ada sekitar 120 orang yang di larikan ke rumah sakit karena gejala yang mereka tunjukan cukup parah!"
"Dimana kau.sekarang Dan?"
"Aku di rumah sakit milik keluarga kalian!"
"Aku akan segera ke sana!"
Sam melirik istrinya sejenak, karena Zea masih tidur Sam memutuskan untuk tidak pamit. Karena di rumah tidak ada orang, Sam menghubungi ibu mertuanya untuk pulang dan menjaga Zea karena mungkin Sam akan pulang larut hari ini. Setengah jam kemudian Indhi sudah sampai di rumah karena jarak klinik ke rumah tak terlalu jauh.
"Ada apa Sam?" tanya Indhi penasaran karena tak biasanya Sam menyuruhnya pulang.
"Ada masalah di restoran ma, Sam mungkin akan pulang larut. Tolong jaga Zea ma, jangan biarkan orang asing masuk ke rumah kita!"
Setelah berpamitan kepada mertuanya Sam bergegas menyusul Daniel di rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Sam segera menemui Daniel di UGD karena beberapa dari karyawan tersebut masih berada di UGD.
"Apa yang terjadi?" tanya Sam dengan nafas terengah-engah karena dia berlari dari parkiran rumah sakit.
"Aku juga tidak tau. Tiba-tiba aku mendapat telefon dari perusahaan itu, mereka bilang mereka muntah-muntah setelah makan siang! Katanya mereka keracunan makanan kita!"
"Tidak mungkin!" sangkal Sam dengan cepat. "Kalau mereka keracunan makanan dari restoran kita seharusnya kita bertiga juga keracunan kan? Bukankah tadi kau bilang kau mengambil nasi bok perusahaan Victor untuk makan siang kita bertiga?"
"Ah ya kau benar. Kenapa aku melupakan hal itu? Kau dan Zea baik-baik saja kan?"
"Kami baik-baik saja. Aku akan menghubungi pengacara, aku yakin ada yang menyabotase
katering bok itu!"
Kabar tentang keracunan makanan dari restoran Sam sudah tersebar luas di media, Sam terpaksa menutup restoran untuk beberapa saat. Imbas dari berita itu, beberapa client memutuskan kerja sama karena mereka khawatir karyawan mereka akan keracunan jika tetap memakai jasa katering dari restoran Sam.
Sam tetap berusaha setenang mungkin, dia lalu menemui ayah mertuanya untuk meminta bantuan. Di saat seperti ini dia tidak akan bisa menyelesaikan masalah sendirian.
Arum dan dua pengacara lainnya datang ke rumah sakit untuk membahas masalah itu. Mereka semua berkumpul di ruangan Ega.
"Kak, apa kakak sudah tau penyebab mereka keracunan?" tanya Arum pada Ega.
Ega menggeleng pelan. "Hasilnya belum keluar, mungkin setengah jam lagi!" jawab Ega seraya memeriksa jam tangannya.
"Apa kau punya musuh Sam?" Arum menatap Sam dan menunggu jawaban dari pria itu.
"Sepertinya tidak kak!" jawab Sam sedikit ragu.
"Kau bilang kau dan Zea juga makan nasi bok itu kan?" tanya Arum lagi dan Sam hanya mengangguk.
"Kalau kalian tidak menunjukan adanya gejala keracunan maka aku yakin ada yang sengaja melakukannya untuk menjatuhkanmu Sam!"
"Aku juga berpikir begitu kak!"
"Kak Ega, lakukan pemeriksaan pada Sam dan Daniel juga, kita harus membandingkan kedua sample untuk kita jadikan bukti."
"Ya!"
BERSAMBUNG...