
Sam dan Zea duduk berhadapan setelah sebelumnya mereka berdebat tentang baju, dan akhirnya Zea yang mengalah saat Sam mengatakan akan menidurinya. Keduanya saling diam dan suasana kamar terasa sangat canggung.
"Aku minta maaf," ucap Sam tiba-tiba setelah sekian lama diam dan menekan egonya.
Zea yang awalnya menunduk lalu mengangkat kepala dan menatap Sam tidak percaya, suaminya baru saja meminta maaf darinya.
"Aku sudah tau siapa yang menyebar berita itu, aku minta maaf karena menuduhmu tanpa bukti," sambung Sam seraya menatap istrinya sehingga tatapan keduanya beradu sesaat sebelum Zea memalingkan wajahnya.
Zea hanya diam, hatinya mudah sekali luluh hanya dengan satu kali permintaan maaf. Namun Zea ingin tau seberapa jauh Sam menyesal karena telah menuduhnya. Zea beranjak dari duduknya, gadis itu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Zea menoleh ke arah Sam dan mengusirnya. "Sepertinya urusan uncle sudah selesai, silahkan pulang karena aku ingin istirahat!"
Sam terkejut bukan main, sebenci itukah Zea kepadanya sampai gadis itu mengusirnya. Sam lalu berdiri dan menghampiri Zea dengan tatapan yang entah di jelaskan. Namun bukannya pergi, Sam justru mendorong tubuh Zea ke pintu sehingga pintunya kembali tertutup. Sam tak mengatakan apapun, pria itu hanya menatap wajah Zea, dari sorot matanya Sam dapat melihat kekecewaan dan kemarahan.
"Ayo kita pulang," ajak Sam dengan lembut dan Zea segera menolaknya dengan gelengan kepala. "Baiklah, jangan terlalu lama menginap di luar," pesan Sam seraya mengecup kening Zea, gadis itu terperanjat dan memejamkan matanya saat bibir Sam menempel di keningnya, rasanya sangat hangat dan mendebarkan. Setelah meninggalkan kecupan di kening istrinya, Sam lalu keluar dari kamar hotel dan membiarkan Zea untuk menenangkan diri.
Setelah ini Sam berencana menemui Felisya, dia ingin tau kenapa Felisya menyebarkan berita tentang mereka dan menuduk Zea yang melakukannya. Tiga puluh menit kemudian, Sam sudah berada di depan rumah Felisya, pria itu mengetuk berkali-kali sampai akhirnya Felisya keluar dari rumahnya dengan wajah panik.
Felisya terlihat sangat berantakan, rambut acak-acakan dan gaun malam yang yang sedikit tersingkap di bagian dadanya. Perlahan Felisya mulai merapikan rambut dan gaun malamnya.
"Apa apa Sam?" tanyanya dengan gugup.
"Apa aku boleh masuk?" Felisya mengangguk dan mengizinkan Sam masuk, Sam duduk di sofa yang berada di ruang tamu sementara Felisya kembali ke kamarnya mengambil sweeter dan menutup pintu kamarnya dengan rapat seolah dia sedang menyimpan sesuatu di dalam sana.
"Mau teh atau kopi Sam?" Felisya mulai tenang, dia mulai berbicara dengan manja lagi.
"Tidak perlu, aku hanya ingin penjelasanmu tentang ini," Sam melempar kertas pemberian Clara ke atas meja, Felisya lalu meraihnya dan membacanya. Seketika matanya melebar dan sekujur tubuhbya bergetar. Dia panik dan tidak tau harus berbuat apa karena Sam sudah mengetahui yang sebenarnya.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Sam seraya menatap Felisya, tatapan kekecewaan terlihat jelas di mata biru milik Sam.
"Aku marah. Aku kehilangan akal saat kau mencampakanku Sam. Aku sangat mencintainu dan bersedia menunggu, tapi kau malah meninggalkanku," Felisya menjawab dengan wajah berlinang air mata.
"Aku salah, aku minta maaf. Tapi tak seharusnya kau berbuat sejauh itu Fel, kau menghancurkan dirimu sendiri namanya!"
Felisya menunduk dan terus terisak membuat Sam tidak tega melihatnya. Apa yang di lakukan Felisya memang salah, namun itu semua tak lepas dari perbuatannya yang sudah menyeret Felisya masuk ke dalam kehidupannya yang rumit bersama Zea.
"Jangan menangis. Aku tidak akan marah, tapi aku mohon jangan lakukan hal seperti itu lagi," ucap Sam dengan lembut, pria itu lalu memeluk tubuh Felisya dan menenangkannya, sementara itu tanpa Sam sadari Felisya tersenyum di dalam pelukannya, pria bodoh itu kembali masuk ke dalam perangkap Felisya.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Felisya dengan sangat lembut.
.
.
Daniel baru saja tiba, namum pria itu langsung menyuruh Zea untuk membersihkan ayam yang dia bawa. Zea tentu saja tak bisa menolak karena Daniel bisa di katakan sebagai mentor yang galak dan tidak suka di bantah. Dengan hati-hati Zea mencuci ayam tersebut layaknya sedang memandikan bayi.
"Sekarang potong ayamnya menjadi delapan bagian," ucap Daniel memerintah.
"What? Aku tidak bisa chef," tolak Zea dengan bibir mengerucut. Ingin sekali Daniel mencubit bibir Zea yang sangat menggemaskan. Namun Daniel harus menahan diri dan bersikap profesional.
"Akan aku ajari!"
Zea sudah memegang pisau, namun dia tidak tau caranya memotong ayam. Jangankan memotong ayam, melihat ayam utuh dan menyentuhnya saja adalah hal pertama bagi Zea. Zea terperanjat saat Daniel tiba-tiba berdiri di belakangnya dan menuntun tangannya seolah membuat sketsa di tubuh ayam sebelum di potong. Zea mengedipkan matanya dengan cepat karena gugup, namun dia harus konsentrasi agar tidak salah memotong.
Daniel melepaskan tangan Zea saat gadis itu mulai mengikuti arahannya,.namun baru beberapa detik di lepas oleh Daniel, pisau yang di pegang Zea justru meleset dan memotong jari tangan Zea.
"Aw, darah," Zea berteriak histeris, baginya seteres darahnya sangat berarti sementara kini sudah lebih dari tiga teres darah yang keluar dari jarinya.
Daniel berusaha untuk tidak panik, pria itu lalu mencuci tangan Zea di air mengalir, setelah darahnya tak terlalu banyak lagi yang keluar, Daniel reflek memasukan jari Zea ke dalam mulutnya agar pendarahan segera berhanti.
"Zea," teriak seseorang dari atas tangga, Zea dan Daniel menoleh dan Zea begitu terkejut melihat Sam sedang menatapnya dan Daniel dengan mata memerah dan rahang mengatup.
Sebenarnya Sam cuti hari ini, dia ingin mengistirahatkan otaknya setelah gosip tentangnya tersebar luas di kampus. Awalnya Sam sedang tidur, dia terbangun karena mendengar teriakan Zea, saat Sam keluar kamar, dia malah mendapatkan pemandangan yang mencubit hatinya. Dia marah saat Zea di sentuh oleh pria lain.
Sam bergegas turun menghampiri Zea dan Daniel, pria itu menarik paksa tangan Zea dari mulut Daniel. Sam lalu mencuci jari Zea dengan sabun. "Menjijikan," ucapnya dengan keras.
Setelah mencuci tangan istrinya, Sam menatap Daniel tak bersahabat membuat Zea merasa canggung berdiri di antara dua lelaki itu.
"Siapa anda?" tanya Sam dengan garang.
"Uncle, dia Chef Daniel, dia yang mengajari Zea masak," sahut Zea mewakili Daniel memperkenalkan diri.
Mendengar Zea memanggil Sam dengan sebutan uncle, Daniel salah paham dan beranggapan jika Sam adalah paman Zea. Daniel mengulurkan tangannya dengan sopan. "Saya Daniel, anda pasti pamannya Zea ya?" ucap Daniel dengan polos.
Sam menatap uluran tangan Daniel, pria itu lalu menyalaminya dan meremat tangan Daniel cukup keras. "Saya suaminya Zea!"
"Eh."
BERSAMBUNG...