
Oek, oek, oek...
Tangis bayi menggema di kamar bersalin, seketika Sam menangis mendengar tangisan bayinya untuk yang pertama kali. Sam mencium kening Zea penuh haru, tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan Sam saat ini, dia begitu bahagia, dia sangat berterima kasih pada istrinya karena telah berjuang membawa anak mereka lahir kedunia.
"Selamat bayi pertama anda laki-laki tuan," ucap dokter seraya memberikan bayi mungil itu kepada perawat.
Tak lama setelah itu Zea kembali mengejan, dia meremas tangan suaminya dengan keras, Sam pasrah meski dia kesakitan, dia tau jika Zea lebih sakit dari pada ini. Setelah perjuangan panjang dan nafas yang hampir habis, suara tangis bayi kembali terdengar. Sam kembali mencium istrinya yang nampak kelelahan dengan keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya.
"Kau hebat sayang, kau sangat hebat. Terima kasih karena telah berjuang demi anak-anak kita," ucap Sam penuh haru, pria itu kembali mencium istrinya dengan air mata penuh kebahagiaan.
"Bayi kedua berjenis kelamin laki-laki juga," ucap dokter seraya memberikan bayi kedua pada perawat untuk di bersihkan.
"Bagaimana kondisi istri saya dok?" Sam menatap dokter itu dengan cemas.
"Syukurlah tuan, istri anda tidak mengalami pendarahan!"
Sam akhirnya bisa bernafas lega, ketakutannya selama sembilan bulan terakhir hilang sudah, Zea baik-baik saja begitupun dengan bayi mereka, keduanya sehat dan selamat lahir kedunia ini.
"Terima kasih banyak karena sudah berjuang sayang!" Sam memeluk istrinya, Zea menangis haru, dia tak percaya kini sudah menjadi seorang ibu, dia bahkan tak bisa berkata-kata karena dia sangat bahagia.
Setelah bayinya di bersihkan perawat membantu Zea untuk melakukan Insiasi Menyusu Dini, perawat meletakan salah satu bayi Zea di atas tubuhnya dalam posisi tengkurap.
Zea tersenyum penuh kebahagiaan, dia menangis haru melihat bayinya bergerak di atas tubuhnya, dia bisa merasakan kehangatan dari tubub putra pertamanya. Setelah beberapa saat, perawat menukar bayi mereka untuk melakukan IMD, senyum tak henti-hentinya mengembang di wajah Zea meski dia nampak begitu lelah.
Zea dan bayinya lalu di pindahkan ke kamar rawat inap. Sam menemani Zea yang tertidur karena kelelahan, di saat yang bersamaan Rama datang bersama seorang pria yang memiliki golongan darah yang sama seperti Zea.
"Bagaimana kondisi Zea uncle?" tanya Rama khawatir.
"Syukurlah dia baik-baik saja Ram. Oh ya, dimana orang yang mendonorkan darah untuk Zea? Apa dia juga orang yang mendonorkan darah untuk Zea waktu itu?" Sam sangat penasaran siapa yang bersedia membantu istrinya.
"Ya, dia orang yang sama. Dia ada di luar, aku akan memanggilnya!"
Sam mengangguk dan tidan sabar ingin mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah menyelamatkan istrinya. Tak lama setelah itu Rama kembali masuk bersama seorang pria.
Sam membelalakan matanya, senyum di wajahnya pudar seketika setelah dia melihat dengan jelas wajah pria yang datang bersama Rama.
"Victor," pekik Sam dengan rahang mengatup, giginya saling bergemelatuk, kedua tangannya mengepal dan wajahnya memerah menahan amarah.
"Uncle mengenalnya?" tanya Rama penasaran.
"Kenapa kau membawa pri itu Ram?" Sam menatap Rama dengan tatapan elangnya. Mata birunya yang semula teduh kini berubah dengan sorot penuh kemarahan.
"Dia pendonornya uncle, dia yang sudah menyelamatkan Zea waktu itu!" terang Rama yang semakin kebingungan karena Sam terlihat sangat membenci pria yang datang bersamanya.
"Tunggu sebentar. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa uncle bisa mengenal Victor?" sela Rama dengan pertanyaannya, dia cukuo terkejut ketika dua orang asing itu bisa saling mengenal.
Sam menunjuk wajah Victor. "Dia yang sudah merusak nama baik restoranku Ram, di yang menaruh racun di katering box-ku sehingga dua ratus orang hampir mati karena aksi gilanya!"
"What?" Rama menatap Victor tak percaya, bagaimana bisa pria yang dia anggap sebagai malaikat penyelamat Zea bisa berbuat sejahat itu. "Apa itu benar Victor? Lalu kenapa kau mau membantu Zea?"
Victor menghembuskan nafasnya dengan berat, pria itu menundukan kepalanya sesaat lalu menatap Sam setelah dia siap untuk mengatakan yang sebenarnya. "Saya memang bersalah karena merusak nama baik restoran anda tuan Sam, saya melakukannya demi wanita yang saya cintai. Dan untuk masalah nyonya Zea, saya hanya ingin menebus kesalahan Felisya. Felisya selalu mengatakan jika Zea adalah kerikil di hidupnya, saya lalu penasaran orang seperti apa Zea sehingga Felisaya sangat membencinya. Saya mulai mencari tau info mengenai Zea dan menemukan fakta jika dia memiliki golongan darah yang langka seperti saya. Saat kecelakaan beberapa bulan yang lalu saya berada di restoran dan melihat semuanya, saya mendengar jika Rama sedang mencari pendonor dan saya menghubunginya lewat email. Anda pasti bertanya-tanya kenapa polisi tidak menemukan saya? Saya terpaksa bersembunyi, saya berencana menyerahkan diri setelah Zea melahirkan. Karena Zea sudah melahirkan dan dia baik-baik saja maka saya akan kembali ke Indonesia dan menyerahkan diri!" jelas Victor panjang lebar.
Buk...
Satu pukulan keras mendarat di wajah Victor, namun pria itu hanya pasrah mendapat kemarahan dari Sam karena dia memang pantas mendapatkannya
"Kalau kau mencintainya, kenapa kau malah membantunya melakukan kejahatan, kenapa kau menghancurkan restoranku? Kau tau berapa banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena ulah gilamu?" Sam mencengkeram kerah Victor dan menatapnya penuh amarah.
"Karena saya marah. Anda menjanjikan cinta untuknya, namun anda juga meninggalkannya seperti wanita yang tak berharga. Saya cemburu, setiap menyebut nama anda mata Felisya berbinar. Saya membenci fakta jika Feli benar-benar mencintai anda!"
Sam melepas cengkeramannya dengan kasar. Apa yang di ucapkan Victor adalah kebenaran. Semua masalah memang bersumber darinya. Seandainya dia tidak mempermainkan Zea dan Felisya maka semua ini tidak akan pernah terjadi.
Namun yang Victor lakukan tetaplah tindakan kriminal, dia tetap harus di hukum untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. "Pulanglah dan menyerahkan diri. Aku memang sangat membencimu, tapi aku harus mengucapkan terima kasih karena kau memiliki niat baik untuk menolong istriku!"
"Saya akan pulang dan menyerahkan diri, tapisaya tidak akan minta maaf atas perbuatan saya. Saya anggap kita impas!" ucap Victor dengan wajah datar, pria itu lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu, namun sebelum pintu benar-benar tertutup langkah kaki Victor tertahan karena Zea memanggil namanya, rupanya wanita itu sudah bangun dan mendengarkan semuanya.
"Terima kasih banyak untuk kebaikan anda. Saya percaya anda adalah orang yang baik," ucap Zea dengan lembut.
Tanpa terasa Victor menitikan air matanya, perkataan Zea bagai belati yang menghunus jantungnya. Dia tersentuh karena baru kali ini ada yang menyebutnya sebagai orang yang baik. Victor sama sekali tak menoleh, tanpa berkata apapun pria itu keluar dari ruangan Zea dan bersiap menerima hukumannya. "Maafkan aku Fel, semoga dengan kejadian ini kau bisa sadar betapa aku sangat mencintaimu!"
Sementara itu Zea menatap kepergian Victor, mendengar cerita dari pria itu, Zea seolah mengerti apa yang di lakukan oleh Victor. Dulu Zea juga pernah seperti Victor, mencintai orang yang tidak mencintainya, namun Zea rela melakukan apa saja demi orang yang dia cintai. Hanya saja cara Victor sangatlah keliru, tak seharusnya dia mendukung kejahatan Felisya. Semoga Felisya membuka matanya dan melihat betapa besar cinta Victor untuknya.
Sam menghampiri istrinya dan segera memeluknya, dia merasa semua masalah bersumber darinya. "Maafkan aku sayang, semuanya yang terjadi adalah kesalahanku!" ucapnya penuh sesal.
Zea mengusap punggung suaminya dengan pelan, dia tidak ingin Sam di bayang-bayangi rasa sesalnya. "Berhenti meminta maaf. Sekarang kau hanya perlu mencintaiku dan anak-anak kita. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga, mari menyongsong masa depan yang bahagia suamiku!"
"Terima kasih Ze!"
"Hem, dan sekarang tugasmu adalah memberi nama pada dua jagoan kita!"
"Ah ya, nama. Nama mereka adalah...."
BERSAMBUNG...