
Sam benar-benar serius saat menyuruh Zea berbaring dan melepaskan pengait braaa yang di pakai oleh iatrinya. Dan kini dengan sangat hati-hati Sam mengompres punggung Zea dengan air dingin. Kulit putih Zea yang tadinya hanya merah kini mulai membiru.
"Ayo kita ke rumah sakit, aku takut tulangmu cedera," ajak Sam sambil mengompres punggung istrinya..
"Tidak uncle, Zea baik-baik saja," Zea menolak dengan cepat, dia bosen harus keluar masuk rumah sakit hanya karena luka tak seberapa.
"Punggungmu memar Ze, mama akan marah kalau tau kau terluka dan aku tidak mengajakmu ke rumah sakit!"
"Kalau begitu jangan bilang mama!"
"Dasar keras kepala," Sam menarik baju Zea untuk menutupi punggungnya karena dia mulai merasa panas melihat punggung Zea terpampang di hadapannya. "Sudah selesai," ujarnya kemudian.
"Uncle, tolong pasangkan pengait braaa nya," pinta Zea dan berhasil membuat Sam tak bisa berkata-kata. "Cepat uncle!"
"Hem," tangan Sam mendadak tremor, dengan tangan hebat dia meraih kedua ujung braaa berwarna hitam dan berusaha mengaitkannya. Namun tidak semudah yang Sam bayangkan karena dia sana asa tiga baris pengait. "Ze, ini di pasang di baris nomor berapa?" tanya Sam dengan pelan karena tenggorokannya mendadak kering dan tercekat.
"Nomor dua uncle," sahut Zea sambil menahan senyum.
"Hem," lagi-lagi Sam hanya bergumam, dia berusaha mengaitkan benda berbentuk kacamata itu dengan seksama, namun sayangnya percobaannya selalu gagal meski tubuhnya sudah di penuhi keringat.
"Kenapa lama sekali, uncle tidak bisa ya? Sudah biar aku pasang sendiri," Zea lalu bangun dan duduk menghadap Sam, pria itu masih dian dengan tangan yang bergetar. Zea tersenyum melihat wajah Sam yang bersemu merah, tiba-tiba terlintas niat jahil di kepala gadis itu.
"Mari kita lihat apa kau sanggup menahannya," batin Zea dengan senyuman nakal. Zea tiba tiba melepas kaosnya dan memamerkan dadaa bulat yang tak tertutup braaa.
"A-A-Apa yang kau lakukan?" tanya Sam dengan mata membola sempurna.
"Memakai braaa uncle," jawab Zea santai, meski sebenarnya hal mudah untuk kembali mengaitkan braa nya, namun Zea sengaja terlihat kesulitan. "Ah punggung ku sakit. Aku tidak bisa memasangnya lagi, lebih baik lepas saja!"
"Apa?" pekik Sam tertahan, dan detik berikutnya dia benar-benar menyaksikan Zea melepas braaa sehingga dada dengan pucuk berwarna merah muda terpampang nyata di hadapannya. Sam sama sekali tak berkedip, jika di perbolehkan ingin sekali dia menyentuh benda bulat tersebut dan memainkannya.
"Gadis nakal," gumam Sam, pria itu lalu mengalihkan pandangannya. Karena merasa tak tahan lagi, Sam memilih untuk pergi. Namun sebelum dia sempat lari, Zea lebih dulu menahan tangannya.
"Apa lagi Ze?" tanya Sam gugup, semoga saja Zea tak menyadari tangannya sudah di penuhi keringat.
"Uncle menginginkannya?"
Sam meneguk ludahnya dengan kasar, tubuhnya yang tiba-tiba kaku berbalik dengan gerakan seperti robot, kini Sam kembali menatap Zea yang sudah memakai baju dengan benar. "Menginginkan apa?"
Zea beranjak dari atas tempat tidur, tanpa melepaskan tangan Sam dia berdiri mensejajari suaminya. Entah apa yang di pikirkan Zea, hanya saja Sam harus menjadi miliknya malam ini, mungkin dengan melakukan persatuan, perlahan Sam akan membuka hati dan mencintainya. "Ingin yang ini," Zea membawa tangan Sam untuk menyentuh dadaa nya. Gadis itu benar-benar merendahkan harga dirinya hanya demi Sam.
Tangan Sam benar-benar menyentuh benda kenyal itu, nalurinya sebagai seorang lelaki seolah menuntunnya untuk memijat pelan dan menikmati kekenyalannya.
"Euhm," Zea mendesis, menahan agar dia tak mendeesaah karena pijatan tangan suaminya.
"Kenapa uncle? Apa tubuhku sangat menjijikan sampai uncle tidak mau menyentuhnya?" tanya Zea dengan tatapan nyalang. Bahkan setelah merendahkan harga dirinya pun Sam nampak tidak tertarik dengan dirinya.
"Tidak Ze, bukan seperti itu. Aku..."
Zea menghembuskan nafas panjang, hatinya sakit dan harga dirinya terluka. "Sudah malam uncle, sebaiknya uncle istirahat. Selamat malam," ucap Zea dengan mata berembun, gadis itu lalu berbalik dan hendak kembali ke atas kasur. Dia sangat malu karena mendapatkan penolakan dari Sam.
"Perlahan Ze, mari lakukan perlahan. Aku akan menyentuhmu saat hatiku tidak menyimpan perasaan untuk wanita lain. Beri aku waktu," ucap Sam dengan bibir bergetar, melihat kekecewaan di wajah Zea membuat hati Sam tergerak. Mungkin sudah saatnya Sam melupakan Felisya dan menerima Zea sebagai istri. Anggap saja dia akan menjalani takdir yang sudah tertulis untuknya.
"Hem, " hanya sebuah gumaman yang keluar dari bibi Zea, gadis itu lalu berbaring dan memungguni Sam.
"Istirahatlah!" ucap Sam sebelum pria itu keluar dari kamar Zea.
Setelah Sam keluar, Zea menangis sejadi-jadinya. Gadis itu memukuli dadanya yang terasa sesak, seolah benda besar menghimpit dadanya. Air mata tak henti-hentinya keluar. Malam ini Zea merasa gagal, dia merasa sudah waktunya perjuangannya berakhir. Mencintai Sam adalah keputusannya, namun jika cinta itu selalu membuatnya terluka akankah Zea akan mempertahankannya.
Sekuat-kuatnya hati wanita, mereka tetaplah wanita, makhluk lemah yang senantiasa menginginkan sebuah perhatian dan kehangatan.
Sementara itu, Sam meraup wajahnya dengan kasar. Pria itu masih berdiri di depan kamar Zea dan mendengar istrinya sedang menangis tersedu-sedu. Dia merasa sangat bersalah, namun dia juga tidak ingin menjadi badjingan yang akan meniduri Zea tanpa adanya sebuah cinta. Dia tidak ingin memanfaatkan cinta Zea untuk sekedar memuaskan hasratnya.
.
.
Sekujur tubuh Zea terasa berat, matanya pegal dan wajahnya sembab setelah semalaman menangis. Pagi ini Zea bagun lebih awal. Dia mandi lalu membeli sarapan untuk Sam. Namun ada yang berbeda pagi ini, Zea memutuskan untuk tidak menemui Sam dalam beberapa hari. Dia masih terlalu malus untuk berhadapan dengan suaminya. Setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya, Zea bergegas berangkat ke kampus dengan supir dan dua pengawalnya.
"Masih pagi sekali non, apa non mau mampir dulu ke rumah nyonya?" tanya pak supir keheranan, tak biasanya nona mudanya berangkat kuliah sepagi ini.
"Tidak pak, nanti berhenti saja di taman dekat kampus. Kita cari sarapan di sana, kalian pasti belum sarapan kan?" ujar Zea. Supir dan kedua pengawalnya menyetujui ajakan Zea karena mereka memang kerap makan bersama. Mereka bersyukur memiliki majikan yang sangat baik.
Mobil yang di tumpangi Zea parkir di seberang taman kota. Zea dan supir serta kedua pengawalnya lalu turun untuk mencari sarapan.
"Enaknya sarapan apa ya pak?" tanya Zea pada supirnya.
"Sepertinya nasi pecel Madiun enak non," pak supir menunjuk penjaul nasi pecel tanpa segan. Bukan tanpa alasan, awalnya sang supir selalu enggan memberikan pendapat saat nona mudanya meminta saran jika mereka akan makan, namun Zea kerap jengkel jika pak supir tidak memberi pendapat. Seiring berjalannya waktu, pak supir mulai terbiasa dan memberi pendapat jika nona mudanya bertanya.
"Selera bapak memang selalu oke," Zea tersenyum dan menuju warung tenda di ikuti supir dan kedua pengawalnya.
Warung tenda tersebut sangat ramai sehinga Zea harus antri. Dari kejauhan seorang pria menatap Zea, pria itu lalu menghampiri Zea.
"Zea," panggil pria itu dan Zea menoleh.
"Daniel."