Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Gara-gara tergores pisau



Karena sampai siang tak ada yang mengambil tas Zea, Daniel memutuskan membuka tas tersebut dan mencari kartu identitas agar dia bisa mengembalikan tas tersebut kepada pemiliknya. Daniel menemukan sebuah KTP dan Kartu Mahasiswa, dia meraihnya dan mengamatinya sesaan.


"Zeana Talia Irvantara," eja Daniel saat membaca nama yang tertera di kartu identitas tersebut. "Dia masih sangat muda," imbuh Daniel setelah dengan lancangnya memindai kartu identitas.


"Tunggu sebentar, apa ini? Rh null?" ucapnya pada diri sendiri. "Apa ada golongan darah Rh null?" Karena penasaran, Daniel membuka mesin pencarian di ponselnya dan mencari tau mengenai golongan darah Rh null. Daniel membaca informasi tersebut dengan mata melebar, sungguh dia baru tau jika ada golongan darah Rh null dan itu merupakan golongan darah terlangka di dunia.


"Astaga, pantas saja mereka panik," ujar Daniel setelah selesai membaca informasi di mbah gugel, dia merasa bersalah karena menyebut Zea sebagai gadis lemah tanpa mengenal gadis itu terlebih dahulu.


Daniel kembali merapikan tas milik Zea, pria itu lalu keluar dari gedung yang dia gunakan untuk membuka kelas memasak. Daniel mengetik alamat Zea di maps dan segera melajukan mobilnya sesuatu arahan maps.


(Siapa yang di sini nggak bisa baca maps kaya aku haha)


Setengah jam kemudian, Daniel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai dua yang ukurannya cukup besar.


"Apa benar ini rumahnya?"


Daniel lalu keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke halaman rumah yang dia yakini adalah rumah Zea. Pria itu mengetuk beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka, seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu.


"Cari siapa ya mas?" tanyanya pada Daniel.


"Apa benar ini rumah nona Zeana?" jawab Daniel.


"Benar mas, tapi non Zea nya lagi di rumah sakit. Ada perlu apa ya?"


"Ah, tadi saya menemukan tas ini tempat kursus," Daniel menunjukan tas punggung berwarna hitam.


"Oh iya benar ini tas non Zea. Terima kasih banyak mas," wanita paruh baya itu meraih tas tersebut.


"Apa saya boleh tau nona Zeana di rawat di mana?" tanya Daniel lagi.


"Di rumah sakit milik keluarganya mas, Rumah Sakit Medika."


"Terima kasih infonya bu, saya permisi!"


Daniel lalu kembali ke mobilnya, pria itu kembali mengamati rumah yang ada di depannya. "Mereka memiliki rumah sakit, tapi rumah mereka tidak terlalu besar. Berarti mereka sangat sederhana," batinnya lalu meninggalkan rumah tersebut dan pergi ke rumah sakit medika. Entah mengapa dia merasa penasaran dengan kondisi Zea.


Setibanya di lobby rumah sakit, Daniel mengurungkan niatnya karena dia melihat Zea keluar dari rumah sakit bersama wanita paruh baya yang mungkin adalah ibunya. Daniel memperhatikan dari jauh, gadis itu begitu pucat. Padahal hanya tergores pisau tapi kenapa dia terlihat seperti tertusuk pisau. Setelah melihat Zea masuk ke dalam mobil, Daniel memutuskan untuk pulang.


Zea pulang ke rumah orang tuanya karena Indhi sangat mengkhawatirkan putrinya itu. Setibanya di kamar, asisten rumah tangganya masuk ke dalam kamarnya dan memberikan tas milik Zea.


"Non tadi ada yang mengantar tas milik non Zea, katanya ketemu di tempat kursus," ucap asisten rumah tangganya.


"Siapa namanya bi?" tanya Zea penasaran.


"Seorang pria non, tapi tidak menyebut namanya. Orangnya tinggi, matanya sipit mirip sama Lee min ho," jelas sang asisten rumah tangga.


"Chef Daniel," hanya ada satu nama yang mirip dengan ciri-ciri yang di sebutkan asisten rumah tangganya. "Terima kasih bi," ucapnya lalu sang bibi keluar dari rumahnya.


Sementara di ruang tamu, Indhi tengah kesal karena sejak tadi Sam tidak menjawab panggilannya, Sam juga tidak membalas pesan darinya.


"Kemana dia? Istrinya terluka dan dia tidak bisa di hubungi?" geram Indhi, dia lalu kembali menghubungi Sam lagi dan berhasil terhubung.


"Hallo Sam, kamu dimana?" cecar Indhi begitu panggilan tersambung.


"Sam di restoran mah, ada apa?" jawab Sam bohong, padahal dia berada di pusat perbelanjaan bersama Felisya dan sedang mengantri membeli tiket bioskop.


"Pulang ke rumah mama sekarang. Zea masuk rumah sakit dan kamu tidak bisa di hubungi. Apa begini caramu menjaga Zea?" Indhi benar-benar marah karena Sam terkesan tidak perduli dengan Zea .


"Apa? Bagaimana bisa ma?" tanya Sam. Suaranya terdengar panik.


"Pulang sekarang!" tegas Indhi dengan suara meningggi.


Tidak ada pilihan selain patuh, baru kali ini Sam mendengar Indhi bicara dengan nada tinggi, itu artinya Indhi benar-benar marah padanya. Sam menghampiri Felisya yang sedang duduk menunggunya.


"Sudah dapat tiketnya Sam?" tanya Felisya dengan wajah berbinar. wanita itu merasa di atas angin karena sejak pagi Sam bersamanya. Untung saja dia pulang lebih awal sehingga Sam tidak curiga saat Sam datang ke rumahnya.


"Maaf Fel," ucap Sam dengan wajah sedih.


"Why?" Feli berdiri mensejajai Sam. "Ada masalah apa?" tanyanya penasaran.


"Zea masuk rumah sakit. Aku harus segera ke sana," jawabnya jujur.


"Apa? Kenapa bisa masuk rumah sakit?"


"Aku juga tidak tau. Ibu mertuaku menelfon dan menyuruhku pulang."


Felisya mengatur nafasnya agar emosinya tidak meledak, dia harus tetap terlihat sebagai wanita yang penyabar dan baik hati. "Pulanglah Sam, Zea pasti membutuhkanmu saat ini," jawabnya sok bijak.


"Tapi bagaimana denganmu Fel?"


"I'm okay. Kita bisa nonton lain kali Sam."


"Maafin aku ya Fel," Sam meraih tangan Felisya dan menggenggamnya. "Aku janji akan menebusnya.."


"Hem. Pergilah Sam!"


Sam lalu berlari meninggalkan Felisya. Meski tak mencintai Zea, namun dia juga khawatir jika terjadi sesuatu dengan gadis itu, mengingat hubungan baik mereka di masa lalu.


Setelah kepergian Sam, Felisya berteriak kesal. Dia sampai menjadi pusat perhatian karena berteriak seperti orang gila. "Gadis sialan!" umpatnya dengan rahang mengeras. "Sepertinya aku harus segera menyingkirkanmu. Kau bisa saja menjadi batu sandunganku!"


.


Setengah jam kemudian Sam tiba di rumah mertuanya. Pria itu segera di sambut dengan wajah kesal Indhi.


"Dimana Zea ma?" tanya Sam.


"Di kamarnya, dia sedang istirahat," jawab Indhi, kali ini wanita itu benar-benar terkesan dingin.


"Sam ke kamar Indhi ma."


"Tunggu Sam. Mama perlu bicara!"


Sam mengikuti Indhi ke ruang keluarga, keduanya duduk saling berhadapan dengan suasana tegang.


"Dari mana kamu Sam?" tanya Indhi dengan tatapan menyelidik.


"Sam dari restoran mah," jawab Sam gugup.


"Oh ya, apa sekarang kamu membuka cabang di pusat perbelanjaan?"


"Maksud mama?"


Indhi melemparkan ponselnya ke meja, Sam meraih ponsel itu dan begitu terkejut melihat fotonya bersama Felisya.


"Dari mana..."


"Tidak perlu tau mama dapat dari mana. Mama hanya ingin penjelasanmu. Siapa wanita itu? Apa benar dia selingkuhanmu?" Indhi memotong ucapan Sam dengan cepat.


"Ma, aku..."


BERSAMBUNG...