Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Pengakuan Felisya



Setelah berpikir semalaman suntuk, pagi harinya Zea memutuskan pulang ke rumah Sam. Untuk sekali saja, Zea ingin menjadi gadis yang pemberani, Zea akan memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi miliknya, jika perlu dia akan mengakui siapa dirinya di depan Felisya agar wanita itu tak lagi mengganggu suaminya.


Setibanya di depan rumah Sam, gadis itu memantapkan niatnya dan meyakinkan diri untuk masuk ke dalam rumah yang sudah beberapa bulan dia tempati. Dengan kaki yang bergetar, Zea masuk ke dalam rumah namun keadaan rumah tampak sepi.


"Kemana mereka? Apa mereka sudah berangkah ke kampus? Tapi ini masih jam setengah tujuh," gumam Zea seraya memeriksa jam di tangannya. Saat akan naik ke kamarnya, samar-samar Zea mendengar suara dari taman belakang. Zea lalu pergi ke belakang dan melihat Sam dan Felisya sedang berbicara dengan wajah serius. Zea melangkah lebih dekat dan bersembunyi di balik gorden, dari sana dia bisa mendengar percakapan Sam dan Felisya dengan jelas.


"Maaf Fel bukan aku mengusirmu, tapi kau harus pergi dari rumahku saat ini juga," ucap Sam dengan rasa bersalah.


"Kenapa tiba-tiba Sam, semalam kau bilang aku boleh tinggal di sini sampai besok, aku belum menemukan tempat yang cocok Sam," sahut Felisya yang tampak tak terima dengan pengusiran Sam.


"Maaf Fel, semalam ketua RT menegurku karena beliau melihatmu tinggal di sini," jelas Sam apa adanya, karena memang benar semalam setelah pulang dari rumah mertuanya, ketua RT menemuinya dan mereka membicarakan tentang Felisya. Meski Sam mengakui Felisya sebagai saudaranya, namun ketua RT tetap tidak mengizinkan orang asing tinggal terlalu lama di lingkungannya, apalagi Sam sudah menikah dan istrinya sedang tidak ada di rumah.


"Oke aku akan pergi hari ini. Maaf karena merepotkanmu Sam," Felisya tampak begitu kecewa, wanita cantik itu sebenarnya tak rela harus meninggalkan rumah Sam begitu saja.


"Maaf Fel, aku harap kau tidak marah padaku."


"Untuk apa aku marah Sam, aku tidak marah kok," Felisya lalu tersenyum dan tiba-tiba wanita itu memeluk Sam membuat Sam terkejut. "Terima kasih untuk semuanya Sam," ucapnya dengan lembut.


"Hem," sahut Sam tanpa membalas pelukan Felisya.


Felisya mengurai pelukannya, wanita yang usianya sudah matang untuk menikah itu menatap wajah Sam dengan intens. "Sam," panggilnya sedikit ragu.


"Ya."


"Boleh aku bertanya sesuaru?" tanya Felisya dengan wajah serius.


"Katakan?"


"Apa kau memiliki kekasih?"


Sam mengusap tengkuknya, pria itu ragu untuk memberikan jawaban. "Tidak," jawab Sam setelah cukup lama diam.


Jawaban Sam tentu saja membuat kedua wanita yang mendengarnya merasakan sesuatu yang berbeda. Felisya tampak begitu senang, sementara Zea kembali sedih karena Sam tidak mengakui keberadaannya.


"Sam, sudah bertahun-tahun kita saling mengenal. Apa tak sedikitpun kau merasa tertarik kepadaku?"


"Kenapa kau bertanya begitu?"


"Karena aku sudah tidak bisa menahannya perasaan ini Sam. Terlalu lama aku menunggumu untuk memulainya. Namun kini aku memutuskan aku yang akan memulainya. Sam aku mencintaimu," aku Felisya dengan penuh percaya diri karena dia yakin Sam juga memilki perasaan gang sama untuknya.


Zea meremas ujung kemejanya, dia begitu takut kehilangan Sam. Setelah mendengar pengakuan Felisya, Zea yakin Sam pasti akan meninggalkannya dan memilih bersama wanita yang dia cintai. Sekujur tubuh Zea bergetar, dia tak sanggup mendengar jawaban Sam, namun dia juga tidak memiliki kekuatan untuk pergi dari tempat itu.


Sementara itu Sam masih belum memberikan jawaban. Jika saja Felisya mengakuinya lebih cepat, mungkin kini mereka sangat bahagia karena memiliki perasaan yang sama. Namun Sam bimbang, meski dia mencintai Felisya, tapi dia sudah menikah dengan Zea dan berjanji kepada mendiang sang momy untuk menjaga Zea.


"Kenapa diam Sam. Apa kau tidak memiliki perasaan yang sama untukku?" Felisya kembali bertanya karena Sam hanya diam dan terlihat bingung.


"Fel aku," Sam tak tau harus menjawab apa.


Felisya meraih kedua tangan Sam, wanita itu menatap Sam dengan begitu intens, tatapan yang mampu membuat Sam merasa lebih tenang. "Apa kau mencintaiku?" tanya Felisya dan tanpa sadar Sam menganggukan kepalanya. Felisya tersenyun senang, wanita itu begitu agresif. Tanpa persetujuan Sam, wanita itu mengecup lembut bibir Sam. "Aku tau kau juga mencintaiku Sam," Felisya kembali memeluk Sam dengan senyum penuh kebanggaan. Meski sedikir ragu, akhirnya Sam membalas pelukan Felisya.


Pemandangan tersebut tentu saja membuat hati Zea remuk, dengan langkah gontai gadis itu pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya. Sepertinya kehadirannya sudah tidak ada artinya lagi, mungkin kini saatnya dia menyerah dan pergi sejauh mungkin.


Tanpa sengaja Sam melihat bayangan Zea naik ke kamarnya, pria itu sangat merasa bersalah namun dia juga tak bisa membohongi perasaannya. "Jangan pernah memaafkanku Zea!"


BERSAMBUNG...