
Victor sudah berada di rumah sakit dan sedang di tangani oleh dokter, Sam dan Zea menunggu di depan ruang perawatan dengan perasaan yang tak karuan, mereka masih bingung kenapa tiba-tiba Victor datang dan menyelamatkan Sam.
Namun kebingungan mereka terjawab sudah saat mereka melihat Felisya datang ke rumah sakit, mereka sempat terkejut karena tidak tau jika Felisya sudah bebas. Zea reflek menyembunyikan Nick dan Nicho di belakangnya.
Felisya menghampiri Sam dengan mata memerah, wanita itu tampak kacau dengn sekujur tubuh menggigil. "Di mana Victor?" tanyanya dengan tatapan nanar.
"Di dalam!" jawab Sam singkat, sekilas dia merasa kasihan melihat kondisi Felisya, biar bagaimanapun wanita itu pernah mengisi hatinya selama bertahun-tahun.
Felisya berjalan dengan langkah tergopoh dan menerobos masuk ke dalam ruang perawatan, dokter yang melihat itu hanya membiarkan Felisya karena mereka sudah selesai mengobati Victor. Felisya duduk di samping brankar dan menatap Victor dengan perasaan bersalah, meski hubungan mereka tak sebaik dulu namun tetap saja Victor adalah orang terdekatnya dan orang yang selalu ada untuknya.
"Fel, kau da-datang?" Victor membuka matanya dan tersenyum melihat Felisya yang kini sedang menangis di sampingnya.
"Kenapa kau sangat bodoh, seharusnya kau biarkan saja aku menabrak Sam!" ujar Felisya.
Victor menggeleng dengan pelan. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi seorang pembunuh! Aku tidak mau kau masuk penjara lagi!"
""Kenapa kau sangat perduli padaku?"
"Karena aku tulus mencintaimu!" aku Victor tanpa keraguan, setelah sekian lama akhirnya dia mengungkapkan perasaannya. Dia tidak ingin menyesal karena terus menyimpan perasaannya.
"Dasar bodoh!" Felisya lalu memeluk Victor dengan air mata berlinang, kenapa selama ini dia tak menyadari perasaan Victor kepadanya.
Sekujur tubuh Felisya bergetar, sungguh dia tidak ingin terjadi hal buruk pada Victor. Namun Tuhan berkehendak lain, dokter menyatakan Victor telah meninggal dunia. Untuk kali pertamanya Feli merasakan kehilangan yang teramat sangat, apalagi Victor harus meregangkan nyawa di tangannya, dia berasa bersalah, namun tak bisa berbuat apapun lagi kecuali keinginan Victor, menjaga adiknya saat gadis itu kembali ke Indonesia.
"Aku akan menjaganya, aku janji!"
Keesokan harinya Victor di makamkan, Sam dan Zea hadir ke pemakaman untuk memberikan penghormatan terkahir bagi Victor, meski tak menginginkan hal ini terjadi, namun Sam berterima kasih kepada Victor karena pria itu telah menyelamatkannya.
Setelah pemakaman selesai, Sam dan Zea menghampiri Felisya yang sedang menangis di samping pusara Victor.
"Setelah kejadian ini semoga kau sadar jika kebencianmu justru membuatmu kehilangan orang-orang yang menyayangimu!" ucap Sam.
Felisya menatap Sam dengan wajah berlinang air mata. "Kenapa dunia sangat tidak adil padaku," ujarnya tergugu.
"Bukan dunia yang tidak adil padamu Fel, tapi kau yang membuat ketidak adilan itu sendiri. Seandainya kau tergila-gila dengan harta, mungkin kau akan hidup hahagia bersama orang yang kau cintai dan juga mencintaimu," jawab Sam.
"Bu Feli, kami sudah memaafkan semua kesalahan anda, saya harap anda akan hidup dengan damai mulai hari ini!" sambung Zea seraya menggandeng tangan Sam, keduanya lalu pergi meninggalkan pemakaman. Ada sedikit kelegaan di hati Zea setelah dia benar-benar melepaskan rasa sakitnya kepada Felisya, dia berharap setelah ini dia dan keluarga kecilnya akan hidup bahagia tanpa gangguan dari siapapun.
BERSAMBUNG...