
Felisya menggeram dengan kedua tangan terkepal saat Victor mengunjunginya dan menceritakan apa yang terjadi pada Sam dan Zea, selama Felisya di tahan, Victor memang kerap memata-matai Zea dan Sam sehingga pria itu tau jika Sam dan Zea sudah kembali bersama.
Felisya semakin marah saat tau bayi yang di kandung Zea selamat, dia tak rela Sam dan Zea bahagia sementara dirinya harus mendekam di balik jeruji besi.
"Terus awasi mereka, jika punya kesempatan, habisi Zea," ucap Felisya memerintah.
Victor membuang nafas berat, pria itu menatap Felisya yang kini terlihat begitu menyedihkan, wanita yang biasanya memakai baju mewah kini harus memakai kaos tahanan berwarna orage, kulit nya yang biasanya glowing kini terlihat seperti tak terawat, banyak bermunculan jerawat di wajahnya.
"Kenapa kau sangat membencinya Fel? Sudah lah lupakan mereka dan fokus pada sidang mu, dengan bukti-bukti yang ada kau mungkin akan di vonis lima sampai sepuluh tahun penjara," jawab Victor, pria yang kerap menempel pada Felisya itu diam-diam menaruh perasaan pada wanita itu, meski Feli hanya menganggapnya sebagai pemuas nafsu namun Victor benar-benar menganggap jika hubungan mereka lebih dari itu.
Victor adalah teman masa kecil Felisya, dia mengenal Felisya dengan sangat baik. Awalnya Feli adalah gadis yang sangat manis dan perhatian, hanya saja nasib nya kurang beruntung karena tidak terlahir dari keluarga kaya. Saat remaja, Feli menyukai seorang pria, namun rupanya Feli hanya di jadikan boneka pemuas nafsu oleh pria itu, saat pria itu bosan, dia membuang Feli dengan alasan orang kaya seperti nya tidak cocok dengan gadis miskin seperti Felisya.
Feli sangat marah, harga dirinya habis di injak-injak oleh pria kaya itu. Tak sampai di sana, kemiskinan juga membuatnya berpisah dengan kedua orang tuanya, mereka meninggal karena sakit dan karena tak memiliki biaya Feli tidak mampu membawa kedua orang tua nya meninggal.
Setelah kedua orang tua nya meninggal, Feli merantau ke kota, karena hanya lulusan SMA wanita itu bekerja sebagai asisten rumah tangga. Dan di sanalah Feli mulai berubah, wanita itu mulai haus akan uang dan kekayaan. Feli mulai menggoda majikan nya dengan tubuhnya sampai akhirnya suatu malam sang majikan menidurinya, mulai saat itu Feli menjadi selingkuhan sang majikan dan berhenti bekerja, segala hidup Feli di biayai oleh majikannya itu. Namun sayang nya perselingkuhan mereka di ketahui oleh istri majikannya sehingga Feli kehilangan sumber keuangannya. Feli lalu mulai mencari pria kaya yang mudah di manfaatkan. Sampai suatu hari Feli memutuskan untuk melanjutkan pendidikan nya dan di kampus itulah pertama kali dia bertemu Sam, pria yang memiliki mata berwarna biru yang meneduhkan.
Selama kuliah mereka berteman dengan baik, Sam begitu perhatian pada Feli dan membuat hatinya menghangat. Namun mengingat latar belakang Sam yang dari keluarga berada membuat Feli menekan perasaan yang setiap hari tumbuh di hatinya, dia tidak boleh mencintai Sam, dia hanya akan mendekati Sam demi uang.
Ya, demi uang Feli berganti-ganti pria kaya raya yang bisa dia manfaatkan, wanita itu bahkan nekat kawin cerai demi mendapatkan kemewahan tentunya.
"Kalau kau tidak mau aku akan mencari orang lain yang mau membantuku," ujar Felisya, dia marah karena untuk yang perama kalinya Victor menolak perintahnya.
"Bukan begitu Fel, aku hanya mengkhawatirkanmu!"
"Ck, aku tidak butuh simpati dari mu! Zea pasti akan mati, mereka tidak boleh bahagia!"
.
.
Sam kini berada di rumahnya, dia sedang mengemasi baju dan beberapa keperluan yang akan dia bawa ke rumah mertuanya karena dia akan tinggal di sana sampai Zea melahirkan. Sam tidak sendiri, karena terus merengek dan memaksa akhirnya Sam mengajak Zea ikut.
Zea duduk di atas tempat tidur dengan kaki bersilah sambil memakan snack dan buah-buahan, nafsu makan wanita hamil itu benar-benar meningkat. Sam hanya terkekeh melihat mulut Zea yang tak berhenti mengunyah sepertinya perutnya tak kenyang-kenyang.
"Sayang, sudah berapa banyak yang kau makan?" tanya Sam seraya menghampiri istrinya, pria itu merebut keripik kentang yang ada di tangan Zea. "Jangan terlalu banyak makan snack instan, tidak bagus untuk mu dan bayi kita!" ucap nya mengingatkan.
"Aku tidak tidak mau uncle, tapi bayi kita yang menginginkannya. Dia terus merasa lapar, ya terpaksa aku makan agar dia tidak kelaparan," jawab Zea, kehamilan nya seakan menjadi kesempatan agar dia bebas makan apa saja..
"Kau memang pandai beralasan," Sam mencubit hidung istrinya yang terlihat menggemaskan.
"Sakit uncle," protes Zea seraya mengusap hidungnya.
Sam mengemasi semua snack yang ada di atas kasur dan memindahkannya ke atas meja, pria itu lalu menyusul Zea naik ke atas tempat tidur. "Sampai kapan kau akan memanggiku uncle?" tanya Sam dengan wajah serius, dia ingin Zea membuat nama panggilan khusus untuknya.
"Kenapa? Uncle bosan di panggil uncle?"
"Kita kan sudah menikah, orang lain akan mengira kalau aku bukan suamimu melainkan pamanmu."
"Terus aku harus memanggil uncle dengan sebutan apa? Sayang, honey, hubby, suamiku?"
Sam berpikir sejenak, kira-kira panggilan mana yang cocok untuknya. Tapi dia malah bingung karena semua pilihan yang Zea katakan menurutnya bagus semua. Di panggil sayang pasti menyenangkan, kalau honey, ah manis sekali. Bagaimana dengan hubby, kedengarannya sangat romantis? Suamiku, ah senangnya di panggil seperti itu.
"Yang mana uncle?" tanya Zea lagi karena Sam hanya diam dan senyum-senyum sendiri.
"Hmm, suamiku mungkin," jawab Sam malu-malu.
Zea menahan tawanya, dia tak percaya Sam memintanya memanggil dengan sebutan suami ku.
"Apa benar ini Samuel yang aku kenal?"
"Tentu saja, memangnya siapa lagi!"
Zea tersenyum, dia tak percaya dia melihat sisi baru dari seorang Samuel. "Bagaimana kalau aku memanggil sayang? Sayaaaaaang."
Wajah Sam kembali memerah saat Zea memanggilnya sayang, lihat lah dia kini salah tingkah.
"Ah, tapi panggilan uncle sepertinya lebih bagus!"
Ngak...ngak.....
Sam kembali memasang wajah kesalnya, Zea pintar sekali mempermainkan suasana hatinya.
"Terserah!' Sam merajuk, pria itu merebahkan tubuhnya membelakangi Zea, dia jadi malas beberes gara-gara nama panggilan. Zea terkekeh, wanita hamil itu ikut bebaring, dia lalu memeluk suaminya dari belakang dan tangan nya dengan nakal meraba perut hingga pangkal paha sang suami.
Sam awalnya hanya diam, namun saat Boy mulai terbangun, pria itu menahan tangan Zea agar tidak menggerayangi tubuh nya lagi, gadis nakal itu membuatnya kepanasa.
Sam merubah posisinya, dia berbalik sehingga berhadapan dengan sang istri.
"Sejak kapan kau nakal begini?" tanya Sam seraya menatap wajah istrinya.
"Sejak lama, hanya saja aku menahannya!"
"Benarkah?"
"Hem."
Tangan Zea menyentuh dada bidang suaminya, meski tertutup oleh baju namun tetap saja Sam merasa geli dan terangsaaang.
"Hentikan Ze. Kau bisa membangunkan boy nanti!"
"Bangun saja kalau begitu!"
Sam menahan tangan Zea yang mulai menyusup ke dalam kaosnya. "Sayang, kondisimu masih lemah, jangan lakukan ini ya!"
"Tapi aku merindukan mu!"
"Aku juga. Tapi aku tidak mau menyakiti kalian! Tunggu sampai kau benar-benar pulih, oke!"
"Hem!"
Zea hanya bergumam, dia sangat malu karena Sam menolaknya meski semua itu memang demi kebaikannya.
Sam menarik tubuh Zea dan memeluknya, dia tau apa yang Zea rasakan saat ini, namun mereka harus bisa menahannya sampai Zea benar-benar sehat.
"Aku mencintaimu Ze!"
Sial-sial...
Pengakuan cinta itu membuat Zea ingin terbang, dia sangat bahagia sampai tak bisa berkata apapun. Zea mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajah nya di dalam dekapan sang suami.
"Aku sangat bahagia!"
BERSAMBUNG..