
Hari demi hari Zea lewati penuh suka dan bahagia, tak terasa waktu terus bergulir dan kini usia kehamilannya menginjak usia sembilan bulan. Besok Zea dan Sam akan terbang ke Amerika untuk mempersiapkan persalinan Zea.
Lalu kenapa harus Amerika?
Jawabannya karena pendonor Zea ada di sana dan untuk berjaga-jaga Sam sengaja mengajak Zea melahirkan di Amerika. Di sana mereka akan tinggal di rumah peninggalan orang tua Sam yang berada di Canada, meski sedikit jauh dari rumah sakit tempat Zea melahirkan namun Zea memaksa tinggal di rumah tersebut karena ingin mengenang masa kecil Sam.
Sebelum berangkat ke luar negeri, Sam dan Zea sengaja mengundang orang-orang terdekat mereka untuk makan malam bersama. Namun sayangnya malam ini Dave tidak bisa datang dengan alasan sibuk. Mereka mencoba memahami Dave mengingat hubungan Dave dan Clara yang masih renggang.
Sementara itu Daniel dan Clara semakin dekat, bahkan Arum dan Dion secara terang-terangan meberi restu pada hubungan mereka karena Arum dan Dion tau Daniel adalah pria yang baik dan bisa di andalkan.
Meski baru tahap awal, Daniel memutuskan membuka restorannya sendiri meski dia harus menjual mobilnya untuk tambahan modal.
"Jadi kapan Daniel akan melamar Clara?" tanya Ega sambil melirik Clara yang terlihat malu-malu.
"Segera setelah restoran saya sukses om. Clara terang-terangan menolak saya karena saya bekerja di tempat Sam," jawab Daniel sambil tersenyum.
"Matrealistis sekali dirimu Ra!" sahut Zea sambil terkekeh.
"Itu realistis Zea. Kedua orang tuaku selalu memanjakanku sejak aku kecil, setidaknya aku harus punya suami yang bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri? Bukan begitu Aunty?" Clara melirik Indhi untuk meminta pendapat.
Indhi tersenyum mendengar penuturan Clara. "Ya, betul sekali anak muda. Semoga Daniel tidak salah mengartikan maksud Clara ya. Dia hanya ingin Daniel menjadi suami yang bertanggung nantinya, karena di dunia nyata ini menikah bukan hanya soal cinta!" jawab Indhi dengan bijak.
"Aku suka sikapmu anak muda!" celetuk Dion.
Semua orang menyuraki Daniel karena dia sudah mendapat lampu hijau dari calon mertuanya. sementara itu kepercayaan diri Daniel semakin meningkat.
"Lalu bagaimana dengan restoranmu Sam?" kini dokter Aditya yang membuka suara setelah cukup lama diam dan menyimak.
"Lancar kak, karena Daniel juga masih sempat membantu Sam menyiapkan menu. Mungkin setelah Zea melahirkan Sam akan membuka restoran lagi!"
Semua orang merasa bahagia malam ini meski tak bisa mereka pungkiri mereka begitu mengkhawatirkan Zea. Mereka takut terjadi sesuatu yang buruk saat Zea melahirkan nanti. Apalagi Zea akan melahirkan di negeri orang.
Sama halnya dengan semua orang, Sam pun merasa cemas, hampir setiap malam dia sulit tidur karena memikirkan Zea. Meski sudah ada pendonor di Amerika, namun pemilik golongan darah langka seperti Zea rentan mengalami komplikasi.
Demi menemani dan menjaga istrinya, Sam sampai mengajukan cuti selama satu semester penuh. Untung saja pihak kampus mengizinkan karena Sam membawa dosen pengganti yang cukup kompeten.
Berbeda dengan semua orang yang mencemaskannya, Zea justru merasa takut karena sampai detik ini Victor belum juga tertangkap. Entah di belahan dunia mana pria itu bersembunyi, namun Zea begitu khawatir Victor akan kembali mengganggu keluarga kecilnya.
Zea hanya berharap semoga Tuhan selalu melindungi orang-orang terkasihnya. Jika nanti saat melahirkan dia tidak bisa di selamatkan, maka Zea tidak memiliki penyesalan karena dia bisa meninggal dengan damai karena cintanya pada Sam terbalaskan sudah.
BERSAMBUNG...