Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Nafkah



Zea pulang ke rumah saat langit sudah gelap. Saking asyiknya bercengkerama dengan Daniel dia jadi lupa waktu. Zea buru-buru masuk ke dalam rumah, gadis itu menenteng dua paper bag berisi menu makan malam mereka serta dua kantong besar berisi sayur dan daging segar.


"Dari mana saja kau seharian ini?"


Deg...


Zea menoleh ke sumber suara, rupanya Sam sudah pulang. Pria itu sedang duduk di sofa seraya membaca buku. Sam menutup bukunya, dia berdiri dan berjalan menghampiri Zea.


"Eh anu, Zea habis belanja sayur uncle," jawab Zea seraya menunjukan kantong besar yang di bawanya.


"Belanja untuk apa? Kau saja tidak bisa masak," sahut Sam meremehkan, namun memang begitulah faktanya, Zea memang tidak bisa memasak.


"Besok mama datang, mama yang akan masak!" Zea terpaksa berbohong. Sebenarnya besok yang datang adalah Daniel. Setelah berbagai cara Zea lakukan untuk membujuk Daniel akhirnya gadis itu berhasil menjadikan Daniel sebagai guru masaknya, Daniel akan datang ke rumah karena Zea merengek akan kesulitan jika belajar secara berkelompol.


"Oh."


Zea bernafas lega, sebenarnya dia ingin jujur pada Sam, namun rasanya percuma. Pria itu tidak akan perduli dengannya. Zea lalu membawa barang belanjaannya ke dapur.


Sementara itu Sam kembali duduk dan membaca buku. Namun dia mengingat sesutu yang seharusnya wajib dia lakukan sebagai seorang suami.


"Astaga, kau memang bodoh Sam," makinya pada diri sendiri.


"Kak makan malam sudah siap," teriak Zea dari dapur. Seperti biasa Sam tidak akan menyahut, pria itu berjalan menuju dapur dan duduk di kursi meja makan.


"Selamat makan kak," ucap Zea dengan senyum, namun gadis itu sudah terbiasa untuk tidak mendapatkan jawaban.


Keduanya lalu menikmati makan malam mereka, tak ada perbincangan saat mereka makan. Fokus Sam teralihkan saat mendapati Zea tengah tersenyum seraya menatap layar ponselnya yang menyala. Tak hanya itu Zea juga terlihat sedang berkirim pesan dengan seseorang.


"Siapa yang mengirimmu pesan?" tanya Sam tiba-tiba, entah mengapa dia merasa tidak suka melihat Zea berkirim pesan dan tersenyum dengan orang lain.


"Teman," jawab Zea singkat, meski sebenarnya hatinya sedang menjerit karena diam-diam Sam memperhatikannya.


"Taruh ponselmu, kita sedang makan!" tegas Sam dengan wajah datar.


"Ya," Zea meletakan ponselnya, dia lalu kembali fokus pada makanannya. Sudah beberapa hari ini Zea akan membereskan piring kotor setelah mereka makan, ya meskipun dia belum bisa mencucinya setidaknya sudah ada perubahan. Tanpa banyak bicara Zea kembali ke kamarnya.


"Ze tunggu," panggil Sam saat Zea sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Gadis itu berbalik dan menatap Sam dengan kening mengkerut.


"Ada apa uncle?" tanya Zea penasaran, tak biasanya Sam memanggilnya.


"Aku lupa memberikan ini kepadamu,"Sam menyerahkan black card kepada Zea, namun gadis itu hanya menatap benda kecil tersebut seolah tak tertarik.


"Untuk apa?" tanya Zea basa-basi.


"Untuk semua keperluan rumah dan juga keperluanmu," ujar Sam masih dengan wajah datarnya.


"Tidak perlu, aku bisa mencukupi diriku sendiri!" penolakan Zea tentu saja membuat Sam merasa sesuatu menggelitik hatinya.


"Tapi ini kewajibanku sebagai suami, jadi terima ini!"


"Suami?" Zea tertawa hambar. "Ah, aku lupa jika kita sedang bermain rumah-rumahan. Maaf uncle, tapi Zea tidak butuh uang uncle!" Zea kembali menolak, bukan karena dia tidak menghargai Sam, hanya saja Zea takut terlena dengan sikap Sam yang tiba-tiba ingin memberi nafkah sebagai seorang suami. Setelah menolak black card tersebut, Zea berbalik dan membuka pintu kamarnya. Gadis itu lalu masuk meninggalkan Sam tanpa permisi. Namun siapa sangka jika Sam malah mengikuti Zea ke dalam kamar, dia tidak terima dengan penolakan Zea.


"Baiklah kalau uncle memaksa. Karena uncle sudah menjalankan kewajiban sebagai suami, sekarang giliran Zea melakukan kewajiban Zea sebagai istri," ucap Zea dengan senyum di wajahnya, entah mendapat keberanian dari mana, tangan Zea perlahan membuka kancing kemeja milik Sam.


"Apa yang kau lakukan Ze?" tanya Sam dengan wajah memerah, apalagi tangan Zea begitu merani masuk ke dalam kemejanya dan membelai dadanya, menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya.


"Melakukan kewajibanku sebagai seorang istri," jawab Zea dengan tenang, meski sebenarnya jantungnya berdebar dengan tak beraturan.


"Ma-maksudmu apa?" Sam tergagap di buatnya.


"Uncle sudah dewasa, uncle pasti tau apa maksud Zea."


Sam menelan ludahnya berkali-kali, pria itu terpaku di tempatnya saat Zea membuka hoodie yang di pakainya hingga menyisakan sebuah braa berwarna peach. Tatapannya lurus pada benda kenyal yang masih terbungkus itu. Sebagai lelaki normal sudah pasti hormon kedewasaannya tergugah.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sam saat tangan Zea berada di punggung seakan hendak melepaskan kaitan braaa. "Astaga, sadarlah Sam!" Sam lalu menahan tangan Zea di belakang punggung gadis itu dan secara tidak sadar tubuh mereka saling berdekatan tanpa jarak sedikitpun.


"Hentikan Zea, uncle mohon," ucap Sam dengan suara serak, pria itu menundukan kepalanya dan di saat yang bersamaan Zea mendungak sehingga nertra mereka saling bertemu.


"Kenapa uncle, apa uncle tidak normal?"


"Bukan begitu. Aku normal, justru karena aku sangat normal. Jadi jangan lakukan itu, aku tidak mau hilang kendali dan menyakitimu!"


"Kalau begitu lakukan, sakiti aku seperti biasanya. Sentuh aku sebagai istrimu!"


"Ze, uncle mohon. Uncle tidak mau menyakitimu lebih jauh dengan melakukannya!"


"Kenapa? Apa tubuhku sangat menjijikan sampai uncle tidak ingin menyentuhnya?" tanya Zea dengan tatapan nyalang.


"Bukan begitu, aku..."


"Tidak bisakah uncle belajar menerima Zea? Tidak bisakah uncle membiasakan diri menjadi suami Zea? Zea sangat mencintai uncle, Zea akan melakukan apa saja demi uncle. Tidak bisakah uncle membuka sedikit hati uncle untuk Zea?"


Sam menatap wajah istrinya yang terlihat sendu, sungguh perkataan Zea mencubit hatinya. Selama ini Sam hanya memikirkan perasaannya sendiri, memikirkan jika pernikahan ini tidak adil untuknya tanpa pernah berpikir bagaimana perasaan Zea. Harusnya Sam tidak boleh egois, Zea juga pasti menderita dengan pernikahan mereka, apalagi saat gadis kecil itu tau jika Sam menjalin hubungan dengan wanita lain.


"Tolong beri sedikit kesempatan untuk Zea. Berusahalah untuk menerima dan mencintai Zea selama sepuluh bulan kedepan. Jika sampai saat itu uncle tidak bisa melakukannya, maka Zea akan melepaskan uncle dengan suka rela!"


Tanpa sadar Sam mengangguk, dia menimbangkan banyak hal hingga pada akhirnya dia menyetujui permintaan Zea. Mencoba membuka hati untuk istri kecilnya, mencoba menerima Zea di dalam hidupnya.


"Aku akan berusaha," ucapnya dengan tatapan serius.


Zea tersenyum, setidaknya hubungan mereka memiliki sedikit kemajuan. Kini tugas pertama Zea adalah membuat Sam melupakan Felisya.


"Terima kasih uncle," ucap Zea penuh kebahagiaan. Gadis itu lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat. Untuk yang pertama kalinya Zea bisa memeluk tubuh kekar suaminya dan dia merasa sangat bahagia.


Meski setengah ragu, Sam membalas pelukan istrinya. Setidaknya dia harus terbiasa untuk berkontak fisik dengan istrinya. "Bisa kau pakai bajumu lagi?" ucap Sam di telinga Zea.


Zea melepaskan pelukannya, gadis itu menatap Sam dengan tatapan menggoda. "Uncle tidak menginginkannya?" tanyanya menantang.


"Lain kali. Aku akan menagihnya lain kali saat kita sama-sama siap!"


BERSAMBUNG...