
Setelah tiga hari melakukan penyelidikan, Arum menjamin jika perusahaan tempat Victor bekerja tidak memiliki masalah apapun, Arum bahkan sudah bertemu dengan pimpinan perusahaan tersebut dan membenarkan jika mereka mengajak restoran Sam untuk bekerja sama. Setelah berunding dengan Daniel dan beberapa chef lainnya, akhirnya Sam menyetujui tawaran Victor untuk mengirim katering makam siang sebanyak dua ratus bok selama kurung waktu enam bukan ke depan dan jika tidak ada kendala maka kontrak bisa di perpanjang.
Sam sangat bersyukur karena kini restorannya mulai stabil sehingga dia bisa fokus membagi waktu untuk mengajar, mengurus restoran dan menemani istrinya yang sedang hamil.
Seperti weekend ini, Sam menemani Zea membeli baju baru karena hampir semua baju lamanya sudah tidak muat, wanita hamil itu mengembang dengan sangat cepat, di usia kehamilannya yang menginjak enam bulan perutnya terlihat lebih menonjol.
Sam dengan sabar mendampingi Zea berkeliling pusat perbelanjaan, sesekali pria itu tertawa saat istrinya tiba-tiba duduk di lantai dengan kaki selonjoran dengan alasan kakinya hampir patah karena berat badannya yang semakin bertambah.
"Sayang ayo cepat jalan lagi," ajak Sam sambil mengulurkan tangannya karena Zea masih melemprak di lantai.
"Aku mau gendong," ucap Zea dengan begitu manja, Sam terkekeh, namun detik berikutnya pria itu benar-benar menggendong istrinya ala bridal style, Zea bahkan terkejut karena sebenarnya dia hanya bercanda saja. Dengan cepat Zea mengalungkan tangannya di leher Sam agar tidak jatuh.
"Uncle turunkan aku, malu di lihat banyak orang," Zea menyembunyikan wajahnya di dada Sam karena mereka kini menjadi pusat perhatian.
"Biarkan saja, mereka pasti iri," jawab Sam dengan santai.
"Apa aku tidak berat?" tanya Zea, dia kasihan pada Sam karena bobotnya pasti sangat berat.
"Tidak terlalu, aku masih sanggup menggendongmu sampai rumah," Sam menjawabnya dengan senyum meski sebenarnya pinggangnya terasa pegal.
Zea hanya terkekeh, namun dia yakin jika Sam berusaha kuat untuk menjaga perasaannya, sejak hamil dan badannya mengembang Sam tidak pernah sedikitpun menyebutnya gendut, pria itu hanya mengingatkan agar Zea mengurangi porsi makan demi kesehatannya. Sungguh pria yang sangat pengertian.
Setelah semua keperluan Zea terbeli, keduanya memutuskan pulang karena Zea merasa lelah, Zea juga menolak di gendong dengan alasan dia ingin berolah raga. Sam menggandeng tangan Zea sampai di basement pusat perbelanjaan, saat Zea akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.
"Tuan Sam," panggil orang tersebut sehingga Sam dan Zea menoleh.
"Tuan Victor," Sam menyapa orang yang tak laina dalah Victor. "Anda sedang jalan-jalan juga?" tanya Sam.
"Saya membeli beberapa keperluan kekasih saya," jawab Victor seraya menunjukan paper bag yang ada di tangannya. "Anda sudah mau pulang?" tanya Victor.
"Ya, istri saya sudah kecapean. Oh ya, perkenalkan ini istri saya, Zeana," ucap Sam memperkenalkan istrinya. Zea tersenyum ramah, wanita hamil itu menjulurkan tangannya ke hadapan Victor.
"Zea," ucap Zea memperkenalkan diri.
Victor tersenyum sambil meraih tangan Zea. "Victor, senang bertemu dengan anda nyonya Zeana!"
Zea hanya mengangguk, dia sedikit tergangu dengan tatapan Victor, pria itu menatapnya seolah dia sudah lama mengenal Zea.
"Kalau begitu kami duluan."
Sam lalu membukakan pintu untuk istrinya, setelah Zea masuk Sam lalu menyusul istrinya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pusat perbelanjaan.
Selama perjalanan pulang Zea terngiang dengan tatapan aneh dari Victor, dia benar-benar tidak nyaman bertemu pria itu.
"Uncle, orang yang tadi. Kenapa Zea merinding ya melihat tatapannya," ungkap Zea jujur.
Sam menoleh sekilas. "Kau juga meraskannya Ze, sejak awal bertemu entah mengapa aku juga kurang nyaman dengan orang itu. Setelah kontrak habis aku tidak akan memperpanjang kontrak dengan perusahaan Victor lagi!"
"Hem, lebih baik begitu uncle, sebagai gantinya Zea akan membantu uncle mencari klien baru," sahut Zea bersemangat.
"Terima kasih sayang!"
"Sama-sama uncle."
Berbeda dengan Sam dan Zea yang tengah di liputi kebahagiaan, Daniel masih berjuang mendapatkan hati Clara. Hampir setiap pagi pria itu akan mengirim sarapan ke rumah Clara namun gadis itu masih belum memberi jawaban untuknya.
Malam ini Daniel berencana untuk menemui Clara, namun dia terpaksa memanfaatkan anak-anak jalanan agar Clara mau bertemu dengannya. Daniel sudah membelikan baju baru serta memasakan makanan untuk anak-anak itu sehingga Clata tak bisa menolak niat baik Daniel.
Jam tujuh malam mereka bertemu di taman kota yang berada di dekat rumah Clara, dari kejauhan Daniel tersenyum saat melihat Clara mengayuh sepeda menuju taman..Daniel turun dari mobil dan melambaikan tangan ke arah Clara, gadis itu lalu menghampiri Daniel.
"Aku bawa banyak barang jadi terpaksa bawa mobil, bantu aku keluarkan barang-barangnya Ra!"
"Oke!"
Daniel membuka bagasi mobilnya, mereka berdua lalu mulai mengeluarkan barang-barang yang Daniel siapalan. Clara cukup terkejut karena Daniel membawa banyak barang.
Satu persatu anak-anak jalanan itu mulai datang, setelah semuanya berkumpul Clara mulai membagikan baju dan sepatu baru untuk mereka sementara Daniel sibuk memotret Clara tanpa izin dari gadis itu.
"Terima kasih banyak kak Clara, om Daniel," ucap anak-anak itu dengan serempak, rona bahagia terpancar jelas dari anak-anak kurang beruntung itu.
"Om?" Clara tertawa terbahak-bahak saat mendengar Daniel di panggil om, sementara itu Daniel hanya menyeringai meski sebenarnya dia sedikit kesal di panggil om, dia belum setua itu anak-anak.
Mereka lalu melanjutkannya dengan makan bersama-sama, Daniel duduk di samping Clara sambil menatap gadis itu yang sedang menikmati makanannya.
"Aku bisa tersedak kalau kau menatap ku seperti itu!" protes Clara karena sejak tadi dia terganggu dengan tatapan Daniel.
"Aku hanya sedang mengobati kerinduanku, hampir seminggu ini aku tidak melihatmu," jawab Daniel dengan begitu serius, Clara menoleh dan di semakin salah tingkah karena Daniel tersenyum kepadanya.
"Cepat makan Dan karena aku harus segera pulang, tugasku banyak sekali!"
"Tapi aku masih ingin bersamamu?"
"Jangan bercanda Dan, ayo cepat makan!"
Daniel menahan tangan Clara yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulut, dengan santainya Daniel mengarahkan nasi itu ke dalam mulutnya sehingg terkesan Clara sedang menyuapainya.
"Daniel kau," pekik Clara tertahan.
"Kenapa?"
"Itu sendok bekasku Dan, kau sangat jorok!" ujar Clara.
"Kita bahkan sudah pernah berciuman, kalau hanya bekas sendokmu aku tidak masalah!"
Tiba-tiba wajah Clara memerah gara-gara Daniel mengungkit ciuman malam itu. Pria itu bersikeras jika itu ciuman pertama mereka mesti Clara sudah menjelaskan jika ciuman itu tak berarti apa-apa.
"Wajahmu merah Ra, apa kau gugup?" goda Daniel sambil tersenyum nakal.
"Tentu saja tidak!" jawab Clara dengan cepat.
"Tapi wajahmu menjelaskan semuanya Clara!"
"Diam Daniel atau aku akan memukulmu!"
"Pukul saja, aku akan menerimanya dengan senang hati!"
"Dasar orang gila!"
"Kau benar, aku memang gila karena kau terlalu lama menggantungku!"
"Kau ingin jawabannya sekarang?" tanya Clara dan Daniel mengangguk dengan semangat.
"Aku....
BERSAMBUNG...