
Sebulan sudah sejak Sam melapor ke pihak berwajib tentang orang asing yang mengikuti mereka, namun sampai saat ini pihak kepolisian belum bisa menagkap siapa penguntit tersebut karena setelah Sam melaporkannya penguntit itu berhenti mengikuti Sam dan Zea. Namun Sam tetap waspada, dia menambahkan dua orang pengawal lagi untuk berjaga di depan rumah mertuanya, dia juga selalu membawa pengawal saat mengajak Zea pergi jalan-jalan.
Usia kandungan Zea sudah memasuki bulan ke lima, malam ini Indhi sengaja mengajak keluarga serta teman-temannya untuk makan malam bersama di restoran milik Sam. Selain mengundang kedua sahabatnya, Indhi juga mengundang Daniel karena dia sudah menganggap Daniel seperti keluarganya sendiri. Hubungan mereka semakin baik sejak kerja sama antara Sam dan Daniel.
"Bagaimana kondisi bayimu Ze?" tanya Dita sambil tersenyum, tak menyangka jika Zea kecilnya kini sudah besar dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Sehat aunty, dia mulai aktiv bergerak," jawab Zea dengan bahagia.
"Syukurlah, aunty sudah tidak sabar di panggil oma," sahut Arum tak kalah bahagia.
"Artinya kita sudah tua sekarang, sebentar lagi aku menjadi nenek," sambung Indhi, ketiga sahabat itu lalu tertawa membayangkan seorang bocah memanggil mereka dengan sebutan nenek.
"Aku juga sudah tidak sabar memiliki cucu dari putri kandungku," celetuk Arum sambil melirik Clara.
Clara tersedak minumannya, gadis itu terkejut mendengar ucapan sang momy. "Clara masih kuliah mom. Lagi pula anak Zea juga akan menjadi cucu momy, jangan berharap lebih padaku momy," protes Clara tak terima.
"Nikahkah Clara saja aunty," sahut Dave berniat menjahili sahabatnya.
"Apa kau mau menikahiku Dave?" tanya Clara dengan wajah serius, kali ini dia seolah sedang mengutarakan isi hati mereka.
Daniel yang kebetulan duduk di sebelah Clara bisa merasakan jika Clara menyukai pria bernama Dave itu, dari tatapan matanya saja sudah sangat terlihat jelas, apa yang di katakan Clara bukanlah lelucon.
"Haha," Zea tertawa karena suasana berubah begitu canggung. Di antara mereka semua mungkin hanya Dave yang tak peka dengan perasaan Clara sehingga pria itu terlihat biasa saja.
"Ck, aku tidak mau menikahi gadis cerewet sepertimu," jawab Dave tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Aku juga tidak mau menikah dengan pria kaku dan tidak peka sepertimu," balas Clara di iringi sindiran pedas.
"Sudah, sudah. Kalian kan bersahabat, lebih baik mencari pria dan wanita lain saja agar persahabatan kalian tetap terjalin," Indhi berusaha menengahi karena melihat kecanggungan di antara Dita dan Arum.
"Benar kata aunty Indhi. Di luar sana masih banyak pria dan wanita lain," sahut Ega mencoba mencairkan suasana.
"Iya uncle," jawab Dave dan Clara bersamaan.
Mereka lalu melanjutkan acara makan malam meski suasana numya sedikit canggung. Setelah makan malam, Indhi dan kedua sahabatnya duduk bersama-sama sambil menikmati hidangan penutup.
"Maafakan sikap Dave ya Rum," ucap Dita, dia merasa tak enak hati karena putranya tidak peka dengan perasaan Clara.
"Kenapa harus minta maaf Dit, Dave tidak salah. Memang seharusnya tidak ada cinta di antara mereka,"jawab Arum sambil tersenyum, meski sebenarnya jauh di dalam hatinya dia begitu terluka melihat cinta Clara yang bertepuk sebelah tangan.
"Biarkan anak-anak saja yang memutuskan apa yang terbaik untuk mereka. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan jangan sampai ada kesalah pahaman di antara kita. Kalian mengerti maksudmu kan?" ucap Indhi menasehati kedua sahabatnya.
Dave dan Zea bergabung bersama para ayah, sementara Sam berbincang dengan Daniel. Hanya satu orang saja yang memilih duduk sendirian, setelah mendapat penolakan secara tidak langsung dari Dave, gadis itu mulai memikirkan cara untuk melupakan Dave dari hatinya.
Clara duduk di luar restoran sambil merenung, selama ini dia begitu bebal karena mencintai Dave dalam diam dan berakhir dengan kekecewaan.
"Temani dia, kalau perlu ajak jalan-jalan," ucap Sam tiba-tiba.
Daniel terlihat malu karena tertangkap basah oleh Sam sedang memperhatikan Clara dari jauh. "Apa boleh?" tanya Daniel ragu.
"Tentu saja. Cepat keluar sana!" usir Sam dengan senyum penuh arti, dia terlihat senang saat Daniel mulai tertarik dengan Clara, dengan begitu dia tak perlu khawatir lagi kalau Daniel akan merebut istrinya. Sungguh pria yang licik.
Daniel memberanikan diri menghampiri Clara, dia tua betul apa yang sedang Clara rasakan karena dia juga pernah mengalami hal yang sama, menyukai seseorang dalam diam.
Daniel melepas jas nya dan memakaikannya di tubuh Clara, gadis itu menoleh dan segera menghapus air matanya saat menyadari jika Daniel yang datang.
"Menangislah jika membuatmu merasa lebih lega," ucap Daniel, pria itu duduk di sebelah Clara dan menatap langit malam yang tak berhiaskan bulan dan bintang.
"Siapa yang menangis, mataku perih terkena angin," elak Clara, dia tidak mau orang lain melihatnya menangis, baginya hanya Zea lah satu-satu nya orang yang boleh melihat air matanya.
"Oh ya. Baguslah, aku pikir kau sedang menangis."
"Seorang Clara tidak pernah menangis!" tegas Clara dengan mata berair. Sangat sial bukan ketika ucapan dan tindkaannya tidak sejalan.
"Apa kau begitu menyukainya?" Daniel menoleh dan menatap wajah Clara. Di saat yang sama Clara pun menoleh karena terkejut dengan pertanyaan Daniel.
"Bagaimana kau tau?" tanya Clara dengan tatapan penuh tanya.
Daniel seger mengalihkan pandangannya, tatapan mata Clara membuatnya merasakan sesutu yang aneh di dalam hatinya. "Hm, sangat terlihat jelas. Pria itu benar-benar bodoh karena tak menyadarinya!"
"Dia bukan bodoh, dia hanya tidak peka," Clara tidak terima Dave di ejek oleh Daniel.
"Sama saja, hanya beda bahasa," sahut Daniel.
"Ck, terserah kau saja!"
"Ra," panggil Daniel lembut.
"Apa?" sementara Clara menjawabnya dengan cuek.
"Mau jalan-jalan?" tanya Daniel.
"Kemana?"
"Kemana pun kau mau!"
BERSAMBUNG...