Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Menemui Daniel



Sam dan Zea kembali ke rumah mereka setelah mendapat izin dari Indhi, tentu saja izin dengan berbagai persyaratan yang Indhi berikan. Salah satunya adalah melarang Sam untuk bertemu dengan Felisya lagi. Jika Indhi tau Sam masih bertemu dengan wanita itu lagi, Indhi berjanji akan langsung membawa Zea pergi tanpa mendengar penjelasan apapun.


Sam membantu Zea ke kamarnya, gadis cerdik itu benar-benar memanfaatkan kondisinya untuk menarik perhatian Sam. Pagi ini Zea sengaja memakai bedak di bibirnya agar terlihat pucat.


"Kau yakin tidak ke dokter, wajahmu sangat pucat?" ucap Sam seraya membaringkan tubuh Zea di atas tempat tidur.


"Zea baik-baik saja uncle. Oh ya, makan siang nanti, uncle bisa makan di luar saja karena kita tidak punya makanan di rumah," jawab Zea sambil mengingatkan suaminya. Hati Sam mencelos, meski dia sudah menyakiti Zea namun gadis itu masih sangat memperdulikannya.


"Ya. Apa kau ingin makan sesuatu?"


Zea menggelang lemah. "Tidak uncle, aku bisa makan roti saja nanti," tolak Zea, dia memang sedang kehilangan selera makan.


"Hem. Istirahatlah. Panggil uncle kalau kau butuh sesuatu!"


"Hem," Zea tersenyum bahagia, dia merasa uncle Sam nya telah kembali, pria baik hati dan perhatian itu mulai menghangat lagi. Mungkin saja jalan Zea akan lebih mudah, cepat atau lambat Sam pasti akan menerimanya. Pikirnya begitu.


Sam merebahkan tubuhnya di atas kasur, matanya terpejam dan kembali mengingat tatapan penuh kekecewaan di mata Indhi. Sungguh dia sangat takut jika Indhi marah padanya. "Apa yang harus Sam lakukan mom, kak Indhi sangat kecewa dengan Sam kali ini," ucap Sam bermonolong.


Di tengah lamunan panjangnya, ponsel nya berdering. Sam meraih ponselnya, sebuah panggilan dari Felisya. Sam ragu untuk menerima panggilan tersebut. Dia takut akan melewati batasanya lagi dan membuat Indhi kembali kecewa. Namun hati dan kepalanya tidak sejalan, akhirnya Sam tetap saja menerima panggilan tersebut.


"Hay Fel," sapa Sam dengan ramah.


"Hay. Bagaimana kondisi Zea?" tanya Felisya seolah-olah dia turut mengkhawatirkan Zea, padahal sejak kemarin dia berdoa agar sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.


"Dia sudah lebih baik," jawab Sam tak enak hati, dia merasa terharu karena Felisya mengkhawatirkan gadis yang menjadi rivalnya.


"Syukurlah Sam. Apa kau sudah makan?" tanya Felisya.


"Belum. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga belum Sam. Apa kau mau makan siang di luar bersamaku?" ajak Felisya antusias, dia yakin Sam tidak akan menolaknya.


"Maaf Fel, aku belum bisa keluar. Lain kali, lain kali kita makan bersama ya," tolak Sam dengan lembut. Hati kecilnya terus mengatakan untuk menemui Felisya namun otaknya menekankan padanya untuk mengingat janjinya kepada ibu mertua.


"Oh oke. Jaga kesehatanmu Sam," Felisya mengakhiri panggilan sepihak, wanita itu menggeram kesal dan melempar gelas yang sedang dia pegang. Sepertinya dia harus segera menyingkirkan Zea sebelum gadis itu berhasil merebut Sam dari pelukannya.


Beberapa hari telah berlalu, Sam benar-benar menghindari Felisya. Dia selalu menolak saat Felisya mengajaknya bertemu. Saat di kampus pun Sam akan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun di antara mereka.


Sementara itu kondisi Zea sudah kembali segar, gadis itu sudah mulai beraktivitas. Siang ini, setelah pulang dari kampus Zea pergi ke tempat les memasaknya, Zea ingin mengucapkan terima kasih pada Chef Daniel.


Cukup lama Zea menunggu Daniel yang sedang berada di kelas memasaknya. Saat kelasnya selesai, Daniel begitu terkejut melihat Zea duduk di depan ruang kelasnya.


"Nona Zea," panggil Daniel setelah mengingat nama gadis itu.


Zea lalu berdiri dan tersenyum. "Maaf Chef, boleh minta waktunya sebentar," ucap Zea ragu.


"Tentu. Di depan ada kafe, kita bisa bicara di sana!"


Zea mengikuti langkah Daniel yang begitu panjang. Mereka akhirnya sampai di kafe yang Daniel maksud. Mereka lalu masuk dan duduk di salah satu tempat yang kosong. Tak beberapa lama seorang pelayan datang membawa buku menu. Zea dan Daniel membaca menu sesaat.


"Ice moccacino satu, strowberry soft cake satu," ujar Zea dan Daniel bersamaan. Keduanya lalu saling menatap dan tertawa karena mereka memiliki selera yang sama.


"Chef juga menyukai makanan yang mani?" tanya Zea setelah pelayan tersebut pergi.


"Ya, rasa manisnya membuat saya merasa tenang," jawab Daniel. "Hem, karena kita di luar kau bisa memanggil namaku saja nona Zea," imbuhnya sambil tersenyum.


"Tentu saja."


"Baiklah kalau begitu. Chef juga harus memanggilku Zea, hanya Zea."


"Daniel," ucap Daniel mengingatkan karena Zea masih memanggilnya Chef.


"Iya Daniel!"


"Nah begitu kan enak di dengar," Daniel tersenyum lagi, pria itu benar-benar sangat ramah. "Oh ya, bagaimana kondisimu?" tanyanya kemudian.


"Ah, aku baik-baik saja. Maaf membuat keributan di kelas waktu itu," jawab Zea, rasanya dia sangat malu, hanya karena tergores pisau dia harus di larikan ke rumah sakit.


"It's okay. Mm, sebelumnya aku minta maaf. Waktu itu aku membuka dompetmu untuk mencari alamat dan aku tidak sengaja melihat golongan darah yang kau miliki. Pasti karena itu kan makanya para pengawalmu sangat panik."


"Ah kau sudah tau ya," Zea terlihat canggung.


"Maaf Zea aku tidak bermaksud lancang," sesal Daniel karena memang seharusnya dia tak memeriksa kartu identitas Zea, tapi mau apalagi dia harus mengembalikan tas milik Zea kan.


"Tidak papa. Aku menemuimu karena ingin berterima kasih karena kau telah mengantar tas ku. Terima kasih banyak Daniel," ucap Zea lembut, tak lupa dia menyertakan senyum di wajah cantiknya. "Dan, bisakah kau merahasiakan tentang golongan darahku," pinta Zea setengah berbisik.


Daniel tersenyum sekilas, pria itu lalu mengangguk. "Aku akan menjaga rahasia," jawabnya juga dengan bisik-bisik.


"Terima kasih Daniel. Oh ya, apa sebelumnya kita pernah bertemu. Sepertinya wajahmu tidak asin?"


"Kita pernah bertemu di restoran tempatku bekerja. Kau menyiram minuman ke palayanku," jawab Daniel sambil menahan tawanya.


"Ah itu," Zea menepuk keningnya sendiri, dia akhirnya ingat dimana dia pernah bertemu Daniel. "Kau kenapa bisa kerja di restoran meyebalkan itu?" tanya Zea penasaran.


"Aku hanya membantu temanku saja."


"Oh begitu."


"Hem. Apa Zea masih kuliah?" kini giliran Daniel yang bertanya. Jujur saja sejak pertama kali melihat Zea, Daniel sedikit tertarik dengan gadis itu.


"Masih, baru semester empat," jawab Zea apa adanya.


"Wah, kau masih sangat muda ya."


"Kau pasti sudah tau karena sudah memeriksa kartu identitasku kan?"tebak Zea.


Daniel terkekeh, pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf," ucapnya malu.


"Hahah, aku memaafkanmu asal kau traktir aku hari ini."


"Tentu saja. aku juga akan mentraktirmu besok, besoknya lagi dan seterusnya."


Kedua orang itu lalu tertawa. Sangat jarang Zea bisa cepat dekat dengan orang asing. Namun sepertinya Daniel bisa menarik Zea, pria itu membuat Zea merasa aman.


BERSAMBUNG..


Selamat tahun baru semuanya❤️❤️❤️