
Sepanjang malam Sam menunggu Zea pulang, namun sampai matahari terbit gadis itu tak kunjung terlihat dan membuat Sam merasa khawatir. Semalaman penuh dia merutuki dirinya sendiri karena terlalu terbawa emosi dan menghakimi Zea tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.
Sebelum berangkat ke kampus, Sam menyempatkan diri mampir ke rumah mertuanya. Dia berharap Zea berada di sana.
"Sam," ujar Indhi begitu pintu terbuka, wanita paruh baya itu sedikit terkejut melihat kedatangan menantunya. "Zea mana, kok tidak ikut?" tanyanya sambil mencari ke sana ke mari.
Sam semakin panik mendengar pertanyaan mama mertuanya, itu artinya Zea tidak pulang ke rumah orang tuanya. "Zea di rumah mah. Zea menyuruh Sam mengambil beberapa barang yang tertinggal," Sam terpaksa membohongi Indhi, jika tidak sudah dapat di pastikan dia akan mendapat kemarahan besar dari mama mertuanya.
"Oh, ya sudah. Sam cari saja di kamar Zea!"
Sam mengangguk, pria itu lalu masuk ke dalam rumah dan segera naik ke lantai atas dimana kamar istrinya berada. Begitu masuk ke dalam kamar istrinya, Sam mencari beberapa barang yang bisa di bawa agar Indhi tidak mencurigainya. Sam duduk di kursi meja rias, dia lalu membuka laci meja tersebut dan tak sengaja menemukan buku diary milik istrinya. Sam meraih buku tersebut dan membukanya secara acak.
Dear diary...
Mencintai uncle Sam adalah keputusanku, dan aku akan terus mencintainya dengan sebaik-baiknya cinta..
Sam menutup buku tersebut, dia tak sanggup membacanya lagi. Sam memasukan buku diary Zea ke dalam tas kerjanya, dia lalu mencari sesuatu yang bisa dia bawa lagi. Sam membuka lemari baju milik istrinya, dia terperangah melihat isi lemari tersebut, karena bukan baju yang ada di dalamnya melainkan jejeran boneka dalam berbagai jenis hewan.
Sam menggigit bibir bagian dalam, dia baru ingat jika semua boneka tersebut adalah pemberiannya. Totalnya ada dua puluh boneka, sama dengan usia Zea saat ini.
Sam kembali menutup lemari tersebut, dia beralih pada meja belajar Zea dan mengambil buku secara asal untuk dia bawa. Sam lalu keluar dari kamar Zea dan turun ke lantai bawah, dia lalu menghampiri Indhi yang berada di dapur.
"Ma, Sam pulang dulu," pamitnya pada sang mertua.
"Tunggu sebentar Sam," Indhi menghampirinya dan memberikan dua kotak bekal. "Kalian pasti belum sarapan," ucap Indhi.
"Terima kasih mam. Kalau begitu Sam pulang dulu," Sam meraih kotak bekal tersebut dan segera keluar dari rumah mertuanya sebelum Indhi bertanya lebih banyak lagi. Sam segera melajukan mobilnya ke kampus, dia berharap bisa bertemu Zea di sana.
Sam sudah berada di kampus, pria itu berjalan menuju ruangannya dengan membawa kotak bekal di tangannya tanpa merasa malu sedikitpun. Namun sebelum dia masuk ke dalam ruangannya, seseorang memanggilnya dari belakang. Sam menoleh dan mendapati Clara sedang berlari ke arahnya.
"Ada apa Ra? Kenapa kau ada di sini?" tanya Sam penasaran, pasalnya gedung kampus Clara cukup jauh dari gedung tempat Sam mengajar.
Clara tak menjawab, dia hanya memberikan selembar kertas kepada Sam. Pria itu meraihnya dengan wajah bingung lalu membaca isi kerta tersebut.
"Dady berhasil melacak alamat IP akun yang menulis berita sampah tentang uncle dan Zea, dan itu alamat rumah orang yang melakukannya," jelas Clara karena Sam masih terlihat kebingungan.
"Alamat ini," Sam menatap Clara tak percaya, alamat yang tertulis di kertas itu adalah alamat yang tidak asing untuknya.
"Ya itu alamat rumah ibu Felisya," jawab Clara dengan lantang.
Sam meremas kertas tersebut, antara kecewa dan marah, pria itu sedang merasakannya saat ini. Wanita yang dia cintai nyatanya pandai bersandiwara dan memutar balikan fakta.
"Percayalah pada Zea sekali saja uncle. Uncle tau kan Zea sangat mencintai uncle Sam? Clara akan mengirim sebuah alamat, datanglah ke alamat itu dan minta maaflah pada Zea," setelah mengucapkan kalimat tersebut, Clara meninggalkan Sam yang masih terlihat syok mendapati kenyataan jika yang bersalah bukanlah Zea melainkan Felisya. Wanita yang selalu dia bela di depan Zea.
Sam mengetatkan rahangnya saat dia melihat Felisya berjalan menghampirinya dengan kaki pincang, wanita itu tersenyum begitu manis saat mendapati Sam tengah menatapnya.
"Hay Sam, kau baru datang?" tanya Felisya dengan sangat ramah.
"Hem. Apa kakimu masih sakit?" Sam berusaha menahan amarahnya, dia hanya ingin tau permainan apa yang sedang Felisya mainkan sampai-sampai dia rela nama baiknya di pertaruhkan.
"Syukurlah. Kalau begitu aku masuk dulu, aku ada kelas pagi," ujar Sam, dia lalu masuk ke dalam ruangannya dan meninggalkan Felisya.
"Kau akan menjadi milikku Sam," batin Felisya sambil menatap pintu ruangan Sam yang tertutup rapat.
.
.
Matahari mulai tergelincir ke barat, Sam baru meninggalkan kampus karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Sam membuka ponselnya, dan benar Clara sudah mengirimkan alamat kepadanya. Sam langsung melajukan mobilnya menuju alamat dimana Zea berada, dia khawatir karena seharian Zea tak terlihat di kampus.
"Hotel," gumam Sam saat dia berada di depan sebuah hotel bintang lima. Sam kembali memeriksa alamatnya dan benar. "Sepertinya kekhawatiranku berlebihan, dia bahkan menginap di hotel mewah."
Sam lalu memarkirkan mobilnya, saat dia menuju lobby hotel Clara kembali mengiriminya pesan.
"Lantai 12 kamar nomor 304," tulis Clara.
Sam sudah berdiri di depan kamar 304, setelah menimbang beberapa saat, Sam akhirnya menekan bel kamar tersebut dan tak berapa lama pintu kamar terbuka meski tak sepenuhnya. Sam melihat jelas seseorang berdiri di belakang pintu, tak berselang lama kepala Zea menyumbul dari celah pintu.
"Sia...." Zea tak melanjutkan kalimatnya, gadis itu terkejut melihat Sam berdiri di depan kamarnya. Zea menarik lagi kepalanya, dia hendak menutup pintu namum Sam lebih dulu menahannya kakinya.
"Auw," pekik Sam saat kakinya terjepit. Mendengar teriakan Sam, akhirnya Zea urung menutup pintunya. Kesempatan tersebut tentu saja Sam gunakan untuk menerobos masuk sebelum Zea kembali menutup pintunya.
Di dalam kamar, Sam mematung di tempatnya dengan bola mata yang hampir keluar, tepat di hadapannya Zea hanya memakai celana super pendek dan sport braa berwarna hitam yang membuat gadis itu terlihat sangat sexiiii.
"Ada apa uncle?" tanya Zea acuh, dan dia tak berniat memakai sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya.
"Ze, bisa kau pakai baju dulu," pinta Sam dengan jakun naik turun. Tubuhnya mulai memasan bersamaan dengan boy yang mulai menggeliat.
"Kenapa? Toh uncle juga tidak nafsu melihatku!" celetuk Zea. "Katakan ada apa kemari? Tunggu sebentar, siapa yang memberi tau uncle kalau aku ada di sini?"
"Ze, pakai bajumu sekarang!" tegas Sam dengan nafas memburu, dia bahkan lupa jika dia datang untuk meminta maaf.
"Tidak mau. Memangnya uncle siapa berani mengaturku!"
"Jangan menantangku atau kau akan menyesalinya Ze. Cepat pakai bajumu!"
"No," tolak Zea dengan tegas. Dia masih marah dan kesal pada Sam sehingga dia enggan mengikuti perintah suaminya. "Lebih baik uncle pergi jika tidak memiliki sesuatu untuk di bicarakan," usir Zea.
"Bagaimana aku bisa bicara jika kau memakai pakaian seperti ini."
"Memangnya kenapa dengan pakaianku? Lagi pula uncle juga tidak tertarik dengan tubuhku kan?"
Sam meraup wajahnya dengan kasar, dia frustrasi karena Zea tidak mendengarkan perintahnya. "Pakai bajumu atau aku akan menidurimu Ze!"
BERSAMBUNG...
Unboxing nggak gays?