Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Gara-gara lampu



"Siapa pria yang datang ke rumah?" tanya Sam dengan tatapan tak suka.


"Daniel!" jawab Zea apa adanya.


"Daniel? Apa dia kekasihmu?"


Zea menatap Sam tak percaya, sejak kapan pria itu mulai peduli dengannya. Oh astaga, baru begitu saja Zea sudah melambung jauh, tingkat kepercayaan dirinya untuk membuat Sam jatuh cinta semakin besar. "Aku punya suami yang tampan, kenapa aku harus memiliki kekasih yang lain?" jawab Zea bernada menyindir.


"Terus siapa dia?" Sam benar-benar penasaran dengan pria bernama Daniel yang berani datang le rumahnya.


"Dia temanku uncle," Zea menjawab dengan garis senyum di wajahnya.


"Untuk apa dia kemari?"


"Dia menga...."


"Sudah lupakan. Aku mau mandi!" Sam berlalu dan pergi ke kamarnya. Entah mengapa rasanya dia begitu kesal. "Pantas saja dia buru-buru pulang."


Sementara Zea tertawa puas melihat wajah kesal suaminya. "Suatu hari kau akan bertekuk lutut dan memohon cintaku uncle."


.


.


Sam kembali turun untuk makan malam, sebenarnya dia tak berselera, namun dia tidak ingin mengingkari janjinya kepada Zea untuk menemani gadis itu makan.


Di meja makan Zea sudah menyiapkan piring Sam seperti biasanya. Gadis itu juga tersenyum hangat setiap kali menyambut suaminya. Keduanya lalu menikmati makan malam mereka, meski bukan malam romantis, namun sudah cukup bagi seorang Zea.


"Sapi lada hitamnya enak, beli dimana?" tanya Sam setelah dia menyelesaikan makan malamnya, pria itu kalu meraih gelas berisi air putih dan meminumnya.


"Daniel yang masak," jawab Zea sejujur-jujurnya.


"Uhuk, uhuk," Sam tersedak air minum, jawaban Zea sungguh membuatnya terkejut. Bagaimana tidak, dia sangat menikmati makan malamnya tanpa tau siapa yang memasaknya. Jika tau pria itu yang memasak, lebih baik Sam memilih kelaparan sepanjang malam.


"Hati-hati minumnya uncle," Zea menepuk punggung Sam dengan pelan, gadis itu lalu meraih tisu dan menyeka bibir Sam yang basah. Untuk seperkian detik, Zea termangu menatap bibir berwarna kemerahan. Untuk seorang lelaki, bibir Sam terbilang sangat terawat karena memang Sam tidak pernah merokok. Tiba-tiba terlintas hal mesyum di kepala Zea, gadis itu membayangkan bagaimana rasanya di cium oleh bibir tebal berwarna kemerahan itu, apakah rasanya akan sangat menyenangkan. Oh, membayangkannya saja membuat Zea merinding.


"Apa yang aku pikirikan Ze?" tanya Sam, gadis itu mendongak sehingga netra mereka saling bersitubruk membuat jantung Zea berdebar tak karuan.


"Ciuman," jawab Zea tanpa sadar, gadis itu seolah tenggelam tatapan mata biru milik suaminya.


"Kau ingin aku menciummu?" tanya Sam dan Zea mengangguk pasrah. "Kau yang minta, jadi jangan menyesal!"


Cup...


Zea membelalakan matanya saat sebuah kecupan singkat mendarat di bibir mungilnya. Gadis itu benar-benar tak percaya jika Sam baru saja menciumnya.


"Apa aku sedang bermimpi?" tanyanya bak orang bodoh, jemari lentiknya menyentuh bibirnya sendiri. Dia bersorak karena Sam adalah pria pertama yang menciumnya.


"Bereskan piring kotornya!" ucap Sam gugup, sebelum Zea menyadari jika wajahnya memerah pria itu segera pergi ke kamarnya. "Dasar bodoh, kenapa kau malah menciumnya sih," Sam merutuki dirinya sendiri, jujur saja sejak kejadian malam itu, saat Zea membicarakan tentang nafkah dan saat dia melihat dadaaa sang istri, Sam terus terngiang dan membayangkan jika dia bisa menyentuh dadaa yang tak terlalu besar namun terlihat padat. Oh ayolah, dia seorang pria dewasa yang akan tergoda dengan kemolekan tubuh lawan jenisnya.


Sam mengipasi wajahnya dengan tangan, darahnya berdesir membuat sekujur tubuhnya terasa panas. Belum lagi, si adik yang berada di dalam lipatan paha terus menggeliat dan memberontak seolah ingin keluar dari tempat persemediannya.


"Oh ayolah boy, aku tidak ingin bermain solo. Tidurlah, tidurlah lagi," ucap Sam bermonolong.


"Siapa yang tidur uncle?" tanya Zea secara tiba-tiba, Sam menoleh dan sontak terkejut melihat Zea sudah berdiri di belakangnya.


"Sejak kapan kau berada di dalam kamarku?" tanya Sam gugup.


Sam menahan nafasnya, rasanya dia ingin menghilang dari bumi ini.


"Ngomong-ngomong siapa boy?"


Glek...


Sam menelan ludahnya dengan kasar. Apa yang harus dia katakan. Apakah dia harus memperkenalkan boy kepada Zea.


"Temanku. Aku sedang bicara di telfon," bohong Sam.


"Boy? Kenapa aku tidak kenal?"


"Kapan-kapan aku akan memperkenalkannya."


"Oke uncle."


"Kenapa kau masuk ke kamar ku dan tidak mengetuk pintu?"


"Aku mengetuk pintu tapi uncle tidak menjawab. Zea mau minta tolong, lampu di kamar Zea mati," jawab Zea, gara-gara boy dia jadi lupa maksud kedatangannya ke kamar sang suami.


"Ayo keluar, uncle ambil tangga dulu!"


Zea dan Sam keluar dari kamar, Zea menunggu di depan kamarnya sementara Sam mengambil tangga di lantai bawah. Beberapa saat kemudian, Sam datang dan membawa tangga, dia lalu masuk ke dalam kamar Zea.


"Ze nyalakan senternya. Jangan lupa pengang tangganya," perintah Sam dan Zea mengangguk patuh.


"Baik uncle."


Sam lalu mengganti lampu kamar yang sudah rusak dan memasang lampu yang baru. "Nyalakan saklarnya Ze!"


"Ya," Zea lalu melepas tangga yang di naiki Sam dan menyalakan saklar lampu. "Sudah menyala, terima kasih uncel," ucapnya bersemangat.


"Hem," Sam lalu turun dari tangga, namun tangga tersebut kehilangan keseimbangan. Zea yang menyadari hal itu berlari mendekati tangga, entah apa yang ada di dalam benak gadis itu sehingga dia tertimpa tubuh Sam yang tak sengaja terjatuh dari tangga.


"Aaaaa," pekik Zea saat punggungnya mendarat di lantai, belum lagi beban tubuh Sam yang menimpanya membuat gadis itu terjepit.


"Ze, kau baik-baik saja?" Sam segera duduk dan membantu Zea berdiri.


"Punggungku sakit," keluh Zea sambil meringis karena memang punggungnya terasa remuk.


"Coba aku lihat," karena panik Sam menyingkap kaos Zea dan memeriksa punggung istrinya. Di sana Sam bisa melihat punggung putih Zea memar kemerahan.


"Ze," panggil Sam ragu.


"Kenapa uncle?"


"Bisa kau lepas pengait braaa nya?"


"Eh?" Zea mengeryitkan dahinya.


"Punggungmu memar. Aku akan mengambil air es. Kau berbaringlah di kasur. Jangan lupa buka braaa nya!"


BERSAMBUNG...