Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Zea pulang



Zea memutuskan untuk tidak pergi ke kampus karena tubuhnya masih terasa lemah. Setelah sarapan dan meminum obatnya, dia kembali ke kamar dan menunggu sesuatu yang sudah jelas hasilnya, yaitu pesan dari Sam, pesan yang tidak akan mungkin Zea terima.


Ting...


Zea segera meraih ponselnya, gadis itu tersenyum karena mengira mendapat pesan dari Sam. Namun, senyumnya segera redup, tergantikan sebuh tatapan penuh kesedihan saat dia mererima pesan dari Clara, sahabatnya.


'Mereka berangkat bersama pagi ini, apa mereka pacara?'


Mata yang tadinya berbinar kini di genangi air mata kesedihan, beberapa foto yang Clara kirimkan berhasil mengiris hatinya. Kondisi tubuhnya yang lemah semakin ringkih, bak sebuah tubuh tanpa jiwa.


'Datang ke rumah setelah pulang dari kampus!'


Setelah mengirim balasan untuk sahabatnya,.Zea kembali menangis namun tanpa suara. Dadanya terasa sesak, perasaannya berkecamuk. Dia ingin marah atas apa yang di lakukan oleh Sam terhadapnya, namun dia merasa apakah dia berhak melakukannya?


.


.


"Apa? Menikah? Kalian? Kapan kalian menikah? Kenapa kau tidak memberitahuku?" cecar Clara dengan begitu banyak pertanyaannya. Gadis manis berambut sebahu itu segera datang ke rumah Zea setelah jam kuliahnya berakhir. Clara dan Zea bersahabat sejak mengikuti jejak kedua ibu mereka. Meski Clara setahun lebih muda, namun terkadang dia lebih dewasa dari pada Zea.


"Satu-Satu tanyanya Ra," ujar Zea dengan pelan.


"Jadi kapan kalian menikah?" Clara menurunkan suaranya dan menatap Zea penuh tanya.


"Beberapa menit sebelum oma Elisa meninggal, kami bahkan menikah di rumah sakit," jelas Zea apa adanya.


"Kau bahagia?"


Pertanyaan Clara membuat Zea kembali bertanya-tanya, benarkah hanya dengan memiliki tubuh Sam dia sudah merasa cukup dan bahagia. Nyatanya tidak, Zea menjadi serakah dan berharap Sam akan mencintainya, Zea juga ingin Sam kembali bersikap lembut kapadanya.


"Entah," Zea hanya bisa menunduk, buliran bening kembali lolos tanpa seizinnya.


"Kalau kalian sudah menikah, kenapa uncle sangat dekat degan bu Felisya, apa mereka pernah berhubungan sebelumnya?"


"Sepertinya uncle mencintai wanita itu Ra!"


"Lalu bagaimana denganmu. Bukankah uncle sudah keterlalaun jika terus berdekatan dengan wanita lain. Ze, pertahankan apa yang seharusnya menjadi milikmu, jangan biarkan orang lain mengambilnya!"


"Apakah boleh aku mengakuinya sebagai mikikku?'


"Tentu saja boleh, Tuhan menjadi saksi jika kalian saling memiliki!"


Sore harinya dengan di temani sang sahabat, Zea kembali ke rumah Sam. Meski kondisinya masih lemah, namun Zea memutuskan pulang dan berada di sisi Sam. Clara memarkirkan mobilnya di halaman rumah Sam, kedua gadis menatap sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah Sam.


"Apa uncle ganti mobil?" tanya Clara.


"Sepertinya bukan mobil uncle. Ayo kita turun!"


Kedua gadis itu lalu turun dari mobil, kini keduanya berdiri di depan pintu utama. Zea merogoh kunci cadangan rumah tersebut, namun rupanya pintu tersebut dalam keadaan tidak terkunci.


"Apa uncle sudah pulang? Tidak biasanya dia pulang lebih awal?" tanya Zea dalam hati, lalu gadis itu masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi itu. Zra mengajak Clara pergi ke kamarnya, namun saat dia melewati dapur, kedua gadis itu terkejut saat melihat wanita asing berada di dapur.


"Siapa anda?" tanya Zea setelah mereka mendekati wanita itu.


Wanita asing itu lalu menoleh, Zea dan Clara begitu terkejut melihat Felisya berada di rumah Sam, apalagi kini wanita itu sedang memasak di dapur yang seharusnya menjadi wilayah Zea.


"Saya tinggal di sini? Kalian ngapain di sini?"


"Tinggal di sini?"ulang Zea dengan bibir bergetar.


"Ya, sejak kemarin saya tinggal di sini karena apartemen saya kerampokan," jelasnya. "Kalian ada perlu apa kemari?"


"Zea pul..."


"Mama saya menyuruh saya mengantarkakan sesuatu untuk uncle Sam," potong Zea dengan cepat sebelum Clara memberi tahu Felisya tengtang hubungannya bersama Sam.


Clara melirik sahabatnya dengan kesal, seharusnya Zea mengatakan jika ini adalah rumah suaminya dan sudah seharusnya dia tinggal di rumah ini. Namun gadis bodoh itu malah mengarang cerita dan menutupi kebenarannya.


"Oh begitu. Tapi Sam belum pulang. Mungkin sebentar lagi, dia bilang akan pulang untuk makan malam di rumah," jawab Felisya.


"Kalau begitu kami permisi bu," Zea segera menarik tangan Clara keluar dari rumah itu, rasanya dia tak sanggup melihat wanita lain menempati posisinya. Zea masuk ke dalam mobil dan menangis sejadi-jadinya. Meski tau Sam tidak mencintainya, namun sikap Sam kali ini benar-benar keterlaluan.


Yang bisa Clara lakukan hanyalah memeluk Zea,sebagai sesama perempuan Clara tau betul apa yang sedang di rasakan oleh sahabatnya. Clara juga tidak pernah menyangka, pria yang sejak kecil sudah mereka anggap sebagai paman bisa berbuat sekejam itu.


Setelah Zea lebih tenang, Clara mengemudikan mobilnya meningglkan rumah Sam, gadis itu berencana mengajak Zea jalan-jalan sebelum mengantarnya kembali ke rumah orang tuanya.


Seperti janjinya, Sam pulang lebih awal karena ingin makan malam di rumah bersama Felisya. Setelah mandi Sam segera menghampiri Felisya yang sudah menunggunya di meja makan. Seperti kemarin, Feli kembali melayani Sam seperti seorang istri, wanita itu mengambilkan nasi beserta lauk pauk ke dalam piring Sam


"Terima kasih Fel," ucap Sam sambil tersenyum. "Oh ya, apa sudah menemukan tempat?" tanyanya kemudian.


"Belum Sam, maaf ya. Sepertinya aku harus menumpang semalam atau dua malam lagi."


"Oh, hanya dua malam lagi ya Fel. Maaf, karena aku tidak ingin tetangga berpikir negatif dengan keberadaanmu di rumah ini!"


"Aku yang seharusnya minta maaf karena merepotkanmu Sam," ujar Felisya dengan wajah sedih.


"Aku tidak merasa di repotkan kok."


"Terima kasih Sam. Oh ya, tadi Zea dan temannya datang ke sini mencarimu!"


Uhuk..uhuk...


Sam tersedak makanannya, pria itu segera mengambil gelas berisi air dan meminumnya.


"Pelan-pelan Sam" Felisya menepuk punggung Sam dengan perlahan.


"Ze-Zea datang?" tanya Sam dengan gugup. "Apa yang Zea katakan?"


"Katanya dia di suruh mamanya untuk mengantarkan sesuatu untukmu!"


"Dia tidak mengatakan hal lain?"


"Tidak. Zea langsung pulang."


Sam membuang nafasnya kasar, dia sungguh tak berharap Zea melihat Felisya berada di dalam rumah mereka. Sam kembali di hantui rasa bersalah, bagaimana dia akan menghadapi Zea setelah ini?


BERSAMBUNG...