
Sam menggendong Zea menuju kamarnya, entah apa yang ada di pikiran pria itu, malam ini Zea harus menjadi miliknya agar gadis itu tidak pergi. Dia memang pria egois yang belum bisa melupakan Felisya namun dia juga tidak rela kehilangan Zea.
Sam membaringkan tubuh Zea di atas tempat tidur, tatapan pria itu begitu teduh dan berhasil membuat Zea kehilangan akal sehatnya. Dia kembali menjadi gadis bodoh yang akan memberikan apa saja untuk Sam, termasuk tubuhnya.
Zea memejamkan matanya saat Sam mulai mencumbu garis rahangnya, perlahan cumbuan itu turun ke leher, Sam bahkan memberi gigitan kecil di leher Zea dan meninggalkan bekas merah keunguan di sana.
Sam kembali menatap Zeana, mata biru itu telah berkabut gairah. "Ze, aku akan menyentuhmu sesuai keinginanmu, setelah ini kau adalah milikku, kau tidak boleh pergi meninggalkanku," ucapnya dengan suara serak.
Oh ayolah Zeana yang bodoh, sadar dan segera pergi, jangan serahkan hal berharga itu pada pria yang tidak mencintaimu, kau akan rugi Zeana. Cepat lari!
"Sentuh aku, karena aku adalah hak mu, namun setelah itu kau harus melupakan Felisya dan mencintaiku sebagaimana kewajibanmu," jawab Zea seraya menatap suaminya, tatapan itu begitu tulus dan penuh cinta, Sam bahagia karena kembali mendapat tatapan itu dari istrinya.
"Ya, aku janji," balas Sam tanpa keraguan. Setelah Zea mengangguk, Sam kembali mencium bibi Zea dengan lembut namun kali ini lebih menuntut. Sam melepaskan ciumannya sejenak, pria itu lalu membantu Zea duduk dan dengan gerakan cepat Sam mulai melucuti pakaian Zea hingga tubuh bagian atas Zea terpampang di hadapannya.
Jakun Sam naik turun saat menatap benda kenyal dengan pucuk berwarna merah muda.
"Kau hanya akan menatapnya?" tanya Zea seraya menutupi dadaaa nya dengan tangan, dia merasa malu saat Sam menatapnya tanpa berkedip.
Sam merasa tertantang setelah mendengar ucapan Zea, pria itu lalu kembali ******* bibir istrinya, perlahan Sam mendorong tubuh Zea hingga kembali terlentang di atas tempat tidur. Tangan Sam mulai bergerak liar menyusuri setiap inci tubuh Zea dan berakhir pada dua benda kenyal milik istrinya.
Dan entah sejak kapan keduanya sudah sama-sama polos, keduanya saling mencubu tanpa rasa malu. Kini Sam sudah siap untuk memiliki Zea seutuhnya.
"Kau tidak ingin menyentuh boy?" tanya Sam menggoda, sementara itu wajah Zea merah padam saat menyadari jika boy adalah belut alaska yang tersembunyi di kedua pangkal paha suaminya.
Zea menggelang, dia sangat gugup saat melihat boy yang sudah sangat siap memasukinya.
"Tahan sebentar," ujar Sam lembut, pria itu lalu menggesekan boy di inti istrinya sebelum akhirrnya dia berusaha menerobos masuk pada liang sempit yang belum terjamah oleh siapapun.
"Ah, sakit uncle," pekik Zea tertahan, rasanya sungguh sakit seolah boy akan membelah miliknya.
"Tahan sebentar Ze!" Sam mendorong dengan kuat, setelah beberapa kali percobaan akhirnya dia berhasil menerobosnya, ada rasa bangga saat dia tau jika dia pria pertama yang menyentuh istrinya. Dia juga sangat senang karena kini Zea menjadi miliknya, seutuhnya.
Zea mencengkeram pundak Sam saat pria itu mulai menggerakan punggulnya, namun perlahan Zea mulai merasa nyaman, rasa sakitnya berganti sebuah nikmat yang belum dia rasakan sebelumnya. Dia hanya diam dan menikmati saat Sam bergerak di atas tubuhnya, Zea menggigit bibir bawahnya saat dia merasakan sesuatu yang besar akan meledak di dalam tubuhnya.
"Uncle aku...Ahh...."
Zea mendesaaah saat Sam berhasil membuatnya terbang ke nirwana, rasa nikmat itu tak bisa Zea jabarkan dengan kata-kata, rasanya sangat nikmat sampai dia lupa jika pria yang menyentuhnya tidak memiliki perasaan cinta untuknya. Yang Zea tau, kini Sam telah menjadi miliknya.
Erangan panjang dari mulut Sam menandakan jika permainan panas mereka telah berakhir, Sam ambruk di samping Zea sementara gadis itu memilih memunggunginya karena merasa malu. Zea tersentak saat tangan Sam melingkar di perutnya, Sam menarik tubuh Zea agar mendekat lalu memeluknya dari belakang.
"Terima kasih Ze," bisiknya tepat di telinga Zea, gadis itu bahkan sampai merinding.
"Hem. Berjanjilah untuk tidak berhubungan dengan wanita itu lagi!" jawab Zea sekaligus mengingatkan Sam tentang janjinya.
"Ya, aku janji. Sekarang tidurlah!" Sam mengecup pundak Zea, pria itu lalu menyembunyikan wajahnya di rambut Zea, aroma rosemary membuatnya merasa tenang.
.
.
.
"Lima menit lagi Ze," ucap Sam tanpa membuka matanya.
"Aku ingin pipis uncle," rengek Zea sambil kembali melelas pelukan suaminya. "Lepas uncle, nanti kalau Zea ngompol di kasur gimana!"
Sam terkekeh, pria itu akhirnya mengalah dan melepaskan istrinya. Zea menyibak selimutnya, saat dia akan turun dari tempat tidur dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Pangkal pahanya terasa sangat perih.
"Kenapa Ze?" tanya Sam saat Zea tak kunjung bergerak.
"Tidak papa uncle," jawab Zea bohong, dia tidak ingin membuat keributan di pagi hari. Zea menunduk dan meraih kemeja Sam, gadis itu lalu memakainya karena dia tidak tau keman Sam melempar bajunya.Untung saja kemeja Sam kebesaran di tubuhnya sehingga bisa menutupi bokong dan bagian intinya.
Zea menarik nafas panjang dan mencoba berdiri, namun saat melangkahkan kakinya matanya membelalak karena merasa sakit di pangkal pahanya.
"Auw," pekik Zea seraya menahan pahanya.
Sam melompat dari tempat tidur dan menghampiri istrinya dengan wajah panik. "Kenapa Ze?"
Zea menoleh, gadis itu reflek menutup matanya saat melihat Sam yang tak memakai baju sedikitpun. Pria itu menunduk dan baru menyadari jika dia belum berpakaian, Sam mencari celananya dan memakainya dengan cepat.
"Sudah Ze," ujarnya menahan malu, Zea lalu membuka matanya dan tertawa.
"Uncle sangat lucu kalau malu begitu," goda Zea.
"Ck, jangan tertawa! Tadi kenapa kau menjerit?"
"Ah, itu. Sakit," jawaba Zea terdengar ambigu.
"Apanya yang sakit?"
"Yang itu," Frey menunjuk bagian bawah tubuhnya.
Sam tersenyum, dia kembali mengingat percintaan panas mereka semalam. Oh ayolah, hanya mengingatnya saja boy sudah menggeliat dan ingin keluar dari sarangnya lagi.
"Aku akan membantumu ke kamar mandi."
Sam memapah Zea perlahan, setibanya di kamar mandi Sam mendudukan Zea di kloset sementara Sam mengisi bathube dengan air dan meneteskan esensial oil yang aromanya menenangkan. Setelah bathtube terisi, Sam kembali membantu Zea untuk berendam.
"Aku akan mandi, panggil saja jika kau butuh sesuatu!"
Zea hanya mengangguk, lagi pula apa yang dia butuhkan selama di kamar mandi, lagi pula Sam juga mandi di kamar mandi yang sama dan hanya tersekat oleh dinding kaca.
BERSAMBUNG...