
Setelah meminta izin pada orang tuanya, Clara menerima ajakan Daniel untuk jalan-jalan, Daniel mengajak Clara mengelilingi kota dengan motor sportnya. Udara malam tak membuat Clara merasa kedinginan, dia justru merasa lebih tenang, sesak di dadanya berangsur menghilang.
Setelah sekitar setengah jam berkeliling, Daniel memarkirkan motornya di dekat danau buatan yang berada tak jauh dari kota, tempatnya memang sedikit sepi namun Daniel yakin saat ini Clara membutuhkan tempat yang tenang.
"Dan, aku takut!" ucap Clara seraya menahan jaket Daniel, gadis itu merinding karena tak ada seorang pun di tempat itu, apalagi banyak sekali pohon besar yang membuat suasana nya semakin menyeramkan.
"Ada aku," Daniel meraih tangan Clara yang sedang menahan jaketnya, pria itu lalu menuntun Clara untuk berjalan lebih dekat dengan danau. Clara hanya pasrah dan mengikuti langkah kaki Daniel, sementara tatapannya fokus pada tangan Daniel yang menggandeng tangannya.
"Lihat Ra," Daniel melepaskan tangan Clara dan menunjuk ratusan cahaya berkelap-kerlip yang berterbangan di atas danau. Clara menatap Daniel tak percaya, di tengah kota seperti ini dia bisa melihat kunang-kunang.
"Daniel, apa ini. Indah sekali," Clara begitu kagum melihat pendar dari ekor kunang-kunang yang terbang kesana kemari, memantulkan bias cahaya berwarna kekuningan yang begitu menakjubkan. Di tambah pantulan bulan di atas air danau membuat suasana malam itu terlihat begitu tak nyata, Clara merasa dirinya berada di negeri dongen, sangat menakjubkan.
"Duduk Ra," Daniel menarik tangan Clara dan menyuruh gadis itu duduk di sampingnya. Clara menatap Daniel sekilas, dia lalu duduk di samping Daniel meski hanya beralas rumput.
"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini Dan?" tanya Clara, di tengah kepadatan ibu kota dia tak percaya ada tempat tersembunyi seperti ini.
"Maybe saat aku masih SMA. Saat itu kedua orang tua ku memutuskan bercerai dan mereka menitipkanku kepada nenek ku. Awalnya aku tak menerima nya, hampir setiap malam aku keluyuran hingga tak sengaja aku menemukan tempat ini. Dan saat aku merasa sedih, aku pasti akan datang ke tempat ini. Aku selalu merasa tenang saat berada di sini, udara malam membuat perasaanku membaik," jawab Daniel seraya menatap kunang-kunang yang berlalu lalang di hadapannya.
"Kapan terakhir kau kemari?"
Daniel menghembuskan nafasnya dengan perlahan, dia lalu menoleh dan menatap Clara yang juga tengah menatapnya. "Satu tahun yang lalu saat nenek ku meninggal," jawabnya dengan wajah datar, namun dari sorot matanya masih menyimpan kepedihan yang teramat dalam.
"Maaf Dan aku tidak bermaksud," ucap Clara penuh sesal.
"Tidak papa, aku sudah baik-baik saja sekarang!" Daniel tersenyum saat menjawabnya. "Hm, jadi sejak kapan kau menyukainy?" kini giliran Daniel yang bertanya.
"Sejak aku kecil," entah mengapa Clara tak sedikitpun merasa ragu untuk menceritakan kisahnya kepada Daniel, dia hanya merasa percaya pada Daniel dan pria itu adalah pendengar yang baik. "Kau tau kan momy kami bertiga bersahabat?" Daniel mengangguk karena sebelumnya Indhi pernah menceritakan kisah mereka. "Zea, Rama dan Dave lahir di hari yang sama, sementara aku lahir tujuh bulan setelah mereka lahir. Kami tumbuh bersama layaknya seorang keluarga, aku lebih sering di titipkan di rumah Zea atau Dave saat momy ku bekerja. Karena memiliki kondisi langka, Zea jarang sekali barmain keluar rumah, jadi saat itu hanya kami bertiga yang main. Saat bermain di luar rumah, Dave selalu gelisah dan mengajak kami untuk bermain di rumah menemani Zea. Waktu itu untuk pertama kalinya aku kesal pada Zea karena Dave lebih perhatian kepadanya. Setelah kami tumbuh dewasa, akhirnya aku mengerti jika perasaan kesal ini adalah rasa cemburu, aku ingin Dave juga memperhatikanku. Namun aku berusaha bersikap biasa saja, aku tau jika Zea menganggap Dave hanya sebatas teman, karena Zea menyukai uncle Sam. Terkadang aku mentertawakan kisah kami yang rumit. Aku menyukai Dave, sementara Dave menyukai Zea yang ternyata menyimpan perasaannya untuk uncle Sam, lucu bukan Dan?"
Daniel tersenyum mendengar kisah panjang yang Clara ceritakan karena dia hampir saja menjadi bagian dari kisah rumit itu jika dia tak segera mengetahui jika Zea sudah memiliki suami.
Clara menggeleng dengan cepat. "Tidak, aku takut persahabatan kami akan hancur," jawab nya sedih.
"Ya kau benar. Tapi bukankah menyakitkan memendam rasa itu sendirian?"
Clara memhembuskan nafasnya dengan kasar. "Sangat menyakitkan Dan, tapi itu adalah pilihanku, aku yang bersikeras mencintainya dalam diam. Namun setelah malam malam tadi, aku sadar, perasaanku menikam diriku sendiri. Aku ingin mengakhiri cinta sepihak ini!" buliran bening menetes tanpa seizin Clara, dengan cepat gadis itu menyeka air matanya sebelum Daniel melihatnya. Namun terlambat, Daniel lebih dulu menyadarinya, pria itu bahkan membantu menyeka air mata di wajah Zea.
"Menangislah Ra, lepaskan semuanya malam ini. Tapi berjanjilah besok tak ada air mata lagi, tak ada kesedihan lagi karena kau telah menumpahkan semua air mata dan kesedihanmu malam ini!"
Ucapan Daniel membuat Clara tak lagi menahan air matanya, gadis itu menangis meratapi cinta sepihaknya. Sementara itu Daniel tak tega melihat Clara menangis, pria itu lalu membawa tubuh Clara ke dalam pelukannya. Air mata Clara semakin deras, pundaknya naik turun menandakan gadis itu benar-benar terluka. Di dalam hati Clara bersykur karena Daniel menamaninya, dia tak perduli meski pria itu melihatnya terisak, keberadaan Daniel sudah cukup memberi kekuatan tersendiri bagi Clara.
Clara melepaskan diri dari pelukan Daniel setelah dia merasa lebih tenang, Clara menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya.
"Terima kasih Dan, aku merasa lebih baik sekarang," ucap Clara dengan suara yang masih sesegukan.
"Hm, cari aku kapanpun kau membutuhkan teman untuk berbagi kesedihanmu!" jawaban Daniel menggetarkan hati Clara, namun Clara tak menjawabnya karena takut. Bagaimana bisa pria itu begitu baik padanya. Bagaimana jika nanti Clara salah mengartikan kebaikan yang Daniel berikan.
Keduanya lalu diam dan menikmati pemandangan malam yang sangat langka. Angin berembus menyibak rambut Clara dan menutupi sebagian wajahnya, tanpa Clara sangka, Daniel membantunya merapikan rambut, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan tatapan yang begitu lembut.
"Terima kasih Dan," ucap Clara gugup, bahkan kini jantungnya berdebar-debar hanya karena Daniel membantunya merapikan rambut.
"Hm. Ayo kita ke tempat lain lagi," ajak Daniel.
"Kemana Dan?" tanya Clara penasaran.
"Kau akan tau nanti!"
BERSAMBUNG...