Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Takut memulai lagi



Setelah seminggu di lakukan penyelidikan, polisi akhirnya menetapkan Victor dan anak buahnya sebagai tersangka, namun mereka masih memburu Victor karena pria itu melarikan diri ke luar negeri, sementara anak buahnya sudah tertangkap dan mengakui jika dia yang mencampurkan racun ke dalam makanan tersebut.


Namun meski restoran Sam di nyatakan tidak bersalah, Sam memutuskan untuk menutup restoran selama beberapa waktu karena dia masih harus mengurus beberapa hal sampai masalah ini benar-benar selesai. Karena tak sibuk dengan restoran, Sam memiliki banyak waktu luang untuk menemani istrinya.


Sore ini Sam mengajak Zea bertemu Daniel karena pria itu meminta bertemu untuk membahas masalah restoran dan kerja sama. Mereka bertemu di salah satu kafe yang tak jauh dari rumah Zea, kebetulan Daniel juga mengajak Clara sehingga suasana semakin ramai.


"Tumben sekali kau mengajak bertemu di luar?" tanya Sam to the point.


"Kau yakin tidak akan membuka restoran dalam waktu dekat?" begitupun Daniel, kedua pria itu memang tidak suka basa-basi.


"Hm, sebelum Victor di tangkap aku masih sedikit khawatir," ucap Sam mengutarakan keresahannya. "Lagi pula restoran juga sepi, semua client membatalkan kerja sama, modalku mulai menipis juga. Aku harus memikirkan dengan matang jika ingin membuka restoran lagi!"


"Bagaimana kalau kita mulai dari skala kecil, misal kita hanya menerima pesan antar?" sahut Clara memberi saran, jujur dia merasa sedih melihat restoran Sam tutup karena restoran tersebut adalah hasil jerih payah dari mendiang orang tua Sam.


"Ide bagus Ra, zaman sekarang jualan online sedang ramai kan? Apa salahnya mencoba?" sambung Zea antusias.


"Tapi aku ingin fokus pada kehamilanmu sayang," Sam masih belum terlalu setuju, dia memiliki ketakutannya sendiri. Dua ratus orang hampir celaka gara-gara racun yang di campurkan ke makanannya.


"Uncle bisa mempekerjakan orang untuk membantu pemasarannya, bukan begitu chef Daniel?" Zea melirik Daniel dan megerlingkan sebelah matanya.


"Betul apa yang di katakan ibu hamil. Kita bisa memproduksi frozen food agar bisa di kirim ke seluruh Indonesia. Kau tidak perlu khawatir, aku yang akan mengurus izin BPOM dan yang lainnya," jawab Daniel penuh semangat.


Sam diam sejenak, memikirkan saran dari orang-orang terdekatnya, dia lalu menatap Zea dan wanita hamil itu tersenyum sambil mengangguk.


"Oke, aku setuju. Tapi aku hanya akan menjadi investor saja, semuanya aku percayakan padamu Dan, kau juga boleh memakai nama restoranku!"


"Siap!"


"Daniel, aku ingin ke danau melihat kunang-kunang!" pinta Clara dan langsung di setujui oleh Daniel. Sebelum ke danau mereka membeli beberapa cemilan untuk menemani mereka di danau nanti.


Langit belum terlalu gelap, namun justru pemandangan danau begitu indah karena senja menyingsing dan memantul di atas permukaan air danau. Belum lagi suara serangga liar menggema di penjuru hutan buatan yang mengelilingi danau, membuat suasana semakin asri dan menenangkan.


Daniel dan Clara duduk di atas kursi yang beberpaa hari lalu sengaja mereka siapkan di pinggir danau, keduanya menikmati matahari terbenam sambil bergandengan tangan.


"Dan," panggil Clara dengan lembut.


"Ya."


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Katakan?"


"Kenapa kau mau membantu uncle Sam?" sudah sejak lama Clara ingin menanyakan hal itu, sebagai seorang chef yang terkenal Daniel memilih bergabung bersama Daniel alih-alih membuka restorannya sendiri. "Maksudku kenapa kau tidak membuka restoran sendiri, dan kau malah membuka kelas memasak?"


Daniel menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Clara dan menatap Clara penuh kasih sayang. "Yang pertama karena aku tidak memiliki keberanian untuk membuka restoran sendiri, yang kedua karena aku belum memiliki modal yang cukup untuk membuat restoran impianku. Yang ketiga karena aku mempercayai Sam dan dia juga mempercayaiku. Aku pasti akan membuka restoranku sendiri, tapi tidak sekarang Ra. Aku masih harus banyak belajar, karena membuka restoran bukan hanya keahlian memasak yang di perlukan, aku juga harus pandai berbisnis," jelas Daniel panjang lebar.


"Oh. Apapun itu, aku akan selalu mendukungmu Dan," ucap Clara dengan senyum terbaiknya. Dan hal yang paling Daniel sukai adalah melihat Clara tersenyum, matanya terlihat berbinar saat gadis itu tersenyum. Dan senyuman itu membuat Daniel semangat menjalani hari-harinya yang terkesan monoton.


Tatapan mata Daniel begitu dalam, pria itu lalu menyelipkan anak rambut Clara ke belakang telinga. Entah apa yang Daniel rasakan saat ini, dia hanya ingin selalu bersama Clara dan melihat senyumannya. "Apa kau mau menikahiku Ra?"


"Hah?"


BERSAMBUNG...