Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Cambuk



"Daniel," Clara berteriak histeris, gadis itu berlari mencari sumber suara, Clara terpaku saat melihat orang berkerumun di jalan raya. Clara kembali berlari menghampiri kerumunan itu, dia menerobos kerumunan dan melihat seorang pria tergeletak di pinggir jalan, bau anyir dan aroma bensin menyeruak di hidung Clara membuat gadis itu tak bisa berpikir jernih, apalagi pria itu memakai helm yang sama persis dengan milik Daniel.


Sekujur tubuh Clara terasa lemas, kakinya tak sanggup menopang berat badan, gadis itu limbung dan duduk bersimpu di atas aspal, dia menatap nanar pria yang tergeletak di hadapannya.


"Dan-Daniel," ucap Clara terbata, tangannya yang bergetar hebat bahkan tak mampu untuk menyentuh pria itu. Clara semakin syok saat melihat darah mengalir di atas aspal yang dingin. "To-tolong ambulans," pintanya pada orang-orang yang berkerumun.


Clara kembali fokus pada pria yang dia anggap sebagai Daniel, dia menyesal karena telah menolak niat baik Daniel dan membuat pria itu salah paham, jika tau akan berakhir seperti ini, Clara pasti tidak akan memikirkan banyak hal dan langsung menerima lamaran Daniel.


"Dan, maafkan aku. Aku mohon bangun Dan, jangan tinggalkan aku. Tolong buka matamu, aku berjanji akan menerima lamaranmu kalau kau bangun!"


"Benarkah itu Ra?"


Clara segera menghapus air matanya saat dia mendengar suara Daniel dari arah belakang, gadis itu lalu menoleh dan terkejut melihat Daniel berdiri di belakangnya. Clara lalu kembali menoleh ke arah pria yang tergeletak di atas aspal dan dia kembali menoleh ke belakang dimana Daniel berada di sana.


"Dia," Clara menunjuk pria asing itu sambil menatap Daniel.


"Itu bukan aku Ra," jawab Daniel berusaha menahan senyumnya.


"Ah sykurlah," Clara kembali bernafas lega, gadis itu lalu bangun dan segera memeluk Daniel dengan erat. "Aku pikir itu dirimu," ucapnya samar karena wajahnya bersembuyi di dada Daniel.


Daniel membawa Clara menjauhi kerumunan, pria itu meninggalkan Clara sebentar untuk membeli air minum. Clara yang masih terkejut hanya bisa diam menunggu, sampai Daniel kembali dan membawa air minum untuknya.


Daniel membuka tutup botol dan memberikannya pada Clara. "Minum ini," gadis itu meraih botol tersebut dan segera meminumnya hingga habis.


Clara megangguk sambil menahan malu, bagaimana bisa dia salah mengenali orang yang mengira pria lain sebagai Daniel.


"Aku akan mengantarmu pulang," ajak Daniel, pria itu berdiri dan menunggi Clara yang masih duduk di tempatnya. "Sudah malam Ra, angin malam tak baik untuk kesehatanmu," Daniel lalu meraih tangan Clara dan menariknya agar berdiri, keduanya lalu berjalan saling bergandengan tangan menuju rumah Clara.


"Apa yang terjadi? Aku pikir itu benar-benar dirimu?" tanya Clara setelah mereka saling diam.


"Aku juga tidak tau. Tiba-tiba saja pemotor itu mendahuluiku dan menabrak pembatas jalan, dia terpental dan menabrak mobil yang kebetulan lewat," jelas Daniel. "Oh ya, apa perkataanmu tadi serius?"


"Perkataan yang mana?" sabut Clara pura-pura bodoh, padahal dia tau benar apa yang Daniel maksud.


"Soal menerima lamaranmu!"


Clara menghentikan langkahnya sehingga tangan mereka membentang, Daniel ikut berdiri dan menoleh. Melihat wajah masam Clara, pria itu mencoba untuk tersenyum. "Maaf, aku tidak akan membahasnya lagi!" bukan menyerah, Daniel hanya tidak mau memaksakan kehendaknya. Meski dia sangat ingin menikahi Clara, namun pernikahan bukan tentang satu orang saja, dia tidak mau menjadi egois dan memaksa Clara.


"Kau boleh menganggapku matrealistis. Tapi untuk saat ini aku belum bisa menerima lamaranmu. Aku tidak ingin menjadi orang yang munafik, aku lahir di tengah keluarga berada, semua kebutuhanku selalu tercukupi. Aku tidak meragukan kesungguhanmu Dan, hanya saja pekerjaanmu belum jelas, kau masih ragu dengan tujuanmu. Kelas memasakmu juga tak terlalu ramai, dan saat ini restoran uncle Sam juga sedang bermasalah. Lalu bagaimana kau akan menghidupiku?" Clara menjeda kalimatnya dengan menarik nafas. Dia lalu melangkah lebih dekat dengan Daniel. "Aku akan menerima lamaranmu setelah kau menentukan arah tujuanmu. Kau saja masih terombang-ambing, hidup tanpa tujuan yang jelas, lalu bagaimana kau akan menahkodai rumah tangga kita nantinya?"


Daniel tersenyum samar, dia tau betul apa yang ingin Clara sampaikan. Clara ingin Daniel lebih berani mengambil keputusan, Clara ingin Daniel tidak ragu untuk melakukan sesutu yang dia sukai. "Hm, aku akan membuktikannya padamu. Aku akan membuatmu yakin untuk menikahiku Ra!" ucap Daniel penuh percaya diri. Ucapan Clara bagai cambuk untuknya agar dia berlari meninggalkan rasa takutnya.


BERSAMBUNG...