Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Penolakan



Tatapan mata Daniel begitu dalam, pria itu lalu menyelipkan anak rambut Clara ke belakang telinga. Entah apa yang Daniel rasakan saat ini, dia hanya ingin selalu bersama Clara dan melihat senyumannya. "Apa kau mau menikahiku Ra?"


"Hah?" Clara tercengang untuk beberapa saat, namun detik betikutnya gadis itu tertawa terbahak-bahak karena mengira Daniel sedang bergurau. "Kau memang pandai sekali menghibur orang Daniel, aku hampir saja percaya dengan candaanmu," ucap Clara seraya mengusap air di ujung matanya karena terlalu banyak tertawa.


"Aku serius!" tegas Daniel, wajahnya begitu serius dan dari sorot matanya tak sedikitpun menunjukan jika pria itu sedang bercanda.


Clara menelan ludahnya dengan kasar saat Daniel menatapnya begitu dalam, mata berwarna hitam kelam itu seolah menenggelamkannya dan membuatnya tak berdaya, lidahnya kelu sehingga dia tak bisa berkata apapun lagi.


"Pikirkan lagi Ra, kau tau sendiri aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Aku serius ingin menikah denganmu!"


Clara berusaha menenangkan diri agar bisa mengatakan apa yang di rasakan di dalam hatinya. "Dan, i'm so sorry. Kau tau sendiri aku masih kuliah dan aku masih ingin mengejar cita-citaku. Terlebih lagi kita baru beberapa bulan mengenal. Aku tak yakin soal itu Dan."


"Aku tidak akan mengganggu kuliahmu, aku juga akan mendukung mu mengejar cita-cita. Percayalah Ra, cintaku bukan penghalang masa depanmu!"


Clara beranjak dari duduknya, gadis itu berdiri seraya memijat tengkuknya yang terasa berat. Daniel lalu menyusul Clara berdiri dan meraih salah satu tangan Clara. "Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Daniel.


"No, bukan itu. Ini bukan hanya sekedar rasa cinta atau apalah itu. Aku belum siap, aku masih dua puluh tahun dan aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat!"


"Lalu kapan kau siap? Dua tahun lagi? Tiga tahun atau lima tahun lagi?"


"Entah. Mungkin setelah aku menjadi pengacara, aku bisa membeli rumah sendiri, mobil sendiri, sampai aku mapan atau mungkin sampai aku memiliki firma hukum sendiri!" jawab Clara tak yakin, dia sendiri belum memikirkan pernikahan, dia masih terlalu muda untuk menapaki biduk rumah tangga.


Daniel menunduk lesu, dia salah mengartikan ucapan Clara, dia salah paham dengan maksud Clara. "I see, aku tau kekhawatiranmu. Aku tidak mapan, pekerjaanku tidak jelas, aku tidak memiliki rumah mewah dan penghasilanku tidak banyak. Maaf aku tidak memikirkan hal itu!"


Clara meraup wajahnya dengan kasar, bukan itu yang dia maksud, dia tak pernah mempermasalahkan latar belakang Daniel dan kondisi ekoniminya. Hanya saja Clara ingin menjadi wanita yang mandiri secara finansial dan bisa berdiri di atas kakinya sendiri sehingga nanti suami dan anaknya akan bangga memiliki istri dan ibu yang hebat seperti dirinya.


"Bukan itu maksudku Daniel!"


Daniel menoleh dan mendapati Clara masih diam di tempat. Pria itu menghembuskan nafasnya dengan pelan dan mencoba mengontrol rasa kecewanya. "Ayo Ra!" panggilnya lagi dengan pelan, namun dari suaranya saja tidak bisa di bohongi jika pria itu sedang tidak baik-baik saja.


Clara berlari menghampiri Daniel, namun tidak segaja kakinya tergelincir dan gadia itu jatuh tertelungkup di atas rerumputan. Daniel reflek melempar kantung plaatik yang di pedangganya, pria itu berlari menghampiri Clara dengan panik. Daniel membantu Clara berdiri, dia lalu memeriksa tangan dan kaki Clara yang mungkin saja terluka.


"Kau baik-baik saja kan? Apa ada yang sakit? Oh Astaga, telapak tanganmu berdarah? Tidak, tidak, kakimu pasti lebih sakit? Apa kau bisa berjalan? Ayo naik ke punggungku, kita ke rumah sakit sekarang!" Daniel mencecar Clara dengan berbagai macam pertanyaan, pria itu seolah menggila padahal tangan Clara hanya lecet sedikit saja.


Karena Clara hanya diam, Daniel semakin panik. Dia lalu mengangkat tubuh Clara dan membuat Clara kaget. "Daniel, aku bisa jalan sendiri, turunkan aku!"


"Ck, kenapa tidak menjawab dari tadi, aku sangat panik karena kau diam saja. Sudah jangan banyak bicara, kita ke rumah sakit sekarang!" Daniel lalu menurunkan Clara di atas motornya, dengan sangat hati-hati Daniel memakaikan helm di kepala sang kekasih.


"Apa kau sangat mencintaiku?" tanya Clara seraya menatap wajah Daniel yang sangat dekat dengan wajahnya.


Daniel melirik sedikit sehingga netra mereka beradu untuk beberapa detik, namun Daniel segera mengalihkan pandangannya. "Menurutmu?" jawab Daniel.


Daniel lalu melajukan motornya menuju rumah sakit, namun di tengah jalan Clara menolak dan meminta pulang saja karena dia hanya lecet sedikit dan menganggap Daniel terlalu berlebihan.


"Aku pulang," pamit Daniel, suaranya terdengar dingin, dia kembali sedih mengingat penolakan Clara.


"Tidak mampir dulu?" tawar Clara, dia tahu suasana hati Daniel sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak! Aku ada urusan!" Daniel lalu pergi dari rumah Clara, gadis itu menatap punggung Daniel yang semakin jauh. Clara menghela nafas berat, baru saja dia memegang gagang pintu, dia mendengar suara benturan yang sangat keras.


Clara menoleh, dia teringat jika Daniel baru saja pergi. "Daniel!!"


BERSAMBUNG...