
"Apa kau yang melakukannya? Kau yang menulis berita sampah itu?" Sam menatap Zea dengan tatapan yang sukar di jelasnya. Ada rasa tak percaya, kecewa dan kemarahan tertampung menjadi satu di dalam bola mata birunya.
"Apa uncle percaya jika Zea yang melakukannya?" bukannya menjawab Zea malah balik bertanya kepada suaminya. Tangannya bergetar hebat saat Sam mempertanyakan hal yang tidak mungkin Zea lakukan.
Sam menggeleng pelan. "Aku tidak tau Ze!" jawabnya gusar, dia ingin mempercayai Zea namun dengan adanya berita tersebut Felisyalah yang paling di rugikan.
"Anggap saja Zea yang melakukannya," ujar Zea dengan mata berkaca-kaca, keraguan Sam akan dirinya membuat gadis itu merasa tak perlu menjelaskan apapun lagi karena Sam tetap akan meragukan nya.
Zea merasa penat, gadis itu memutuskan izin pulang dengan alasan sakit dan dosen yang memberikan izin adalah Sam, karena seharusnya Sam mengajar di kelas Zea.
Zea memilih berjalan kaki menyusuri trotoar jalan yang tampak lengang, tak banyak pejalan kaki yang melintas, hanya ada Zea dan dua pria yang mengikutinya dari kejauhan serta pak supir yang mengawalnya di sepanjang jalan.
Lelah berjalan, Zea lalu naik ke dalam mobil dan menyuruh supirnya untuk mengantarkan ke danau buatan yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah ke dua orang tuanya.
Selama perjalanan Zea hanya diam, dia mengingat lagi tatapan Sam yang mencurigainya. Rasanya baru beberapa hari mereka mulai dekat, dan kini mereka kembali terhalang jarak. Tanpa sadar Zea menitikan air matanya, dia tak perduli jika kedua pengawalnya mengadu kepada orang tuanya. Saat ini Zea hanya ingin menangis, namun tangisannya membuat supir dan pengawalnya merasa khawatir.
Zea duduk termenung, menatap hamparan air danau yang sangat tenang. Terpaaan angin menyapu wajah sendunya, wajah cantik yang kini berlinang air mata.
Dari kejauhan, Dave dan Clara menatap Zea dengan hati nelangsa. keduanya sengaja membolos saat mendengar berita tentang Zea dan sampainya mereka di tempat ini setelah bertanya kepada supir Zea.
Dave dan Clara lalu menghampiri Zea, keduanya duduk mengapit Zea. Mereka tak bicara, hanya diam dan menunggu Zea membuka mulutnya.
"Kenapa kalian ke sini?" tanya Zea tanpa menoleh ke arah dua sahabatnya.
"Kami mengkhawatirkanmu," sahut Clara seraya menatap wajah sahabatnya yang terlihat sangat lesu. "Are you okay?" tanyanya kemudian.
"No. I'm not okay," ungkap Zea dengan dada yang teramat sesak, gadis itu lalu menunduk dan mulai menangis. "Sam mencurigaiku, dia tidak mempercayaiku."
Clara menepuk punggung Zea perlahan, Clara tau betul apa yang tengah di rasakan Zea karena dia pun mengalaminya, cinta bertepuk sebelah tangan dengan Dave. Sejak kecil Clara sangat menyukai Dave, namun pemuda itu terang-terangan menolaknya.. Sejak saat itu Clara memutuskan mencintai dalam diam.
Sementara itu Dave hanya diam, namun di balik diamnya, pemuda itu menyimpan kebencian untuk Sam, karena untuk kesekian kalinya Sam membuat Zea menangis. Jika bisa, Dave ingin memukul Sam sekali saja, menumpahkan segala kemarahannya kepada pria yang sudah menikahi gadis yang dia cintai sejak lama.
"Menangislah Ze, keluarkan semuanya. Namun setelah itu, bangkit dan balas orang yang sudah sengaja menyakitimu."
Zea mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Clara, gadis itu tak menyangka jika Clara memberi saran untuk mebalas Felisya. "Bagaimana cara membalasnya?" tanya Zea penasaran, jujur saja dia tak pernah terlibat dalam pertikaian dengan siapapun.
"Ikuti permainannya Ze. Selagi kalian bermain-main, aku akan menyuruh dady untuk melacak alamat IP akun itu. Setidaknya kita harus memiliki bukti jika Felisya lah yang melakukannya."
"Dari mana kau tau jika Felisya yang melakukannya?"
"Sudah sangat ketara Ze, kau tidak mungkin menulis hal-hal memalukan seperti itu. Feli melakukannya karena cemburu, dia ingin uncle Sam membencimu."
.
.
Rumah masih tampak sepi, sepertinya Sam belum pulang. Zea menuju kamarnya untuk beristirahat, tubuh dan pikirannya teramat lelah.
Sayup-sayup Zea mendengar mobil Sam, tak lama kemudian terdengar pintu kamar Sam tertutup. Meski Zea masih sangat kesal karena Sam tidak percaya padanya, namun Zea masih berharap Sam akan ke kamarnya malam ini, dia berharap Sam akan memeluknya lagi seperti dua malam sebelumnya. Namun sepertinya angan-angan Zea percuma, sampai dini hari Sam sama sekali tak keluar dari kamarnya, bahkan Zea tak mendengar aktivitas Sam di dalam kamar.
Zea sama sekali tak bisa tidur, dia gelisah sepanjang malam karena Sam tidak datang ke kamarnya. Berbagai ketakutan mulai menyergap hatinya, dia takut Sam akan berbalik arah dan kembali menghindarinya.
Dan apa yang di takutkan Zea terjadi, pagi ini bahkan Sam tidak menemani Zea sarapan, dan yang lebih parah lagi Sam berangkat ke kampus tanpa menunggu istrinya.
Meski enggan, namun Zea harus tetap ke kampus hari ini. Dia tidak boleh mencampur adukan perasaannya, dia harus tetap fokus belajar meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Di kampus Zea mencoba untuk menutup mata dan telinga saat teman-temannya sedang menggunjingkannya. Dia tak perduli dengan pandangan mereka, toh selama ini Zea juga tak dekat dengan teman-teman kampusnya
Saat jam makan siang Zea melihat Felisya masuk ke dalam kamar mandi, Zea mengikuti wanita itu masuk ke dalam kamar mandi, dia ingin tau apa niat Felisya sebenarnya sampai-sampai wanita itu mempermalukan dirinya sendiri.
"Apa yang anda rencanakan?" tanya Zea dengan tatapan sinis, gadis itu bersandar pada tembok dan kedua tangan terlipat di dada. Felisya yang sedang mencuci tangan hanya mendungakkan kepalanya sesaat, dia dapat melihat Zea dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
"Apa maksudmu Ze, aku tidak tau,' jawab Felisya, wanita itu berbalik sehingga kini keduanya saling berhadapan.
"Anda yang menulis sampah itu kan?"
"Atas dasar apa kau menuduhku. Bukannya kau sendiri yang menulis cerita sampah itu. Gara-gara kau reputasiku dan Sam hancur!"
"Kita tunggu saja, aku akan mendapatkan bukti jika anda yang melakukannya!"
Zea menarik sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyum penuh ejekan. Gadis itu lalu keluar dari kamar mandi. Namun saat di ambang pintu, tiba-tiba Felisya berlari menerobos tubuh Zea hingga wanita itu jatuh terjerembab di lantai. Zea panik dan berniat membantu Felisya, namun hal tak terduga kembali terjadi.
"Ibu sudah jelaskan Zea, kami tidak memiliki hubungan apapun lagi sekarang. Kami sudah berpisah sebelum kalian menikah," ucap Felisya dengan di iringi sebuah tangisan.
Zea yang akhirnya menyadari permainan Felisya hanya bisa tertawa. Wanita itu akhirnya melepaskan topengnya, memperlihatkan sikap aslinya yang menjijikan.
Zea menatap sekeliling, dia kembali menjadi pusat perhatian, sebentar lagi pasti dia akan di salahkan karena mereka mengira Zea yang mendorong Felisya hingga jatuh.
"Anda sungguh pemain yang hebat bu," sindir Zea seraya tersenyum.
"Tolong jangan seperti ini Zea, ibu sudah minta maaf. Tolong maafkan ibu," Felisya kembali melancarkan aksinya, wanita itu sangat pandai berakting, bahkan kini dia menahan kaki Zea saat Zea akan pergi. Kini Zea dan Felisya menjadi kerumunan pada mahasiwa, tidak sedikit dari mereka yang merekam kejadian itu.
"Zea," teriak seseorang dari balik kerumunan.
BERSAMBUNG...