Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Bertemu Daniel



Setelah memikirkannya selama dua hari, akhirnya Sam mengikuti saran istrinya. Lewat sang istri, dia membuat janji temu bersama Daniel di salah satu kafe yang dekat dengan tempat les memasak milik Daniel. Sam bertemu Daniel tanpa membawa Zea karena dia sedikit khawatir dia akan cemburu lagi.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Daniel datang, Sam berdiri menyambut kedatangan Daniel, kedua nya lalu bersalaman dan saling melempar senyum.


"Maaf membuat anda menunggu," ucap Daniel.


"Tidak papa, saya juga baru sampai!


Keduanya lalu duduk berhadapan. Sam sempat ragu, namun demi kelangsungan restorannya dia harus mengatakan niat dan tujuannya mengajak Daniel bertemu.


"Saya dengar dari istri saya anda adalah chef yang sangat terkenal. Untuk itu saya ingin mengajak anda berkolabirasi dengan restoran saya. Kebetulan saya memiliki beberapa restoran yang menyediakan menu nusantara, tapi karena zaman terus berganti, saya ingin menambah suasana baru pada restoran saya dan saya membutuhkan chef profesional seperti anda," ucap Sam menjelaskan tujuannya.


Daniel mengangguk pelan, sedikit banyaknya dia sudah mendengarnya dari Zea beberapa hari yang lalu saat Zea menghubunginya dan meminta waktunya untuk bertemu dengan Sam. "Begini tuan Sam, kebetulan saya memiliki pekerjaan lain yang tidak bisa saya tinggalkan, sepertinya saya tidak bisa menerima tawaran anda," tolak Daniel secara halus, bukan karena Sam adalah suami Zea, namun karena dia memang sedang fokus pada tempat les masaknya.


"Jangan buru-buru memutuskannya Chef Daniel, lagi pula saya tidak akan menyita 24 jam waktu anda. Anda hanya perlu menciptakan menu dan saya akan menjualnya di restoran saya tapi dengan nama anda tentunya, kita sama-sama di untungkan bukan?" ucap Sam yang mencoba membujuk Daniel.


"Hem, saya akan memikirkannya!"


"Saya akan menunggu keputusan anda!"


Setelah bertemu Sam, Daniel berencana pulang ke rumahnya, namun di jalanan yang cukup sepi dia melihat sebuah mobil berhenti di tepi jalan dengan kap terbuka, sepertinya mobil itu mogok. Daniel menepikan motornya, dia lalu menghampiri seorang wanita yang sedang kebingungan sambil menatap mesin mobilnya yang mengeluarkan asap.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Daniel dari arah belakang, wanita itu lalu menoleh dan keduanya sama-sama memasang wajah terkejut.


"Daniel."


"Clara!"


Ucap kedua manusia itu secara bersamaan, dunia seraya sempit karena mereka kembali bertemu.


"Dan, tolong bantu saya, tiba-tiba mobil saya mati dan berasap!" pinta Clara seraya menangkup kedua telapak tangannya di depan dada.


"Saya periksa sebentar," Daniel menggulung kemejanya singga siku sehingga menapilkan otot-otot tangannya dan membuat Clara terkesima.


Daniel lalu memeriksa kondisi mobil Clara tanpa peduli jika kini Clara sedang menatapnya tanpa berkedip.


"Mobilmu harus di bawa ke bengkel," ucap Daniel setelah beberapa saat memeriksa mobil Clara.


"Di sini tidak ada bengkel!" jawab Clara dengan wajah sedih.


"Saya akan menelfon bengkel langganan saya, mereka akan membawanya ke bengkel untuk memperbaiki mobil mu!"


"Terima kasih Daniel," ucap Clara dengan tulus.


"Di sini jarang ada taxi lewat, saya akan mengantarmu pulang," Daniel menawari Clara tumpangan karena merasa kasihan pada gadis itu, dia juga tidak tega meninggalkan seorang gadis sendirian di pinggir jalan yang sepi.


"Tapi mobilnya bagaimana?" tanya Clara cemas, dia takut mobilnya di curi orang jahat.


"Tenang saja, orang bengkel akan mengurusnya! Ayo kita pergi!"


"Maaf merepotkanmu lagi Dan!"


Clara menerima helm dari Daniel, gadis itu lalu menaiki motor sport milik Daniel. Karena belum pernah membonceng motor sport sebemumnya, Clara sedikit ketakutan dan tanpa dia sadari dia memeluk perut Daniel dengan erat, dia sangat takut akan jatuh.


Daniel menunduk sekilas, sudut bibirnya sedikit terangkat saat melihat tangan Clara melingkar di perutnya. Dia membiarkan Clara memeluknya karena dia tau Clara pasti ketakutan menaiki motor besarnya.


Daniel menghentikan mobilnya di depan rumah mewah berlantai dua, dengan hati-hati Clara turun dari motor Daniel dan berusaha melepaskan helmnya, namun tak Clara duga sebelumnya jika dia tidak bisa melelaskan helm yang ada di kepalanya, sangat memalukan.


"Maaf," ujar Daniel seraya membantu Clara membuka helm. Clara menelan ludahnya dengan kasar saat wajah Daniel begitu dekat dengan wajahnya, Clara menjadi sangat gugup apalagi saat Daniel memergokinya sedang menatap wajah pria itu sehingga untuk seperkian detik netra mereka saling bertemu.


"Terima kasih Daniel, maaf merepotkanmu," ucap Clara setelah helm nya berhasil di lepas.


"Sama-sama. Saya akan mengirim alamat bengkelnya, kau bisa kesana untuk mengambil mobilnya," Daniel lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim alamat bengkel ke ponsel Clara.


"Sekali lagi terima kasih Daniel!"


Clara menatap punggung Daniel yang mulai menjauh, dan tanpa sadar gadis itu tersenyum tanpa alasan yang jelas.


"Apakah ini saatnya move on? Lelah sekali mencintai sahabat sendiri. Sepertinya aku harus mengganti haluan," gumam Clara sambil tersenyum getir, dia kembali mengingat Dave yang menyebalkan itu. Pria tidak peka yang selalu membuatnya kesal, namun herannya selama bertahun-tahun dia tetap mencintai Dave.


.


Sam sudah berada di rumah mertuanya, karena sore siang rumah itu sangat sepi, Ega masih berada di rumah sakit sementara Indhi ada di klinik nya. Sam masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang tidur, Sam menggelengkan kepalanya melihat banyaknya makanan ringan yang tergeletak di atas meja.


"Dia benar-benar suka makan sekarang," ucap Josh pada dirinya sendiri.


Sam memutuskan untuk mandi, setelah selesai membersihakn diri, pria itu lalu menyusul istrinya di atas tempat tidur. Namun rupanya pergerakan Sam membuat Zea terbangun, wanita hamil itu tersenyum melihat wajah suaminya.


"Sudah pulang?" tanya nya dengan suara parau.


"Baru saja. Kau sudah makan?" jawab Sam seraya membelai wajah istrinya.


"Sudah empat kali," sahut Zea sambil menunduk menahan malu.


Sam mengangkat dagu istrinya agar dia bisa melihat wajah cantik Zea. "Kenapa malu, aku tidak keberatan kau banyak makan. Hanya saja, aku tidak suka kau terlalu banyak mengkonsumsi jajanan instan itu, mereka tidak baik untuk kesehatanmu dan bayi kita!"


"Tapi aku ingin ngemil uncle," rengek Zea.


"Kau bisa menggantinya dengan yang lebih sehat sayangku!"


"Hm, baiklah. Aku tidak akan jajan sembarangan lagi. Oh ya, bagaimana apa Chef Daniel menerima tawaran uncle?"


"Dia sedang memikirkannya," jawab Sam apa adanya.


"Semoga Chef Daniel menerima tawaran uncle," ucap Zea penub harap.


"Ya semoga saja!"


Zea lalu mengahambur ke dalam pelukan suaminya, sejak pagi dia sangat kesepian karena semua orang pergi bekerja semenatara Zea di rumah hanya di temani asisten rumah tanganya.


"Ze, apa kau belum mandi?" tanya Sam saat dia mencium bau keringat di kepala istrinya.


"Belum," Zea menjawabnya dengan santai.


"Mandi dulu Ze, rambutmu sedikit bau!"


Zea menarik tubuhnya dari pelukan Sam, dia lalu meraih ujung rambut dan menciumnya. Benar apa kata Sam, rambutnya memang bau!


"Bantu aku mandi sayang," pinta Zea dengan suara menggoda.


"Oke!"


Sam lalu menggendong Zea dan membawanya ke kamar mandi setelah dia menyiapkan air hangat di dalam bathtube. Sam lalu mulai membuka satu per satu pakaian Zea hingga tak tersisa dan menampilkan tubuh polos Zea yang sangat menggiurkan.


Sebagai pria normal tentu saja Sam tergoda, namun sebagai suami dan calon dady yang baik Sam berusaha menekan hormon kedewasaannya dan membantu istrinya mandi.


"Boy bangun?" ucap Zea seraya menunjuk sesuatu yang menegang di dalam celana suaminya.


"Abaikan saja sayang!"


"Kasian, Boy pasti kesakitan!"


"Sayang, jangan memancingku!"


Zea tersenyum, dia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Sam. "Kata dokter, kita sudah bisa melakukannya!"


BERSAMBUNG...