
"Saya Daniel, anda pasti pamannya Zea ya?" ucap Daniel dengan polos.
Sam menatap uluran tangan Daniel, pria itu lalu menyalaminya dan meremat tangan Daniel cukup keras. "Saya suaminya Zea!"
Zea menoleh dan menatap Sam tak percaya, pria itu mengenalkan dirinya sebagai seorang suami. Benarkah dia Sam yang Zea kenal? Sementara itu, Sam dan Daniel masih beradu pandang, tanpak jelas kemarahan di mata Sam, sementara Daniel masih terkejut dengan pengakuan Sam. Daniel lalu melepaskan tangannya dan menatap Zea, meminta jawaban dari gadis yang menjadi muridnya dalam beberapa hari ini.
"Jadi kau sudah menikah Ze?" tanyanya dengan harapan Zea akan menjawab sesui keinginannya, belum.
Namun harapan Daniel hanya tinggal harapan saat Zea mengangguk pelan. "Hem, aku sudah menikah!"
Jawaban Zea seolah sebuah belati yang menggores ulu hatinya, terasa perih namun Daniel tak bisa mengungkapkannya. Perasaannya bukan hanya bertepuk sebelah tangan, dia kalah telak, dia kalah bahkan sebelum mulainya.
"Kenapa anda terlihat sangat kecewa mengetauhi Zea sudah bersuami?" sindir Sam dengan tatapan sini.
"Saya hanya terkejut karena Zea masih sangat muda," jawab Daniel dengan senyum terpaksa, sungguh dia menjadi sangat canggung. Daniel lalu kembali menatap Zea. "Harusnya kau memberitahuku sehingga aku bisa membelikan kado untuk kalian," ujar Daniel.
"Tidak perlu repot chef, lagi pula kami menikah jauh sebelum mengambil kelas memasak."
Lagi dan lagi, perasaan Daniel seolah terombang ambing di lautan lepas. Dia menyukai Zea, namun dia tak mengenal dengan baik siapa wanita itu. Salahkah Daniel yang berharap lebih pada Zea, terlepas status Zea sebagai seorang istri, Daniel benar-benar mendambanya.
"Ah begitu. Ya sudah ayo kita lanjutkan masaknya," Daniel mencoba memecahkan kecanggungan di antara mereka, dia berusaha fokus dan profesional dalam bekeja.
"Oke," Zea melirik suaminya sejenak, dia lalu kembali memperhatikan Daniel yang sedang mengajarinya memotong daging ayam. Acara belajar memasak Daniel dan Zea terasa sangat canggung karena Sam terus memperhatikan mereka berdua. Saat Daniel dan Zea tak sengaja tertawa, Sam akan terbatuk-batuk atau lebih tepatnya pura-pura batuk.
Satu jam kemudian, Daniel akhirnya menyelesaikan masakannya. Setelah menatanya di atas piring, pria itu pamit undur diri.
"Kenapa tidak makan malam dulu," cegah Zea tak enak hati, dia tau jika Daniel merasa canggung karena Sam selalu menatapnya tajam.
"Aku harus ke restoran temanku Ze. Aku pulang dulu ya, sampai bertemu di kelas selanjutnya!"
Zea kembali ke dapur setelah mengantar Daniel sampai di depan rumah. Zea meyiapkan makan malam untuknya dan juga Sam.
"Makan malam sudah siap uncle, ayo kita makan!" ajak Zea seraya menarik kursi untuk suaminya. Namun bukannya duduk, Sam justru kembali ke kamarnya.
Zea menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia mulai terbiasa dengan sikap Sam yang tiba-tiba baik dan tiba-tiba berubah cuek. "Mari makan sendiri Zea, menangis juga butuh energi," ucapnya menghibur diri, Zea lalu mengambil lauk pauk ke dalam piringnya. Namun saat dia akan memasukan sendok ke dalam mulut tiba-tiba Sam menahannya.
"Jangan makan itu," teriaknya dari tangga, pria itu lalu berlari mengahmpiri Zea dan melepas paksa sendok dari tangan istrinya.
Zea berdiri dan menatap Sam kesal. "Uncle apa-apaan sih? Kalau uncle tidak mau makan ya terserah, tapi Zea mau makan. Zea lapar!" ujar Zea dengan suara meninggi, orang lapar memang gampang terpancing emosi.
"Kita mau kemana?" Zea baru bisa membuka mulutnya saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Makan malam," jawab Sam singkat.
"Tapi di rumah ada makanan. Sayang kalau tidak di makan!"
Sam meremas kemudinya, tiba-tiba saja pria itu menginjak rem secara mendadak dan membuang setir ke kiri. Suara gesekan ban dan aspal membuat Zea ketakutan, apalagi kini Sam tengah menatapnya seolah-olah akan menelannya hidup-hidup.
"Berhenti les memasak!" tegasnya memerintah.
"Kenapa?" tanya Zea tak mengerti, bukankah Sam sendiri yang selalu menghina Zea karena gadis itu tidak pandai memasak. Dan kenapa sekarang tiba-tiba Sam melarang Zea untuk berhenti belajar memasak.
"Tidak ada alasan. Ini perintah!"
"Tidak. Zea akan tetap belajar memasak!" tolak Zea karena Sam tidak bisa memberinya alasan yang masuk akal.
"Kau sudah berani melawan suamimu sekarang," Sam membentak Zea membuat gadis itu terperanjat.
"Suami? Haha," Zea tertawa hambar, dia lalu memberanikan diri untuk membalas tatapan suaminya. "Kenapa uncle selalu menyalah gunakan status uncle untuk melarangku melakukan apapun yang aku inginkan, sementara uncle sendiri tidak sadar jika sikap uncle tidak mencerminkan sikap seorang suami!"
Sam mengetatkan rahangnya, ucapan Zea benar-benar melukai harga dirinya meski semua yang di ucapkan Zea adalah sebuah kebenaran.
"Berhentilah mengaturku uncle, mari bersikap seperti beberapa hari yang lalu. Zea tidak akan memaksa uncle untuk belajar menerima Zea lagi. Mari jalani pernikahan konyol ini beberapa bulan lagi lalu bercerai!"
Bercerai? Sam sangat marah saat kata-kata itu keluar dari mulut Zea. Padahal sebelumnya dia yang mengharapkan perpisahan tersebut, tapi kenapa sekarang Sam enggan melepaskan Zea dan tidak rela Zea menjadi milik orang lain. Apakah Sam mulai cemburu atau Sam mulai menyukai Zea?
"Berhentilah bersikap baik padaku uncle, aku muak," Zea melepas sabuk pengaman, dia lalu membuka pintu mobil dan hendak keluar namun Sam menahannya, Sam menarik tangannya dengan kasar sehingga Zea kembali duduk di kursinya.
"Lepa....
Belum sempat Zea merampungkan ucapannya Sam sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibir. Bukan hanya sebuah kecupan, melainkan ciuman kasar penuh amarah. Zea mencoba berontak, namun tenaganya kalah dari Sam, gadis itu tak bisaa berbuat apapun selain menangis saat Sam menciumbya dengan kasar.
Sam melepaskan ciumannya saat menyadari jika Zea menangis, dia menyesal, dia sangat menyesal karena tak bisa menahan amarahnya. Sam lalu menarik tubuh Zea ke dalam pelukannya. "Maaf Ze, jangan pernah membuatku marah lagi!"
BERSAMBUNG...