
Zea mendengar keributan di depan kamarnya, dia sangat yakin suara yang dia dengar adalah suara Sam, tapi kenapa Sam tidak masuk dan menemuinya? Zea menatap Rama yang sedang memeriksa cairan infusnya, sepertinya ada yang mereka sembunyikan dari dirinya.
"Itu suara uncle kan Ram?" tanya Zea.
"Mana? Aku tidak mendengar suara apapun," kilah Rama, setelah memeriksa infus Zea pria itu duduk di sebelah ranjang Zea.
"Jangan bohongi aku Ram, ada apa sebenarnya?"
Rama menghela nafas berat, tak akan mudah baginya membohongi gadis keras kepala seperti Zea. "Ya, itu memang uncle," jawab Rama pada akhirnya, sebenarnya dia juga sempat ragu apakah itu suara Sam, tapi setelah mendengar suara Indhi yang mengeras Rama akhirnya yakin jika Sam memang ada di luar ruangan. Dia juga yakin Sam menemukan mereka karena mengikutinya, dia kurang hati-hati dan mengira Sam benar-benar kembali ke Indonesia.
"Kenapa tidak di suruh masuk, aku sangat merindukannya Ram?"
"Ze, tolong buka matamu sedikit saja. Mengertilah kenapa kami melakukan ini padamu. Kami melarang uncle Sam masuk karena ingin melindungimu. Kau tak ingat siapa yang membuat kau seperti ini? Seandainya uncle Sam tidak bermain gila dengan wanita itu, kau tidak akan terluka."
Rama adalah pria yang sangat jarang bicara panjang, lebar, mendengar saudara kembarnya menasehati lebih dari sepuluh kata membuat Zea merasa khawatir, dia yakin setelah ini Indhi pasti akan mengatakan hal yang sama, mereka pasti tidak akan membiarkan Sam menemuinya karena salah paham.
"Ram, tapi malam itu aku dengar sendiri kalau uncle sudah mencintaiku. Dia mengatakannya pada wanita itu sebelum mama datang. Itulah mengapa wanita itu mendorongku, dia marah karena uncle sudah mencintaiku Ram," bukan Zea namanya jika tidak membela Sam, gadis itu sangat naif dan gampang sekali luluh hanya dengan kata-kata manis yang keluar dari mulut Sam.
"Kau yakin dia mencintaimu? Aku rasa tidak, aku yakin itu hanya alasan uncle agar wanita itu menjauh darinya," tutur Rama, selain jarang bicara, Rama juga terkenal dengan mulut pedasnya.
"Kau sangat jahat Ram!"
"Dengar Ze. Mama sangat marah sekarang, aku yakin dia tidak akan mengizinkan uncle menemui mu meski kau memohon dan menangis. Bukankah ini kesempatan yang bagus untukmu, kita lihat sejauh apa Sam berusaha membujuk mama, dengan begitu kau bisa yakin apakah dia mencintaimu atau hanya merasa bersalah kepadamu!"
Zea tak bisa menjawab lagi, ucapan Rama membuatnya kehilangan kepercayaan diri lagi. Dia kembali meragukan ucapan Sam. Di tengah keraguannya, tiba-tiba kedua orang tua nya kembali masuk ke dalam kamarnya. Zea dapat melihat kemarahan di wajah kedua orang tuanya. Jika Zea bersikeras menemui Sam saat ini, dia yakin akan semakin membuat kedua orang tuanya membenci Sam.
Mungkin apa yang di katakan Rama benar, Zea ingin tau sejauh mana Sam berjuang untuk menemuinya. Zea ingin tau apakah benar Sam mencintainya atau hanya omong kosong belaka.
.
.
Seminggu sudah Zea di rawat di rumah sakit, kondisinya semakin membaik meski dia belum di izinkan turun dari ranjang. Dan selama itu pula Sam tak pernah meningalkan rumah sakit, dia menunggu di depan kamar perawatan Zea meski kedua mertuanya masih melarangnya untuk masuk.
Saat kedua orang tuanya pergi untuk beristirahat, Zea meminta bantuan Rama untuk menemui Sam sebentar, meski awalnya Rama menolak, namun akhirnya pemuda itu mengizinkan Zea menemui suaminya, dia membantu Zea duduk di kursi roda dan mendorongnya keluar dari kamar.
Zea sendiri begitu terkejut melihat kondisi Sam yang sangat berantakan, pria itu terlihat kurus dengan lingkar hitam di bawah matanya, bahkan kumis dan jambang nya dia biarkan tumbuh begitu saja. Zea sangat tidak tega dan ingin memeluk suaminya.
"Ze, kau baik-baik saja kan? Bagaimana kondisi bayi kita? Kenapa kau tidak memberi tahu kabar bahagia ini lebih awal Ze," tanya Sam seraya menatap Zea dengan wajah berkaca-kaca, hatinya teriris melihat wajah Zea semakin tirus dan masih terlihat pucat.
"Tolong pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu lagi," ucap Zea sembari menahan air matanya, sangat sulit baginya mengucapkan kalimat itu, namun dia juga tak ingin tersakiti lagi, dia hanya ingin memastikan apakah benar Sam mencintainya.
"A-Apa maksudmu Ze?" tanya Sam dengan bibir bergetar.
"Aku lelah menjalani semua ini. Aku melepaskanmu, pergilah dan cari kebahagiaanmu!" Zea tak berani menatap wajah Sam, dia yakin akan menangis atau bahkan memeluksa saat melihat wajah sang suami.
"Jangan katakan itu Ze. Maafkan aku sekali lagi, aku baru menyadarinya jika aku mencintaimu Ze. Kebahagiaanku bersama dirimu. Beri aku kesempatan sekali lagi, mari kita mulai dari awal bersama-sama!"
"Tidak, aku sudah lelah dan aku ingin menyerah. Tolong pergi dari sini karena aku tidak ingin melihatmu lagi! Ram, ayo kita masuk!"
Rama memutar kursi roda Zea dan mendorongnya masuk ke dalam kamarnya, sementara itu Sam masih duduk mamatung di lantai, dia tak percaya jika Zea mengusirnya. Rasanya begitu menyakitkan, jadi seperti inikah yang dulu Zea rasakan saat mendapatkan penolakan darinya. Sam tersadar apa yang dia lakukan pada Zea sangat lah keterlaluan. Dia pantas mendapatkan itu semua.
Tak berselang lama Rama kembali keluar, pemuda itu membantu Sam berdiri dan membawanya duduk di kursi tunggu.
"Kembalilah ke Indonesia, beri Zea waktu untuk memikirkan semuanya. Renungkan baik-baik, apakah perasaan yang uncle rasakan benar-benar cinta atau sebatas rasa kasihan!"
Dan pada akhirnya Sam menuruti keinginan Zea untuk tidak mengganggunya sementara waktu, pria itu memutuskan kembali ke Indonesia dan merenungi semua kesalahannya. Meski dia menuruti keinginan Zea namun dia belum menyerah, dia hanya mengikuti saran Rama, memberikan waktu bagi Zea untuk memikirkan semuanya.
Setibanya di Indonesia, Sam kembali megajar di kampus setelah beberapa hari mengajukan cuti. Hari-hari nya dia lewati dengan kehampaan, dia merasa hatinya kosong dan hidupnya sama sekali tak berwarna.
Sam seperti sedang menjalani hukuman mati yang di berikan Zea padanya. Pria itu memilih menyibukan diri agar tak terlalu merindukan Zea. Pagi hingga sore hari dia akan menghabiskan waktunya di kampus, sore hingga malam hari dia berada di restoran, dia enggan pulang, karena bayangan Zea selalu ada di mana-mana, di setiap sudut rumahnya dia selalu melihat Zea.
Dia benar-benar tersiksa, namun dia memutuskan menjalani kuhuman dari istrinya. Dia pantas mendapatkannya.
Namun, sampai kapan Zea akan menghukumnya seperti ini? Sampai kapan dia hidup dalam sebuah penyesalan?
Entah, jawabannya hanya Zea yang tau. Kapan gadis itu akan membuka hatinya lagi, kapan gadis itu akan menerima Sam lagi? Hanya saja, Sam selalu berdoa agar Zea memberikan satu kesempatan lagi. Dia berjanji akan mencintai dan membahagiakan Zea jika kesempatan itu akhirnya datang.
BERSAMBUNG...