
Lima tahun kemudian...
Nick dan Nicho tumbuh menjadi bocah laki-laki yang super aktiv, bahkan Zea sampai kewalahan merawat dua bocah kembar yang kini sudah mulai sekolah. Untung saja Indhi sudah tidak bekerja di klinik sehingga dia bisa membantu merawat cucu-cucunya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, selama lima tahun terakhir Sam belajar bersama ayah mertuanya sebelum dia di resmikan menjadi pemimpin rumah sakit yang baru. Sam sebenarnya hampir menyerah, namun jika dia menyerah maka Zea yang akan menggantikannya, dengan begitu anak-anak mereka akan terlantar karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Karena hal itulah Sam bertahan sejauh ini dan sebulan lagi dia akan di lantik menjadi pimpinan baru menggantikan ayah mertuanya.
Karena kesibukan Sam dan keaktivan kedua anak kembarnya, Sam dan Zea masih tinggal bersama kedua orang tua mereka. Sam sama sekali tak keberatan karena dia juga tidak tega melihat Zea merawat anak-anak sendirian jika mereka memilih tinggal di rumah mereka.
"Momy hari ini aku ingin di antar oleh dady!" ucap Nicho dengan bibir menggerutu, pasalnya Sam memang belum pernah mengantar anak-anak ke sekolah karena kesibukannya.
"Nicho you know dad is busy right? Kau tidak boleh menyusahkan dady!" sahut Nick layaknya orang biasa, meski jarak lahir mereka hanya sekitar lima menit, namun Nick menjelma menjadi seorang kakak yang begitu dewasa, berbeda dengan Nicho yang manja.
"Nick, berhentilah mengoceh dalam bahasa asing!" protes Nicho kesal, pasalnya Nick lebih fasih dalam berbahasa asing, Nicho selalu kesal saat mereka sedang berbincang, menurutnya Nick membuat kepalanya pusing.
"Stupid!" gumam Nick dengan santai.
"Mom lihatlah, Nick mengataiku bodoh!" adu Nicho pada Zea, sementara itu Zea dan yang lainnya hanya terkekeh melihat pertikaian dua kakak beradik itu yang hampir terjadi setiap pagi.
"I'm done. Come on mom, let's go to school now!" Nick menghabiskan segelas susuya, dia lalu berdiri dan merapikan seragam sekolahnya, terkadang Zea merasa Nick dewasa sebelum waktunya, bocah kecil itu bahkan menolak di mandikan semenjak berusia empat tahun.
"Makananku belum selesai Nick!" lagi-lagi Nicho memprotes kakaknya.
"Siput!"
"Tidak boleh begitu Nick, tunggu Nicho sebentar lagi. Oke!" ucap Zea mencoba melerai perdebatan kedua putranya.
"Nick, Nicho, dady minta maaf karena dady tidak punya waktu mengantar kalian ke sekolah. Tapi dady janji, saat libur sekolah nanti kita akan bermain ke taman hiburan. Apa kalian setuju!"
"No dad, aku lebih suka ke perpustakaan!" tolak Nick dengan tegas.
"Perpustakaan itu membosankan Nick, aku maunya ke taman hiburan!"
"Itulah alasannya kau menjadi bodoh Nicho, kau lebih suka bermain dari pada belajar!!"
"Oh come on boy, kita akan ke taman hiburan dan setelahnya kita ke perpustakaan. Bagaimana, adil kan?" sela Sam ambil tersenyum melihat tingkah dua putranya.
"Okey," Nicho segera menyetujuinya, namun Nick hanya diam karena dia tak telalu suka taman hiburan.
"Bagaimana denganmu Nick?" tanya Sam.
Nick menghela nafasnya, bocak cilik itu melirik saudara kembarnya sekilas dan mengangguk setuju.
"Yey, kita ke taman hiburan," Nicho bersorak senang, namun detik berikutnya dia diam karena mendapat lirikan tajam dan kakaknya.
"Ayo cepat makannya, kita bisa telat!"
Semua orang tertawa melihat tingkah Nick dan Nicho yang menggemaskan. Meski Nick terkesan tegas namun dia tetap peduli pada adiknya, melihat sang adik ingin sekali ke taman hiburan Nick terpaksa setuju meski dia lebih suka bermain di tempat-tempat yang tak terlalu ramai.
BERSAMBUNG...
Slow up gays, othor masih bedrest nih
Untuk kalian, jaga kesehatan selalu ya❤️❤️❤️