Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Kelas memasak



Pagi-pagi sekali, Sam keluar dari kamar Zea, sejak semalam dia memang tidak bisa tidur karena terus memikirkan Fekisya. Karena terlalu khawarir, Sam memutuskan untuk menemui Felisya pagi ini. Sam berjalan dengan sangat pelan, berharap tidak ada yang melihatnya keluar dari rumah mertuanya.


"Mau kemana kamu?"


Langkah Sam terhenti, pria itu barbalik bersamaan dengan lampu yang menyala. Sam panik saat melihat Indhi berdiri di hadapannya dengan membawa pisau di tangan dan mengarah kepadanya.


"Ma," pekik Sam tertahan.


Menyadari wajah panik menantunya, Indhi segera menarik pisaunya. Sebenarnya dia sedang memasak di dapur dan tak sengaja melihat bayangan Sam yang dia kira maling.


"Mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Indhi penuh selidik.


"Itu ma, anu....."


"Uncle mana pembalutnya, Zea sudah risih," ucap Zea, gadis itu berdiri di tengah tangga.


"Ah ya pembalut ma. Sam mau membeli pembalut untuk Zea," jawab Sam.


"Ze, mama kan juga punya. Ngapain kamu nyuruh Sam segala," Indhi berujar seraya menatap putri kesayangannya.


"Zea pikir mama belum bangun."


"Tunggu di sini, mama ambilkan sebentar. Sam tidur lagi saja, nanti Zea bangunin kalau sarapan sudah siap!"


"Baik ma."


Sam kembali naik ke kamar Zea, saat melewati istrinya Sam menoleh sejenak dan Zea malah mengejeknya, gadis itu menjulurkan lidahnya dan tertawa meski tak bersuara.


Sam benar-benar kesal, sejak semalam Zea berhasil menahannya dan dia tidak bisa melawan gadis itu. Sam kembali ke kamar Zea dengan wajah murung, dia kembali menghubungi Felisya namun wanita itu tidak menjawab panggilannya, pesannya pun tidak ada yang di balas.


Sam menoleh dan menatap sengit ke arah istrinya, sementara yang di tatap dengan santainya berjalan menghampiri Sam seraya memutar bungkusan pembalut di tangannya.


"Sabar uncle, setelah sarapan uncle boleh menemui bu Feli sepuasnya," sindir Zea dengan senyum di wajahnya. "Tapi ingat satu hal uncle, temui dia secara diam-diam. Bisa repot kalau ada yang melihat uncle bersama wanita lain," imbuh Zea dengan tatapan mengejek.


Sam hanya bisa diam dan menahan kekesalannya, Zea benar-benar menunjukan sisi lain pada dirinya, sisi yang sama sekali tak Sam kenal. Namun Sam juga bersyukur karena dia tak perlu terlalu merasa bersalah kepada istrinya


Setelah sarapan, Sam dan Zea pamit untuk pulang. Selama perjalanan pulang Zea hanya diam dan sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia melirik istrinya, meski hanya sedikit, namun Sam merasa penasaran dengan siapa Zea berkirim pesan karena wajah gadis itu tampak begitu serius.


Tak terasa mereka sudah tiba, Sam memarkirkan mobilnya di depan rumah mereka.


"Ze, aku per..."


"Ya, aku tau. Selamat bersenang-senang uncle," potong Zea dengan cepat, gadis itu lalu keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Ada apa dengan dia, tidak biasanya dia cuek begitu," pikir Sam, namun dia segera menepis rasa penasarannya dan kembali mengemudikan mobilnya, Sam pergi untuk menemui Felisya.


Seperti dugaannya, Sam benar-benar pergi ke rumah Felisya. Tak ingin melihat kebersamaan mereka, Zea memilih pergi ke tempat kursusnya. Ya, mulai hari ini dia mengikuti kelas memasak, meski dia tau pernikahannya bersama Sam hanya tersisa sepuluh bulan, namun Zea akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Zea akan belajar menjadi istri yang baik untuk suami yang tak mencintainya.


Zea sudah berada di dalam ruangan yang akan di gunakan sebagai tempat belajar memasaknya, ada beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu. Beberapa menit kemudia, seorang pria masuk ke dalam ruangan, sepertinya pria itu chef yang akan mengajari Zea memasak.


"Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Daniel, saya chef pengganti yang akan mengajari kalian dasar-dasar memasak. Apa kalian siap?" ucap pria itu memperkenalkan namanya.


Daniel, tunggu sebentar, sepertinya Zea tak asing dengan nama itu?


Zea yang tadinya hanya menunduk perlahan mengangkat kepalanya karena penasaran dengan pria bernama Daniel itu. Zea menatap Daniel dengan seksama, sementara sang pria yang di tatap sadar jika Zea sedang memperhatikannya, pria itu juga membalas tatapan Zea hingga kedua mata mereka saling bertemu.


Zea segera membuang wajahnya karena tertangkap basah menatap guru nya. Dia salah tingkah, apalagi tatapan Daniel begitu dalam.


"Pertama kita akan belajar bagaimana cara mengupas dan memotong bawang- bawangan, di depan kalian ada tiga jenis bawang, bawang merah, bawang putih dan bawang bombay. Sebelum saya mengajari cara mengupasnya, saya ingin melihat bagaimana cara kalian mengupas bawang tersebut!"


Zea sedikit panik, melihat orang mengupas bawang saja dia tidak pernah, apalagi dia harus mengupasnya sendiri. Tapi karena Zea memiliki tekad yang kuat untuk belajar, gadis itu akan berusaha semaksimal mungkin. Zea melirik teman sekelasnya, dia lalu ikut meraih pisau dan bawang merah. Zea berniat memotong bagian pangkal, tapi nyatanya malah tangannya yang terpotong.


"Auw," pekik Zea, gadis itu menjatuhkan pisaunya. Dia meringis kesakitan dan mulai panik melihat tangannya yang berdarah. "Bagaimana ini, aku tidak perlu transfusi darah kan?" gumam Zea seraya membungkus lukanya dengan tisu.


Pengawal Zea yang melihat Zea terluka segera masuk ke dalam kelas dan membuat semua orang terkejut, mereka menganggap Zea gadis aneh. Hanya tergores pisau saja sudah bikin heboh.


"Nona, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang," ucap salah satu pengawalnya dengan wajah panik. Bisa habis dia di marahin Ega jika pria itu tau putrinya terluka.


"Tidak perlu. lukanya tidak dalam kok," tolak Zea sambil menahan malu,.pasalnya kini dia menjadi pusat perhatian.


"Bagaimana kalau darahnya terus keluar nona. Lebih baik kita ke rumah sakit, saya khawatir!"


"Luka gores tidak akan membuat orang meninggal. Kalian sepertinya berlebihan," sahut Daniel yang sudah berdiri di hadapan Zea.


"Kami tidak berlebihan, kami hanya sedang menjaga keselamatan nona kami," jawab pengawal Zea dengan wajah kesal.


"Tapi nona kalian baik-baik saja. Hanya sediki darah yang keluar tidak membuatnya kehabisan darah," balas Daniel, pria itu melirik Zea lalu menarik tangan Zea dan membilasnya dengan air mengalir. Tak sesuai dugaan Daniel, luka Zea rupanya semakin dalam dan darahnya masih tetap mengalir keluar. Daniel menatap Zea sekilas, wajah gadis itu sudah memucat.


"Darahnya tidak mau berhenti. Cepat bawa nona ke rumah sakit!"


Tanpa persetujuan Zea, pengawalnya membopong tubuhnya dan berlari keluar menuju mobil mereka. Dengan cepat, supir dan pengawalnya membawa Zea ke rumah sakit.


Sementara itu Daniel hanya bisa tersenyum melihat kekonyolan yang baru saja dia lihat. Seorang tergores pisau dan di bawa ke rumah sakit. Oh ayolah, kalian tidak akan mati hanya karena goresan di tangan.


"Gadis lemah," batin Daniel. Saat akan kembali ke mejanya, tak sengaja dia melihat tas Zea tertinggal di kolong mejanya. Daniel mengambil tas tersebut dan membawanya. Mungkin dia akan mengembalikannya nanti atau mungkin salah satu pengawal Zea akan datang mengambilnya.


BERSAMBUNG...